Senin, 07 April 2014

Media? Netral? Independensi? Golput?


beberapa hari yang lalu, ada sebuah diskusi menarik terkait peran media dalam mempengaruhi partisipasi dan pilihan politik. misalkan ada orang jahat dan orang baik. keduanya berkontestasi dalam pemilu. karena orang jahat ini punya media atau di dukung oleh media, mudah baginya untuk membentuk citra baik untuk dirinya dan memburukkan citra lawan yang orang baik tersebut. orang jahat ini biasanya akan dicitrakan tidak ambisius mengejar jabatan, tapi sejatinya dialah yang paling mengejar jabatan itu. dengan cara apa? buat orang jahat ini, untuk meraih simpati orang awam pedesaan dengan tingkat pendidikan dan rasionalitas rendah, mudah saja menggunakan politik uang dan kekuasaan. toh media-media yang pro orang jahat tersebut tidak akan memberitakan keburukannya. dan orang-orng awam rata-rata percaya saja dengan framming media tersebut. untuk masyarakat perkotaan dengan tingkat rasionalitas tinggi, mereka digiring untuk tidak percaya pada pemerintah dan tidak percaya partisipasi pemilu dan politik dapat mengubah keadaan. massa kritis ini akan diarahkan untuk golput dan tidak percaya bahwa masih ada orang baik yang ingin mengubah pemerintahan. bahkan kalau perlu dihadirkan dalil-dalil keagamaan tentang sistem yang tidak baik, kafir, thagut dan sebagainya. untuk yang bisa dipengaruhi media biasanya akan diarahkan sama dengan kondisi awal untuk memilih orang jahat yang sudah dicitrakan baik oleh media ini.

lalu bagaimana dengan orang baik itu? sayangnya orang-orang baik ini bukan penguasa media, sehingga kebaikan yang dibawanya atau kerja-kerja kebaikan yang dicapainya tidak terekspos. bahkan salah sedikit saja akan langsung dihujat habis-habisan bagaikan kejahatan tingkat tinggi. orang baik ini, bisa sangat mudah menjadi sasaran citra buruk dari media-media yang sudah pro orang jahat tadi. kalo tidak ditemukan kelemahannya, maka dibuatlah fitnah-fitnah untuk melemahkan orang-orang baik ini. toh masyarakat rata-rata percaya-percaya saja dengan framming media. di basis pedesaan, orang-orang baik ini ga mungkin mengambil jalan politik uang dan kekuasaan, dan biasanya di adu domba dengan isu-isu sensitif keagamaan. di masyarakat perkotaan yang rasional, basis massa mereka diarahkan untuk golput dan tidak memilih mereka. dan seringkali mereka dituduh ambisius mengejar jabatan karena aktif mengajak orang-orang memilih, karena mereka sadar bahwa kehadiran mereka penting untuk mencegah banyaknya orang jahat memimpin negeri ini. bahkan seringkali pula diantara orang baik ini diadu domba agar bertengkar sesamanya atau dengan yang sudah terframming media untuk golput entah dengan alasan keagamaan atau alasan tidak percaya dengan orang-orang baik ini.

jadi, framming media itu bisa merubah orang jahat yang sangat ambisius menjadi tidak ambisius dengan bahasa-bahasa populis semacam "netralitas","independensi',"golput lebih baik", atau dalam bumbu-bumbu keagamaan seperti "demokrasi haram, kufur, thagut, dll" sedangkan dia mengkonsolidasi basis massa ideologisnya untuk wajib memilih

begitu juga sebaliknya, framming media bisa membuat orang-orang baik yang sebenarnya ikhlas berjuang untuk memperbaiki negeri ini dicitrakan sebagai orang-orang haus kekuasaan, ambisius, kalau perlu difitnah dengan isu-isu sensitif seperti korupsi, teroris, intoleran, dan dengan dalil-dalil keagamaan "ahlut thagut, ahlul bid'ah", dll. tidak percaya? well bukankah sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang baik yang mencoba memperbaiki negeri ini lewat jalur apapun terutama ekonomi dan politik diperlakukan??

dan yang paling penting adalah, anda hendak berdiri dimana?
itu pilihan anda masing-masing. tapi saya selalu yakin "menyalakan lilin lebih baik daripada mengutuk kegelapan", dan "sebuah peradaban besar itu dibangun oleh potongan sejarah-sejarah kecil namun bermakna"

so, bijaklah dengan pilihanmu, karena setiap pilihanmu punya pertanggung jawabannya nanti!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar