Sabtu, 15 Juli 2017

TENTANG CINTA


Saya mulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan “saya tidak pernah merasa pernah atau sedang jatuh cinta atau mencintai seorang perempuan sepanjang saya hidup sampai saat ini”. Sebelum diprotes karena kewajiban mencintai orang tua, hal ini dalam konteks hubungan percintaan, tentu saja. Sebab durhaka namanya jika tidak mencintai ibunda sendiri. Aneh? Memang. Skeptis? Iya. Jelas. Tapi memang begitulah keadaannya. Ketika SD dan SMA dulu, saya memang pernah mengalami gejolak masa muda bernama pacaran dengan beberapa perempuan. Memang bukan untuk dibanggakan juga, namun saya bukan tipe orang yang mau membuang masa lalu hanya karena hal tersebut dipandang buruk. Oke fokus kembali ke topik. Saya memang pernah berpacaran, setelahnya juga mempunyai hubungan cukup dekat dengan satu atau beberapa perempuan, meskipun tidak sampai berstatus pacaran. Bahkan saya juga mengakui ada seseorang yang semenjak SMA sudah saya kagumi dan menarik hati sampai saat ini. Namun apakah saya jatuh cinta kepadanya? Saya cukup yakin untuk mengatakan tidak, atau mungkin, belum.

Saya lebih suka menggunakan kata “suka”, “nyaman” atau “tertarik” kepada seseorang perempuan yang sedang dekat atau saya pernah dekati, bahkan selama berpacaran dulu, cukup jarang saya menggunakan kata “cinta” dan “sayang” selama menjalin hubungan dahulu (dear mantan, koreksi jika saya salah). Karena menurut saya, definisi tentang cinta dan rasa sayang tidak sesederhana itu. Bagi saya, cinta adalah sebuah perasaan yang sama sekali tidak membutuhkan alasan, takkan hilang karena perubahan dari sesuatu yang kita cintai, dan membuat kita siap mengorbankan apapun demi hal yang kita cintai. Ya, apapun.

 Saya menganalogikan definisi cinta tersebut dari kewajiban setiap muslim untuk mecintai Allah sebagai Rabb kita, Muhammad sebagai Rasul-Nya, dan Islam sebagai agama kita. Mencintai Allah, Rasul-Nya dan Islam sebagai konsekuensi keimanan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya sama sekali tidak membutuhkan alasan (ini bisa diperdebatkan, namun saya berpendapat bahwa ini hidayah, dan hidayah mutlak dari Allah, meskipun setiap penyebab atau jalan hidayah memiliki alasan), dan mencintai Allah, RasulNya dan Islam akan membuat kita (seharusnya) siap mengorbankan apapun demi cinta kita kepada Allah, RasulNya dan Islam.

Terlalu berat dan filosofis? Haha oke akan saya berikan analogi yang lebih ringan. Saya ngefans dan sampai pada tahap bahwa saya mencintai sebuah klub bola bernama Internazionale Milano FC atau biasa disebut Inter Milan. Ya, untuk yang satu ini saya tidak ragu untuk mengatakan hal tersebut. Sampai saat ini, saya tidak pernah tahu alasan mengapa saya bisa jatuh cinta terhadap Inter Milan. Padahal, masih banyak klub bola yang lebih terkenal dan lebih berprestasi dibandingkan Inter Milan. Bahkan saat klub ini sedang dalam masa-masa medioker seperti sekarang, saya tidak pernah terpikir untuk mengubah cinta saya. Tertarik dengan Real Madrid, Barcelona, Manchester City, Manchester United dan Bayern Munich, mungkin. Namun, tetap saja kehebatan klub sepak bola lain tidak akan mengubah jawaban saya ketika ditanya apa klub sepak bola favorit saya.

Bagi saya, cinta adalah senyawa misteri di dalam hati. Kita tidak bisa memaksa bahkan diri sendiri untuk mencintai seseorang atau sesuatu, sama halnya dengan kita tidak bisa memaksa siapapun untuk mencintai kita. Cinta bisa tiba-tiba hadir, tanpa peringatan apapun, tanpa tanda-tanda fisik yang bisa kita sadari. Menurut saya, ketika kita mempunyai alasan, artinya kita belum benar-benar mencintai, baru sebatas tertarik atau suka. Begitu pula ketika kita berubah karena sesuatu tersebut berubah, atau kita tidak cukup punya keyakinan untuk berjuang demi sesuatu tersebut.

Mungkin banyak yang akan berkata, saya terlalu skeptis, atau memang pada dasarnya kurang atau tidak peka, atau bahkan terlalu idealis. Namun bagi saya, cinta itu suci dan bukan sesuatu yang mudah diobral dalam kata-kata. Apakah suatu saat saya akan menemukan seseorang perempuan yang saya cintai? Insya Allah, tentu saja. Sebab, menikah merupakan Sunnah Rasulullah SAW yang wajib diikuti. Jikalau tidak menikahi perempuan yang kita cintai, kita wajib (berusaha) mencintai perempuan yang kita nikahi. Perempuan yang saya yakin bahwa saya mencintainya, dan diapun mencintai saya (atau setidaknya, berusaha haha). Perempuan yang bisa membuat saya membuang semua sikap skeptis saya. Perempuan yang bisa sabar dengan semua kekurangan saya dan menerima saya apa adanya, dan begitu pula sebaliknya saya kepadanya. Sampai saat dimana saya menemukan seseorang seperti itu, maka saya mencukupkan diri dengan mencintai ibunda dan adik-adik saya.

Fauzi Nu’man Albani, Yogyakarta, 2017.

Minggu, 11 September 2016

EKSKLUSIF ITU PREMIUM!!

written by : Azka Hasyami

            Sering rasanya kita mendengar satu kata ketika kita diminta mendeskripsikan tentang Organisasi Islam, Rohis, Aktivis Dakwah, dan sejenisnya ; eksklusif. Sebuah cap jikalau tak ingin disebut tuduhan yang terlanjur melekat –atau sengaja dilekatkan mereka yang tak ingin Islam berkembang pesat- menjadi sebuah stigma terhadap identitas diatas. hal tersebut yang kemudian menyebabkan ada dua kutub ekstrim dalam menyikapi stigma diatas, yaitu yang pertama memilih untuk “benar-benar eksklusif” sampai level ekstrim dengan cara berpikir “toh udah dicap eksklusif juga, yaudah sekalian aja” dan yang kedua adalah berusaha mencairkan sampai kehilangan “identitas” dan abai terhadap hal-hal yang bersifat “pokok” yang seharusnya kita pegang teguh seperti idealism dan aqidah Islam (bagi yang muslim). Namun sebelumnya, ada sebuah pertanyaan menarik, apakah “eksklusif” itu salah?

            Dalam sebuah diskusi menarik ketika saya dan beberapa rekan dari BIMO (Biro Media dan Opini) Forsalamm UGM mengadakan silaturahim tokoh dengan Pak Yusuf Maulana kemarin, terlontar sebuah pertanyaan yang saya pribadi berpikir banyak menjadi pertanyaan umumnya lembaga—embaga yang terlanjur tercap eksklusif tersebut “bagaimana agar organisasi (Islam) yang kita ampu bisa terlepas dari cap eksklusif?”. Pak Yusuf Maulana menjawab dengan sebuah kalimat yang membekas untuk saya “justru eksklusif tu premium!!” (red : ini maksudnya bukan salah satu tipe bensin yak :v ). Lanjutnya, Pak Yusuf Maulana melempar sebuah analogi bagus, apakah yang berjenggot dan bercelana cingkrang, atau perempuan yang berjilbab lebar itu pasti eksklusif? Apakah yang tidak seperti itu, yang mengaku toleran, yang mendapuk diri inklusif dan merangkul semua kalangan itu pasti tidak eksklusif? atau dalam contoh ekstrim, apakah mereka yang berpakaian serba ketat dan terbuka itu lebih tidak eksklusif dibandingkan dengan mereka yang bercadar?

            “eksklusif itu soal cara berpikir, bukan soal identitas dan hal dzahir yang kita kenakan” lanjut beliau. Seorang perempuan bercadar yang menghargai perbedaan pandangan dan pendapat, dan terbuka dengan berbagai wawasan dan pengetahuan, justru lebih tidak eksklusif atau lebih inkulsif dibandingkan dengan perempua berpakaian terbuka yang keukeuh dengan satu cara berpikir bahwa yang bercadar itu pasti kolot, atau dalam level eksktrim dicap teroris. Seorang lelaki yang berjenggot dan bercelana cingkrang yang mudah bergaul dan ringan tangannya membantu orang lain bisa jadi lebih inklusif dibandingkan dengan seorang lelaki dengan tampilan stylish anak muda namun berjarak dengan lingkungan sekitarnya.

            Lagipula, sebenarnya jika kita mau objektif dan adil, setiap dari kita pasti memiliki tingkat eksklusivitas masing-masing. Terkadang mereka yang tercap eksklusif sebenarnya bukan tidak mau membaur, tapi dari kita yang terlanjur mengcap yang kemudian membuat jarak dengan mereka yang kita cap eksklusif. “ah gamau ah, saya mah apa belum sesholih-sesholihah mereka”, “hati-hati dengan mereka, mereka itu w***bi, teloris, ga toleran, blab la bla” dan pandangan sinis terkait identitas mereka terkadang justru menyulitkan mereka untuk berinteraksi secara normal dengan yang lain. Hal ini pun sering sekali dilakukan oleh mereka yang mengaku inklusif dan toleran. Padahal jika yang mengaku toleran dan inklusif tersebut bisa menerima perbedaan pandangan dalam hal pokok aqidah sekalipun dan berteman baik, kenapa juga tidak bisa toleran dengan mereka yang secara identitas berbeda namun sama dalam hal pokok aqidah? J. Jika beberapa dari kita mengkampanyekan untuk bertoleransi terhadap Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender, kenapa mereka yang mengkampanyekan hal tersebut tidak bisa bertoleran pula dengan mereka yang memutuskan bercadar dan berjilbab lebar, misalnya? Hal seperti inilah yang kemudian menjelaskan fenomena main klaim, saya toleran dan inklusif sementara yang itu tidak dan sejenisnya.

            Terakhir, beliau mengatakan bahwa sejatinya, “eksklusif” itu sebenarnya premium. Kita pasti akan hidup sebagai makhluk social yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita pasti “ekskusif” dalam artian setiap dari kita pasti memiliki hal unik yang berbeda baik dari karakter, cara hidup, pandangan hidup dan semacamnya. Hal inilah yang justru membuat kita berharga, selayaknya permata yang membedakan diri dengan bebatuan di pinggir jalan. Bukankah Alphard berbeda kelas dengan Avanza karena Alphard adalah mobil eksklusif? Bukankah Hotel Ambarukmo berbeda harga dengan hotel Talenta karena eksklusivitas tadi? Dalam konteks tertentu, kita perlu eksklusif soal hal-hal yang bersifat pokok, seperti aqidah dan idealisme. Namun kita juga harus terbuka secara pemikiran dan berwawasan luas. Karena ekslusif atau tidak itu soal cara berpikir, bukan soal identitas atau hal-hal dzahir yang kita kenakan. [azh]


FRAMING DAN AHOK

Written by : Azka Hasyami

            Sebuah diskusi di grup Whatsapp yang baru beberapa hari ini saya bergabung di dalamnya suatu malam menyajikan tema yang menarik, “apakah Ahok memang sehebat itu sehingga banyak yang pro dengan beliau? Apa alasannya?”. Diskusi yang sebenarnya bukan tema pokok minggu ini, yang berasal dari sebuah pertanyaan iseng salah satu peserta grup cukup membuat ramai grup di malam itu. Apalagi diskusi tersebut muncul setelah pengumuman dukungan beberapa partai terhadap calon gubernur-wakil gubernur yang akan berkompetisi di Pemilukada DKI pada tahun 2017 nanti.

            Secara sederhana, jawaban dari pertanyaan tersebut menurut saya adalah, karena Ahok –tim media beliau lebih tepatnya, baik tim media secara resmi, akun-akun media kreatif yang beraafiliasi atau sekeda mendukung beliau, maupun media mainstream yang memiliki kecenderungan pro terhadap beliau- cukup sukses memframing Ahok dalam bingkai realita yang cukup positif. Dalam cakupan yang lebih luas lagi, tim media Ahok berhasil menjawab kebutuhan dari 3 generasi sekaligus, yaitu generasi X, Y dan Z.

            Bicara tentang kinerja, Ahok memiliki kinerja yang bisa dikatakan baik. Hal yang sering ditonjolkan oleh media pro Ahok adalah bagaimana Ahok berhasil melakukan reformasi birokrasi di DKI Jakarta dimana proses birokrasi di Jakarta yang sebelumnya berbelit-belit menjadi lebih cepat dan mudah. Kemudian yang cukup membuat citra Ahok naik di kalangan internal pemerintahan adalah kebijakan kenaikan gaji bagi para pegawai di lingkup pemerintahan dengan alasan bahwa gaji yang rendahlah penyebab terjadinya korupsi yang merajalela selama ini.

            Namun, hal-hal positif tersebut juga dibarengi dengan beberapa perilaku dan perkataan Ahok yang cukup kontroversial. Perkataan Ahok yang bisa dikatakan kasar dan menggunakan bahasa yang tidak sopan –meskipun sebenarnya bagi keseharian masyarakat Jakarta Bahasa seperti itu biasa, namun tidak etis dikatakn seorang pejabat publik- dan juga beberapa pernyataan yang menjadi kebijakan yang cukup menyinggung beberapa elemen masyarakat baik untuk alasan kedaerahan maupun agama. Hal tersebut juga dibarengi dengan beberapa kasus kontroversial seperti permasalahan Bus TransJakarta, Rumah Sakit Sumber Waras dan Reklamasi Teluk Jakarta yang kemudian beralih fungsi menjadi apartemen dan hotel-hotel mahal.

            Disinilah kemudian kinerja tim media Ahokpatut dipuji. Bagaimana framing “positif” yang dibentuk mampu diterima oleh kebanyakan public baik di Jakarta maupun secara nasional. Seperti yang dijelaskan diatas, tim media Ahok mampu menjawab kebutuhan dari masing-asing generasi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sekarang ini adalah zaman dimana semua serba digital dan arus informasi mengalir begitu cepat. Namun dalam realitanya, proses penyerapan informasi dari masing-masing generasi itu berbeda. Generasi X yang notabene adalah generasi di umur-umur ideal (sekitar 30-45 tahun) memiliki kecenderungan mempercayai informasi yang diproduksi oleh media mainstream. Disinilah media mainstream pro Ahok berperan memproduksi dan mengkapitalisasi berita-berita Ahok yang bercitra positif dan “melindungi” isu-isu atau kenyataan kinerja Ahok yang memiliki citra negatif. Disinilah kemudian Ahok berhasil membentuk citra pemimpin muda ideal dan anti korupsi. Hal ini tampak dari bagaimana media mainstream pro Ahok menutupi berbagai kasus yang melanda Ahok dan banyak menggunakan sudut pandang yang tidak berimbang (benar menyediakan dua sudut pandang, namun porsi yang pro Ahok lebih banyak).

              Generasi Y (umur 20-30) yang memiliki karakter kritis, memiliki kecenderungan tinggi terhadap validitas opini dan data, dan (sebenarnya) memiliki apatisme tinggi terhadap politik pun berhasil dirangkul dengan baik oleh Ahok. Tim media Ahok berhasil membentuk citra bahwa beliau independen dan bebas dari kepentingan partai politik, yang dibentuk dengan cara keluar dari Partai Gerindra dan dengan cerdasnya mencalonkan kembali via jalur independen dan didukung dengan tim kampanye kreatif yang berasal dari masyarakat –meskipun pada akhirnya justru merapat dan maju melalui jalur partai politik- serta berhasil memperkuat dukungan terhadap beliau dengan memanfaatkan ketidaksukaan public terhadap partai politik dan DPR serta DPRD yang dianggap sebagai sarang korupsi. Hal ini diperkuat dengan kegagalan media dan kalangan anti Ahok (terutama dari kalangan Islamis) yang justru menggunakan isu-isu yang siatnya rasial SARA yang justru membantu membentuk stigma “terdzalimi” bagi Ahok.

            Tim media kreatif Ahok pun berhasil menarik Generasi Z yang memiliki karakter aktif menggunakan social media (ini juga menjadi karakter generasi Y sebenarnya) dimana tim media Ahok banyak menggunakan sarana-sarana social media seperti Youtube, Instagram, Facebook, dll. Materi kampanye yang dikeluarkan pun banyak yang bersifat creative campaign dengan menggunakan konten video, gambar, komik, dan sebagaimna yang memang sesuai dengan public need di generasi ini. Bukan berarti calon lain tidak menggunakan hal yang sama, namun kualitas konten yang dibuat tim media Ahok harus diakui masih lebih baik dibandingkan dengan calon lain.

            Pertarungan politik hari ini memang berbicara tentang pertarungan framing. Siapa yang bisa membentuk citra positif dan bisa menyembunyikan sisi negatifnya yang kemudian akan lebih banyak diterima publik. Sebab kita memang harus menyadari, bahwa tidak ada yang sempurna, apalagi jika kita berbicara di ranah politik. Harus kita akui hari ini, Ahok masih menjadi pemenangnya. [azh]

Rabu, 29 Juli 2015

#CurhatSantai #TapiGaje #KaloGaSukaAbaikanAja

Sebelum anda membaca, saya sampaikan bahwa kata-kata saya selanjutnya mungkin akan "kasar", jadi, kalo ga suka, saya minta maaf

Akhir-akhir ini, seiring dengan bertambah umurnya saya (dan juga bertambah umur akademik di kampus, ehm), saya sedikit banyak mulai bersentuhan dengan "realita". Saya benar-benar sampai pada titik refleksi kehidupan dimana kesimpulan yang saya dapat adalah, dunia tidak se"hitam-putih" yang saya pikirkan.

Dari semenjak SMA, saya udah banyak ikut berbagai macam organisasi yang tentunya selalu menanamkan nilai-nilai idealisme, terutama masalah yang berkaitan dengan keimanan dan moral. Tapi rasanya akhir-akhir ini saya ingin menertawakan diri sendiri.

Perjalanan hidup saya mengantarkan saya pada pertemuan berbagai macam warna manusia. Dulu, pemikiran saya sederhana, kamu jahat, atau ya kamu baik. Tapi semakin kesini hidup ini semakin unik. Saya bertemu dengan orang yang benar-benar baik tanpa pamrih, orang baik, orang "baik", orang baik yang terpaksa berbuat sesuatu yang jahat, orang jahat yang "terpaksa" berbuat baik, orang baik yang karena dijahatin akhirnya berbalik menjahati, orang baik yang dituduh jahat, orang jahat yang berkamuflase sebagai orang baik, orang jahat yang baik ke saya karena dekat dengan saya atau anggota keluarga saya, dan macam-macam lainnya.

Saya benar-benar menertawai diri saya sendiri. Beberapa kali saya ditolong oleh orang yang secara moral layak dianggap bajingan atau masuk kategori orang jahat. Betapa sering saya harus mendiamkan perbuatan yang sangat bertentangan dengan idealisme saya karena realita kehidupan "memaksa" saya untuk diam.

Ya saya tau itu salah, dan saya ga akan berkelit tentang itu, tapi semakin kesini saya seperti disadarkan tentang realita kehidupan pasca kampus dimana hidup itu seperti "pilihannya cuma apakah kamu dibunuh atau kamu membunuh, apakah kamu yang dicurangi atau kamu yang mencurangi". Memang tidak semua seperti itu. Yg benar-benar baik dan tulus juga ada. Namun banyak yang karena kebaikan dan ketulusannya (atau polos?) menjadi korban dari perbuatan orang licik dan jahat. Seakan-akan idealisme saya ditampar oleh sebuah kata "sudahkah kamu benar-benar mengenalku? (Baca : realita)"

Saya pernah berbincang dengan petugas Lapas di sebuah kota, dia berkata "ga semua yang ditahan disini benar-benar salah, ada yang cuma korban yang tidak tahu apa-apa, dan belum tentu yang bebas diluar sana itu benar dan baik".

Bahkan saya sampai pada sebuah kesimpulan, kadang kita butuh berteman dengan orang "jahat" untuk melindungi diri kita dari orang jahat yang lain, meskipun itu bertentangan dengan idealisme.

Kau bisa bilang saya terkena penyakit "post idealism syndrome" yang sering dituduh menghinggapi mantan aktivis kampus oleh junior-juniornya. Tak masalah. Ini hanya caraku membaca realita kehidupan hari ini.

Azka Hasyami
Tegal, diatas Bis tujuan Tegal-Margasari

Jumat, 12 Juni 2015

“TERORISME” MEDIA MASSA

“hati-hati ikut pengajian ini, nanti kamu jadi teroris, ekstrimis, fundamentalis…”
“jangan ikut kelompok itu, nanti kamu jadi Wahabi, khawarij, dll…”
“jangan ikut-ikutan aliran itu, itu ahlul bid’ah, ahlul thagut, bla bla bla..”
“jangan dekat-dekat sama dia, dia Syiah, liberal, blab la bla…”

            Sering mendengar kalimat seperti diatas? Ya, kalimat tersebut umum terdengar di telinga kita terutama setelah keran informasi terbuka begitu deras dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan tersebut ditandai dengan munculnya smartphone yang mempermudah kita mengakses internet dan maraknya penggunaan social media seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, Path, dan semacamnya. Namun, perkembangan teknologi yang demikian cepat tersebut nampaknya tidak diimbangi dengan kecepatan masyarakat dalam membangun logika berpikir yang logis, ilmiah, runut dan terstruktur. Budaya membaca yang lemah ditambah dengan kebiasaan alam bawah sadar untuk “bergosip ria” serta lemahnya filter diri terhadap derasnya informasi, membuat banyak dari masyarakat yang cepat percaya pada berita yang belum terbukti kebenarannya.
            Fakta ini kemudian tambah diperparah dengan media massa yang abai terhadap etika jurnalistik, baik media massa besar maupun media kecil-kecilan yang tumbuh bak jamur di musim hujan dengan mudahnya membuat website di internet. Informasi yang seharusnya ditampilkan secara utuh dan jernih dipaksa untuk dipotong, ditambahi, dikurangi, diberi bumbu, dan semacamnya hanya untuk kepentingan pemilik media, entah pendanaan, alasan ideologis, atau hanay sekedar media tersebut laris dibaca oleh masyarakat. Abainya media hari ini bisa dilihat dari banyaknya berita yang antara judul dan isinya tidak sesuai, menggunakan identitas anonym sekenanya tanpa bisa dipertanggungjawabkan, merekayasa sebuah data, fakta bahkan sebuah kejadian baik secara halus maupun terang-terangan, tidak cover both side atau berat sebelah, dan masih banyak lagi.
            Dampak dari hal-hal diatas sangat besar kaitannya dengan kedewasaan kita dalam mengelola informasi yang kita terima. Secara tidak sadar, media massa menuntun kita untuk membiasakan diri dengan tuduhan-tuduhan yang sifatnya subversif. Dengan dalih memberantas ancaman terhadap Negara, secara serampangan banyak media massa yang berhaluan sekuler memberi label “teroris” kepada Islam dan aktivis muslim khusunya. Demikian pula sebaliknya, menghadapi perlakuan seperti itu, banyak media “Islam” yang secara serampangan pula menggunakan pola subversif kepada yang tidak sependapat dengan bahasa yang keras seperti “kafir”,”thagut”,”bid’ah”, dan ungkapan lainnya yang sejatinya belum bisa diterima publik yang awam pengetahuan agamanya. Sehingga muncul sebuah konflik horizontal yang sebenarnya bisa dihindari antar media massa karena sensivitas isu terhadap Islam itu sendiri.
Membangun Budaya Membaca dan Berpikir, Mencegah Pola Berpikir Subversif
            Jika kita mau untuk berpikir lebih jauh, tuduhan-tuduhan subversif seperti itu sebenarnya bisa dicegah dengan membangun konstruksi berpikir yang logis dan ilmiah. hal ini bisa dimulai dengan membangun kebiasaan membaca, berpikir, berdiskusi dan menulis. Kita yang mempunyai nurani dan pikiran yang jernih akan berpikir “apakah benar mereka seperti apa yang dituduhkan? Bagaimana sih sebenarnya pola pikir mereka, benarkah seperti itu? Apa yang membangun pola berpikir mereka?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan mengantarkan kita pada pencarian asal atau dasar dari gagasan-gagasan dari mereka yang tertuduh secara subversif tersebut. Benarkah kelompok A teroris? Bacalah buku-buku atau tulisan yang menjadi kerangka berpikir mereka. apakah benar aliran B sesat? Baca, kenali, pahami. Tidak hanya dari satu sumber, namun dari berbagai macam sumber. Misal, untuk memahami pola berpikir kelompok A tentunya dimulai dengan tulisan-tulisan dan bacaan yang menyusun konstruksi berpikir kelompok A sebagai sumber primer. kemudian membaca pembandingnya. Tentunya kita juga harus memiliki metode berpikir yang logis dan ilmiah serta konsisten untuk menilai mana informasi yang benar.
Kebiasaan asal tuduh ini juga tumbuh dari budaya yang secara tidak sadar menjadi budaya bangsa kita yaitu selalu ingin sesuatu yang instan. Derasnya arus informasi membuat kita dengan mudah menelan mentah-mentah setiap berita yang kita baca dan dengar. Padahal, jika kita menelusuri fakta dan kenyataannya, tidak semua yang dituduhkan benar adanya. Penggunaan social media yang tidak tepat juga memunculkan budaya baru yang tidak baik yaitu fenomena Clicking Monkey, yaitu asal meng-share berita secara serampangan tanpa meneliti atau mengklarifikasi berita tersebut dan juga #GenerasiPembacaJudul yang hanya membaca judulnya saja tanpa melihat isi dari berita.
Menuju Masyarakat Sadar dan Cerdas Informasi

            Sejatinya, kemudahan kita dalam mengakses informasi bisa menjadi keuntungan dan nilai positif apabila kita bisa membangun konstruksi berpikir yang utuh, logis dan konsisten ditandai dengan kritisnya kita terhadap informasi yang datang dan kemampuan memfilter informasi dengan baik. Informasi menjadi pedang bermata dua, bisa menjadi senjata ampuh kala kita bisa mengelolanya dengan baik, namun bisa membunuh kita kala kita masih tersangkut dalam pola berpikir subversif dan tidak membangun budaya membaca dan berpikir. “Terorisme” Media Massa bisa disembuhkan dengan komitmen penuh media massa untuk mematuhi etika-etika jurnalistik, dan kesadaran kita dan kecerdasan kita dalam memahami media dan informasi. Kecerdasan mengelola informasi ini bisa juga kita jadikan sebagai ukuran seberapa meratakah pengetahuan dan ilmu yang ada di masyarakat? Sebarapa bermanfaatkah ilmu dan pengetahuan yang ada sehingga masyrakat menjadikan pola berpikir logis dan ilmiah menjadi karakter diri? Inilah yang menjadi PR bangsa kita, ditengah euphoria terbuka lebarnya akses informasi dan kebebasan berpendapat. Jangan sampai, kebebasan berpendapat memunculkan pola berpikir asal tuduh menuduh sehingga membuat kita sesama bangsa saling curiga. Tumbuhkan budaya membaca, diskusi dan menulis agar kita memiliki filter informasi yang baik. Terakhir, yang harus kita pahami adalah, kita bisa bersepakat atau tidak bersepakat atas sebuah gagasan, namun lawanlah dengan gagasan juga, bukan dengan tuduhan. Lawanlah ide dengan ide, bukan dengan adu fisik. Karena peradaban yang besar, lahir dari penghargaan yang baik terhadap ilmu dan gagasan. Tentunya kita ingin bangsa kita menjadi bangsa yang besar dan beradab juga bukan?

Azka Hasyami, Yogyakarta, 12 April 2015.

sudah dipublikasikan di https://melimove.wordpress.com/

SHOUKOKU NO ALTAIR BELAJAR POLITIK DARI KOMIK

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata “politik”? mungkin mayoritas dari kalian akan berkata “ah ribet!”,”politik itu rumit”, “politik itu penuh tipu daya” dan semacamnya. Namun bagaimana jika kita bisa belajar tentang politik, mengelola sebuah Negara, menyusun siasat cerdas, sekaligus mempelajari model sejarah dan budaya kerajaan besar di masa lalu dalam sebuah ilustrasi sederhana bernama komik? Mungkin itulah yang mendasari karya seorang komikus bernama Kotono Kato.
            Shoukoku No Altair[1] bercerita tentang seorang Pasha[2] termuda dalam sejarah Turkiye[3]  bernama Tughril Mahmud. Tujuan awal Mahmud menjadi Pasha agar dapat menciptakan kedamaian dan kemakmuran di Turkiye. Tujuan terseut dilatarbelakangi oleh masa lalunya dimana seluruh penduduk desanya habis terbunuh dalam suatu perang. Namun ternyata di awal menjadi Pasha, Mahmud langsung dihadapkan dengan persoalan politik yang pelik, yaitu tuduhan pembunuhan  terhadap Menteri Balt-Rhain[4] dan Pemberontakan di Kota Hisar dimana salah seorang teman baik Mahmud, menjadi tersangka kasus ini. Dengan idealisme yang dimiliki, Mahmud berhasil menyelesaikan semua konflik tersebut. Setelah ditelusuri, semua kejadian tersebut ternyata didalangi oleh Perdana Menteri Balt-Rhain Virginia Louis, yang kemudian menjadi musuh utama dalam cerita ini dengan kecerdasannya. Kejadian itulah mengawali perang besar yang sedang menanti dunia dan Mahmud tentunya.
            Komik ini diterbitkan oleh Level Comic, yang memiliki segmen pembaca Dewasa (yang artinya agak tidak direkomendasi untuk anak kecil) Komik ini menarik untuk dibaca, terutama remaja yang ingin melihat sisi lain dari sebuah konflik politik dan kekuasaan. Meskipun mengambil latar sejarah Perang Salib, Kotono Kato dengan cerdas menghindari isu sensitif terkait agama dan kepercayaan. Beliau menggunakan cara dengan mengganti kepercayaan yang ada di komik ini dengan kepercayaan terhadap alam, Misal Turkiye yang memiliki latar belakang Islam diubah menjadi kepercayaan terhadap dewa Air. Selain itu, Kato juga menggambarkan sosok seorang Tughril Mahmud yang mempunyai idealisme berpolitik yang harus berbenturan dengan realitas dunia politik di Divan[5] yang penuh intrik. Usianya yang masih muda kadang menjadikan Mahmud seperti “kekanak-kanakan”,”terlalu idealis dan melangit”,”awam dan tidak realistis” dan semacamnya yang jamak terjadi di perpolitikan negeri kita.
            Dirangkai menjadi sebuah cerita dengan alur menarik, Shoukoku No Altair tidak hanya menjadi sebuah komik yang menghibur namun juga kita dapat belajar bagaimana membuat sebuah rekayasa politik, pengambilan keputusan seorang pemimpin, geopolitik internasional, kepercayaan dan sebagainya. Meskipun memiliki sedikit kekurangan seperti gambar yang masih cenderung kurang begitu baik dan jadwal terbit yang belum teratur, komik ini sangat direkomendasi untukmu yang lebih suka membaca komik daripada buku-buku politik yang “berat” namun juga mendapatkan pengetahuan yang penting. Jadi, kata siapa belajar politik itu berat? Yuk belajar politik melalui komik!

Azka Hasyami
Yogyakarta, 06 Maret 2015
11.31 AM

sudah dipublikasikan di https://melimove.wordpress.com/


[1] versi Indonesia berjudul Altair : Tale of The Great War
[2] semacam anggota dewan dalam struktur pemerintahan Khilafah Ottoman
[3] nama pemerintahan Kekhilafahan Turki Ottoman dalam cerita ini
[4] nama pemerintahan Byzantium dalam cerita ini, kerajaan yang berseteru dengan Turkiye dan berambisi menginvasi Turkiye dan seluruh daratan
[5] nama lain Dewan di Turkiye

REFLEKSI KEBERAGAMAAN KITA HARI INI


          Menarik melihat timeline social media beberapa hari ini. Selain ghirah menyambut bulan suci Ramadhan, banyak dari kita diributkan dengan parade pernyataan-pernyataan multitafsir yang diucapkan oleh para pemimpin kita. Mulai dari masalah membaca Al Qur’an menggunakan langgam Jawa, buka-tutup tempat makan selama bulan Ramadhan, hingga masalah pemutaran bacaan tilawah Al Qur’an menggunakan kaset. Beberapa isu menjadi hal “baru” dan menjadi perdebatan ketika umat muslim di Indonesia sedang dalam momentum untuk bersatu ketika isu hari awal bulan Ramadhan akan sama antara dua pihak yang selama ini berbeda. Kenapa perdebatan ini membuat saya tertarik? Karena ada sebuah fenomena masyarakat Indonesia dalam menyikapi segala hal dalam urusan agama yang sering tidak disadari.

            Dulu, waktu awal menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas terkenal di Yogyakarta, saya  sering bertanya-tanya tentang sebuah fenomena keberagamaan di kampong halaman saya. Sudah menjadi sebuah hal yang jamak terlihat di sebuah wilayah yang kultur Nahdliyin (masyarakat yang menggunakan budaya Nahdlatul Ulama sebagai basis budaya dalam beragama) terutama yang ada di Jawa dalam setiap jeda antara adzan dan iqamah ada puji-pujian (biasanya tentang sifat-sifat Allah, asmaul husna, ajakan untuk sholat di masjid, sholawat, dll). Hal ini menjadi tidak biasa setiap pulang ke rumah karena saya yang besar di Jakarta dan kemudian pindah kuliah di Yogyakarta, dimana setiap jeda antara adzan dan iqamah selalu hening atau diisi dengan dzikir atau membaca Al Qur’an secara sihr (pelan suaranya), atau sholat sunnah qobliyah. Mungkin ini menjadi kultur yang ada di Yogyakarta yang lebih kuat budaya Muhammadiyahnya (atau Salafi di beberpa masjid dekat kampus). Karena ketidakbiasaan dan ketidakpahaman saya akan hal ini, terbersit pikiran bahwa ini adalah sesuatu yang salah (dulu memang masih awam dan belum tau ilmunya). Setelah saya menjadi santri di sebuah pesantren mahasiswa di daerah Seturan, saya kemudian mendapatkan penjelasan terkait hal tersebut. Bahwa budaya yang sudah terbentuk di masyarakat, selama itu tidak bertentangan dalam hal aqidah, walaupun tidak ada di zaman Rasulullah, sebenarnya bisa diterima sebagai budaya Islam dan bisa menjadi salah satu sarana dakwah kepada masyarakat awam. Bahkan diceritakan, bahwa ada salah satu Kiai di sebuah pesantren di Jawa Timur mengharamkan untuk puji-pujian di lingkungan pesantren kepada santri-santrinya, namun beliau sendiri melakukan puji-pujian ketika berdakwah ke kampung-kampung. Alasannya? Karena memang budaya dan tingkat pemahaman dari masyarakat memang masih membutuhkan hal tersebut. Dari hal tersebutlah saya mengambil kesimpulan, bahwa sejatinya Islam itu memberikan ruang yang sangat luas dan tidak saklek dalam hal budaya dan tradisi di masyarakat dalam tinjauan fiqh, dengan catatan tidak menyentuh hal-hal yang sifatnya aqidah dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an (contoh zina, khamr, dll).

            Menjadi menarik kemudian jika kita tarik dalam perdebatan beberapa hari ini. Misal terkait dengan pembacaan tilawah Al Qur’an dengan menggunakan kaset. Husnudzan saya, yang kemudian membudayakan ini punya niatan untuk membudayakan dan membiasakan orang untuk mendengarkan ayat-ayat suci Al Qur’an, ditengah sebuah fakta bahwa tidak semua masjid atau mushala punya qari atau pembaca Al Qur’an yang mumpuni. Artinya, ini sebuah produk budaya yang punya nilai kebaikan, dan hadir karena dianggap menjadi sebuah solusi dari permasalahan yang ada. Sebuah ikhtiar dakwah yang kemudian menjadi budaya di masyarakat sekitar kita. Sama halnya dengan puji-pujian diantara adzan dan iqamah. Namun kemudian menjadi pelik dan berujung pada perdebatan, ketika banyak yang kemudian mulai berbicara tanpa menempatkan permasalahan pada tempatnya. Hal ini kemudian menjadi fenomena yang tidak kita sadari menjadi refleksi keberagamaan kita.

Pertama, sangat sering kali kita berbicara tanpa mengetahui ilmunya. Perdebatan yang hadir sebenarnya bisa menjadi sebuah diskusi ilmu biasa jika kita mengetahui ilmu-ilmu agama untuk menelaah tentang hal tersebut. Ada Ushul Fiqh, Fiqh bermasyarakat, Fiqh Prioritas, dll. Hal ini bisa menjadi biasa jika sedari awal kita paham tentang kondisi dan situasi yang berbeda tentu akan punya perlakuan dan kebijakan yang berbeda pula. Penting juga untuk kita mengetahui hukum awal dari masing-masing masalah tersebut. Kita berdebat panjang tentang jumlah rakaat tarawih, padahal sedari awal hukum shalat tarawih itu Sunnah. Kita bertengkar untuk suatu urusan yang sebenarnya kita diperbolehkan berbeda untuk urusan tersebut. Yang cukup sering juga adalah perdebatan tentang toleransi beragama. Ketidakpahaan yang seringkali terjadi, Islam dan Muslim seringkali disalahkan tentang toleransi bahkan oleh sebagian umat muslim sendiri, padahal Islam sudah mempunyai batasan yang jelas terkait toleransi. Dan seringnya, ketidakpahaman dan ketidakmauan untuk mencari tahu menyebabkan kita mengambil kesimpulan sendiri yang kemudian menjadi kontroversi, yang sebenarnya sudah selesai dibahas dan tidak perlu menjadi masalah jika kita meluangkan sedikit waktu untuk mencari tahu. Sebab sejatinya, Islam sendiri punya metode konstruksi berpikir yang jelas yaitu ushul fiqh dan penjagaan periwayatan hadits.

            Kedua, sering kali kita mengambil sebuah keputusan atau pilihan dari sebuah permasalahan terutama terkait dengan agama bukan karena kita paham hukum dan permasalahannya, namun lebih karena egoisme atau kepentingan baik pribadi, kelompok maupun golongan. Contoh yang paling baru adalah, ketika adanya gerakan #AyoMondok. Gerakan ini sebenarnya baik dan bagus, yaitu mengajak masyarakat untuk kemudian kembali ke pesantren dalam menimba ilmu agama, namun kemudian menjadi kabur maknanya ketika sebagian oknum menggunakan kampanye tersebut untuk menjatuhkan gerakan atau kelompok lain yang tidak segolongan.

            Hal ini kemudian menjadi sebuah refleksi besar hari ini, terutama saat kita akan menyambut bulan Ramadhan. Sudahkah kita benar-benar “bersuci”? sudah benarkah niat kita dalam beribadah, beramal, dan berdakwah? Sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan apa yang digariskan? Sudah sejauh mana ilmu dan pemahaman kita terhadap agama yang kita anut sendiri? Jangan-jangan, selama ini kita sudah mengambil kesimpulan atas sebuah permasalahan tanpa mengetahui ilmunya?

Ilmu, sedemikian pentingnya hingga ayat pertama yang Allah turunkan bukanlah menyuruh kita untuk segera bertauhid, namun membaca, memahami, baru kemudian tunduk pada Allah dan aturan-aturanNya. Sedemikian pentingnya, sehingga dalam hadits dikatakan seorang yang berilmu lebih baik daripada seorang yang banyak ibadahnya namun tanpa ilmu. Sedemikian pentingnya sehingga perlu digariskan “al ilmu qobla amal”, berilmu sebelum beramal. Maka menjadi sebuah hal penting yang harus diprioritaskan terutama menyambut bulan suci Ramadhan ini, untuk kemudian mencari ilmu sebanyak-banyaknya terutama ilmu tentang Islam, agar kemudian kita tidak gagap dalam melihat, menganalisis dan mengambil pilihan atas fenomena-fenomena yang hadir di masyarakat. Agar kemudian kita tidak asal tolak dan asal terima pendapat yang berkeliaran. Mengutip pendapat ustadz di asrama “tempatkanlah ilmu diatas ilmu, bukan diatas kelompok” agar kita bisa objektif memandang sebuah permasalahan. Jadi, yuk jangan malas mencari ilmu tentang Islam!!

Azka Hasyami
Yogyakarta, 12 Juni 2015