Kurang lebih 2 bulan lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi yang untuk kesekian kalinya
akan memilih orang-orang yang akan memimpin negeri ini. Pesta yang hadir 5
tahun sekali selalu menarik perhatian banyak orang karena disinilah optimisme
dan pesimisme bercampur menjadi satu; apakah nasib bangsa ini akan berubah
menjadi lebih baik, samasaja, atau malah ebih buruk?. Di tengah perjalanan
demokrasi kita yang sedang dalam proses pendewasaan di usianya yang menginjak
16 tahun semenjak reformasi digulirkan, transisi kepemimpinan di tahun 2014 ini
menghadapi situasi yang sangat dilematis ;puncak dari apatisme masyarakat terhadap pemerintah,
birokrasi, dan terhadap politik itu sendiri, namun disisi lain tidak bisa
dinafikkan bahwa “Demokrasi 5 Menit” ini juga akan
berpengaruh pada arah bangsa ini ke depannya.
Kenapa dilematis? Sebenarnya jika kita mau sedikit membaca dan menganalisis,
pemilu 2014 ini adalah momentum peralihan generasi. Jika kita melihat dari segi
usia, pemilu 2014 inilah saatnya generasi pasca reformasi mulai menggeliat
mengisi ruang-ruang publik. Artinya generasi dengan cara berpikir era Orde Baru
yang menitikberatkan pada model kepemimpinan kharismatik (yang sayangnya di
beberapa partai masih saja menggunakan pendekatan model ini) sudah saatnya
turun gunung dan digantikan dengan semangat dan jiwa muda dari para pengusung
reformasi yang lebih menitikberatkan pada kepemimpinan kolektif yang sesuai
dengan karakter demokrasi itu sendiri. Hal ini juga didorong oleh karakter
masyarakat yang oleh AnisMatta sebagai masyarakat gelombang ke-3dimana karakter
masyarakatnya mayoritas adalah kaum nativedemocracy yang lahir setelah
reformasi sehingga banyak yang tidak merasakan rezim totaliter dan cenderung
menikmati hidup dalam suasana demokrasi dan cenderung wellinformed. Namun, transisi
kepemimpinan ini akan sedikit terganggu dengan tingginya apatisme masyarakat
terhadap pemerintah, partai politik, bahkan terhadap politik itu sendiri. Ini
terkait dengan kinerja pemerintahan SBY selama 2 periode ini belum banyak
memberikan dampak positif bahkan semakin maraknya kasus korupsi yang dilakukan
baik oknum di pemerintahan, dewan perwakilan, maupun lembaga kehakiman.
Nampak bahwa apatisme politik ini sengaja ditumbuh suburkan baik oleh media,
pengamat politik, elit-elit partai politik, bahkan hingga di tataran obrolan
warung kopi. Di kampus, wacana-wacana yang mengemuka adalah “independen” dan
“netral” yang salah tafsir sehingga banyak mahasiswa yang notabene kaum intelek
dan rasional justru menjauhkan dirinya dari sesuatu bernama politik. Media juga
semakin memprovokasi dengan berita negatif terkait politisi tanpa mengedukasi
tentang bagaimana pencerdasan politik itu sendiri. Hei pernahkah kita mendengar
di berbagai media partai-partai mana saja yang termasuk juara korupsi ? atau pernahkah
kita mendengar perbandingan jumlah korupsi masing-masing partai dengan
pemberitaan yang adil? Atau menjelang pemilu ini adakah media yang mengadakan
diskusi membedah blueprint rencana-rencana baik jangka pendek maupun jangka
panjang tentang apa yang akan mereka (caleg partai) ingin lakukan ketika
terpilih nanti? Dalam bentuk program yang rinci? atau pernahkan ada bedah
prestasi asing-masing calon baik calon anggota legislatif maupun calon
presiden? Prestasi apa saja yang sudah mereka berikan untuk bangsa bahkan
sebelum mereka memimpin? atau adakah media yang adil memberitakan
kinerja-kinerja partai selama ini baik di pemerintah maupun masyarakat? Atau
partai mana saja yang kaderisasi politiknya aktif? Hal ini dikarenakan banyak
partai yang hanya menjadi kendaraan politik semata tanpa penanaman etika, moral
dan ideologisasi politik itu sendiri. Semua caleg dan partai bisa dengan
lantang mengatakan bahwa mereka peduli, pro rakyat, partainya wong cilik, dan
segala macam gombalan politik lainnya, tapi bagaimana cara kita menilainya?
Saya mengambil kasus banjir yang melanda banyak daerah dan bencana di Sinabung.
Kader partai mana saja yang aktif dalam membantu masyarakat ketika terjadi
bencana tersebut? Atau dalam kerja mereka sebagai partai, partai mana saja yang
aktif mengadvokasi (dalam hal ini fraksi di DPR/DPRD) bantuan banjir? Partai
mana saja yang selama ini aktif melayani masyarakat bahkan ketika bukan musim
pemilu?Partai mana saja yang sekretariatnya buka setiap hari? Pemimpin daerah
dari partai mana saja yang aktif menganggulangi bencana? Maaf saja, saya punya
keyakinan “bagaimana mungkin bisa dikatakan pro rakyat jika selama ini jarang
hadir ditengah rakyat?”. Banyak hal-hal positif yang sengaja tidak ditampilkan
oleh media dalam porsi yang adil justru membuat apatisme politik kian meninggi.
Fenomena ini justru mengangkat
partai-partai yang terbiasa korupsi untuk cuci tangan dan membuat masyarakat
menganggap mereka bersih.Kenapa? Karena masyarakat yang wellinformed dan
welleducated ini akan memilih tindakan yang mereka anggap “idealis” yaitu
Golput, sementara masyarakat yang masih “polos” dan tidak terlalu peduli
biasanya akan digaet partai-partai korup ini dengan Money politic, terutama di
daerah. Atau dengan “membayar” media mereka akan mengkampanyekan calon dari
partai korup ini dengan citra yang dibuat-buat. Efeknya apa? Tentu masa depan
bangsa inilah yang jadi taruhannya.
Hal ini menuntut kita untuk menjadi
rakyat yang berpartisipasi aktif dalam menilai para calon-calon wakil kita dan
pemimpin kita tersebut. Karena bagaimanapun juga, nasib bangsa ini akan
ditentukan oleh mereka ke depannya, walaupun kita memutuskan untuk pasif dalam
pesta demokrasi ini. Apakah kita hanya tipe rakyat yang “Tong Kosong Nyaring
Bunyinya”, hanya bisa menghujat, mengkritik tanpa memberi sumbangsih berarti
dalam transisi kepemimpinan bangsa ini. Kenali mereka, analisis mereka, tanya
prestasi dan program mereka, buatlah kontrak politik dengan mereka terkait
janji-janji mereka. Hukum berat partai yang langganan korupsi. “Negeri ini
bobrok bukan karena orang-orang brengsek dan bajingannya terlalu banyak, tapi
karena orang-orang baik lebih memilih diam dan tenggelam dalam khayalan
idealisnya dibanding terjun berjuang dalam realita”. Tentukan pilihanmu,
selamat memilih dan selamat berdemokrasi!.
