Senin, 10 Februari 2014

#SaveOurDemocracy#SaveIndonesia (Sebuah Refleksi Kritis Menjelang Pemilu)



Kurang lebih 2 bulan lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi yang untuk kesekian kalinya akan memilih orang-orang yang akan memimpin negeri ini. Pesta yang hadir 5 tahun sekali selalu menarik perhatian banyak orang karena disinilah optimisme dan pesimisme bercampur menjadi satu; apakah nasib bangsa ini akan berubah menjadi lebih baik, samasaja, atau malah ebih buruk?. Di tengah perjalanan demokrasi kita yang sedang dalam proses pendewasaan di usianya yang menginjak 16 tahun semenjak reformasi digulirkan, transisi kepemimpinan di tahun 2014 ini menghadapi situasi yang sangat dilematis ;puncak dari apatisme masyarakat terhadap pemerintah, birokrasi, dan terhadap politik itu sendiri, namun disisi lain tidak bisa dinafikkan bahwa “Demokrasi 5 Menit” ini juga akan berpengaruh pada arah bangsa ini ke depannya.
            Kenapa dilematis? Sebenarnya jika kita mau sedikit membaca dan menganalisis, pemilu 2014 ini adalah momentum peralihan generasi. Jika kita melihat dari segi usia, pemilu 2014 inilah saatnya generasi pasca reformasi mulai menggeliat mengisi ruang-ruang publik. Artinya generasi dengan cara berpikir era Orde Baru yang menitikberatkan pada model kepemimpinan kharismatik (yang sayangnya di beberapa partai masih saja menggunakan pendekatan model ini) sudah saatnya turun gunung dan digantikan dengan semangat dan jiwa muda dari para pengusung reformasi yang lebih menitikberatkan pada kepemimpinan kolektif yang sesuai dengan karakter demokrasi itu sendiri. Hal ini juga didorong oleh karakter masyarakat yang oleh AnisMatta sebagai masyarakat gelombang ke-3dimana karakter masyarakatnya mayoritas adalah kaum nativedemocracy yang lahir setelah reformasi sehingga banyak yang tidak merasakan rezim totaliter dan cenderung menikmati hidup dalam suasana demokrasi dan cenderung wellinformed. Namun, transisi kepemimpinan ini akan sedikit terganggu dengan tingginya apatisme masyarakat terhadap pemerintah, partai politik, bahkan terhadap politik itu sendiri. Ini terkait dengan kinerja pemerintahan SBY selama 2 periode ini belum banyak memberikan dampak positif bahkan semakin maraknya kasus korupsi yang dilakukan baik oknum di pemerintahan, dewan perwakilan, maupun lembaga kehakiman.
            Nampak bahwa apatisme politik ini sengaja ditumbuh suburkan baik oleh media, pengamat politik, elit-elit partai politik, bahkan hingga di tataran obrolan warung kopi. Di kampus, wacana-wacana yang mengemuka adalah “independen” dan “netral” yang salah tafsir sehingga banyak mahasiswa yang notabene kaum intelek dan rasional justru menjauhkan dirinya dari sesuatu bernama politik. Media juga semakin memprovokasi dengan berita negatif terkait politisi tanpa mengedukasi tentang bagaimana pencerdasan politik itu sendiri. Hei pernahkah kita mendengar di berbagai media partai-partai mana saja yang termasuk juara korupsi ? atau pernahkah kita mendengar perbandingan jumlah korupsi masing-masing partai dengan pemberitaan yang adil? Atau menjelang pemilu ini adakah media yang mengadakan diskusi membedah blueprint rencana-rencana baik jangka pendek maupun jangka panjang tentang apa yang akan mereka (caleg partai) ingin lakukan ketika terpilih nanti? Dalam bentuk program yang rinci? atau pernahkan ada bedah prestasi asing-masing calon baik calon anggota legislatif maupun calon presiden? Prestasi apa saja yang sudah mereka berikan untuk bangsa bahkan sebelum mereka memimpin? atau adakah media yang adil memberitakan kinerja-kinerja partai selama ini baik di pemerintah maupun masyarakat? Atau partai mana saja yang kaderisasi politiknya aktif? Hal ini dikarenakan banyak partai yang hanya menjadi kendaraan politik semata tanpa penanaman etika, moral dan ideologisasi politik itu sendiri. Semua caleg dan partai bisa dengan lantang mengatakan bahwa mereka peduli, pro rakyat, partainya wong cilik, dan segala macam gombalan politik lainnya, tapi bagaimana cara kita menilainya? Saya mengambil kasus banjir yang melanda banyak daerah dan bencana di Sinabung. Kader partai mana saja yang aktif dalam membantu masyarakat ketika terjadi bencana tersebut? Atau dalam kerja mereka sebagai partai, partai mana saja yang aktif mengadvokasi (dalam hal ini fraksi di DPR/DPRD) bantuan banjir? Partai mana saja yang selama ini aktif melayani masyarakat bahkan ketika bukan musim pemilu?Partai mana saja yang sekretariatnya buka setiap hari? Pemimpin daerah dari partai mana saja yang aktif menganggulangi bencana? Maaf saja, saya punya keyakinan “bagaimana mungkin bisa dikatakan pro rakyat jika selama ini jarang hadir ditengah rakyat?”. Banyak hal-hal positif yang sengaja tidak ditampilkan oleh media dalam porsi yang adil justru membuat apatisme politik kian meninggi.
Fenomena ini justru mengangkat partai-partai yang terbiasa korupsi untuk cuci tangan dan membuat masyarakat menganggap mereka bersih.Kenapa? Karena masyarakat yang wellinformed dan welleducated ini akan memilih tindakan yang mereka anggap “idealis” yaitu Golput, sementara masyarakat yang masih “polos” dan tidak terlalu peduli biasanya akan digaet partai-partai korup ini dengan Money politic, terutama di daerah. Atau dengan “membayar” media mereka akan mengkampanyekan calon dari partai korup ini dengan citra yang dibuat-buat. Efeknya apa? Tentu masa depan bangsa inilah yang jadi taruhannya.
Hal ini menuntut kita untuk menjadi rakyat yang berpartisipasi aktif dalam menilai para calon-calon wakil kita dan pemimpin kita tersebut. Karena bagaimanapun juga, nasib bangsa ini akan ditentukan oleh mereka ke depannya, walaupun kita memutuskan untuk pasif dalam pesta demokrasi ini. Apakah kita hanya tipe rakyat yang “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”, hanya bisa menghujat, mengkritik tanpa memberi sumbangsih berarti dalam transisi kepemimpinan bangsa ini. Kenali mereka, analisis mereka, tanya prestasi dan program mereka, buatlah kontrak politik dengan mereka terkait janji-janji mereka. Hukum berat partai yang langganan korupsi. “Negeri ini bobrok bukan karena orang-orang brengsek dan bajingannya terlalu banyak, tapi karena orang-orang baik lebih memilih diam dan tenggelam dalam khayalan idealisnya dibanding terjun berjuang dalam realita”. Tentukan pilihanmu, selamat memilih dan selamat berdemokrasi!.





               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar