Senin, 22 April 2013

#JanganBikinIslamJadiRibet


Di belahan bumi bagian barat sana, banyak orang-orang non-muslim yang mulai tersentuh hidayah dan memeluk agama Islam. Dan pertumbuhan muslim di Negara-negara barat mulai menampakkan diri layaknya gelombang. Dalam beberapa berita-berita yang saya baca pun banyak pengamat memperkirakan pada tahun sekian (contoh 2050) Islam akan menjadi agama mayoritas di eropa.

Namun yang saya herankan adalah, di Negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam, rasanya berstatus sebagai muslim menjadi kian ribet. Yang satu teriak “kafirr!!”, yang satu lagi teriak “thagut!!”, yang satu teriak “bid’ah!!” yang satu lagi teriak “wahabi!!”, dan yang saya herankan orang-orang yang berteriak tersebut adalah orang-orang yang “mengaku” aktivis dakwah”. Saya kemudian berpikir, emang dakwah itu kayak gini yak?.

Yang saya pahami adalah, dakwah itu mengajak kepada Islam dan seluruh “keindahan”nya, bukan menghakimi seseorang, apalagi sampai mengkafirkan seorang muslim (ada apa ini?).

Kepada yang suka mengkafirkan kadang saya ingin bertanya, emang rasulullah mengajarkan seperti itu ya? Itu dalilnya darimana? Padahal sama-sama kita ketahui, menuduh seorang muslim kafir itu suatu tuduhan serius, apalagi jika kata-kata tersebut keluar hanya karena berbeda “jalan”, ini kan aneh.

Dakwah rasulullah itu mengislamkan orang kafir, bukan mengkafirkan orang Islam. Maka kadang saya berpikir pula, kadang dakwah ini menjadi sesuatu yang tidak menarik bahkan menakutkan, bukan cuma karena orang sekuler dan musuh-musuh dakwah terus-terus mempropagandakan yang salah tentang islam, tapi dari kita sendiri sebagai aktivis dakwah gagal mendakwahkan Islam dengan cara yang benar. Maksud hati menyampaikan kebenaran Islam, tapi tidak didukung dengan cara menyampaikan kebenaran dengan benar. Padahal jika kita kembali kedalam makna dakwah itu sendiri, dakwah itu mengajak kepada Islam, bukan main hakim sendiri.

Padahal sudah jelas dalam hadits “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah SWT hanyalah semata-mata untuk menyempurnakan akhlak manusia” (HR Sa’ad, Bukhari, Baihaqi dari Abu Hurairah). Di Al-Qur’an pun disebutkan “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS An Nahl :125). Nah sekarang saya tanya, mengkafirkan Islam yang “cuma” ga sepaham dalam metode itu cara yang baik?.

Yang saya lihat, fenomena ini dikarenakan banyak orang menafsirkan Islam sebagai sistem hidup yang kaku, padahal dalam islam ada hal-hal yang bersifat rigid (tsawabit) ada yang bersifat fleksibel (mutaghayyirat). Yang bersifat rigid itu ga boleh ditawar-tawar lagi, semisal syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, menutup aurat, menjauhi riba dan zina, dll. Tapi islam pun fleksibel dalam hal-hal yang sifatnya metode atau cara, dan sayangnya justru banyak kita meributkan sesuatu yang sifatnya fleksibel ini (atau malah sebaliknya, mempermaikan yang rigid, ini biasanya kerjaannya JIL).

Maka coba telisik kembali, kebanyakan orang-orang barat mengikrarkan keislamannya justru karena akhlaq muslim disana begitu baik, selain juga karena Islam itu agama yang rasional, banyak peneliti yang memeluk Islam karena Islam berhasil membuktikan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di hidup ini secara Ilmiah.

Maka saya cukup beruntung ada di jamaah yang mengajarkan toleransi dalam perbedaan “cabang”. Salah satu prinsip yang kita pegang adalah “kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan mendustakan secara terang-terangan Al Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindkan kufur” (Ushul Isyrin no 20). Kecuali yang jelas menampakkan kekafirannya dan menyelewengkan ayat seperti JIL, syiah, ahmadiyah itu beda soal :3.

Saya malah kemudian penasaran sebagai mahasiswa statistika, coba di survey dan diamati lebih efektif mana dakwah dengan bahasa cinta, lewat kerja-kerja nyata dan berusaha sinergis antar gerakan dalam harmoni atau dakwah saling mengkafirkan? Dari situ bisa dilihat ko metode yang lebih efektif. Apalagi seperti kita ketahui masyarakat timur pada dasarnya cenderung kepada harmoni dan kedamaian, bukan pada perbedaan :) .
Maka bukankah lebih baik kita sama-sama saling menCINTAi dalam naungan yang sama yaitu ISLAM, sama-sama beKERJA demi kejayaan ISLAM, dan saling berHARMONI saling mengisi pos-pos umat yang tidak mungkin bisa kita kerjakan sendiri? Saling bahu membahu?.

 Bukankah mengatakan “kalo Salafi dizalimi kita bela! kalo HT dizalimi kita bela! kalo JT dizalimi kita bela! kalo NU dizalimi kita bela! kalo Muhammadiyah dizalimi kita bela! kalo Tarbiyah dizalimi kita bela!” lebih menenangkan hati daripada saling mengkafirkan sesama muslim? So #JanganBikinIslamJadiRibet :).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar