Kamis, 28 Februari 2013

Jangan Lupakan Terget Dakwah Kita

Target akhir dakwah kita adalah nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk) dan li I’laai kalimatillah (meninggikan kalimah Allah), hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Jangan lupakan target akhir ini.

Amal khoiri yang pendekatannya kesejahteraan, jangan dianggap sebagai ghayah (target akhir), itu sasaran antara saja. Memang dia suatu anjuran dari Allah, tapi dia sasaran antara dari segi dakwah, diharapkan melalui ihsan kita menghasilkan penyikapan dan sambutan yang khoir. Hal jazaul ihsan illal ihsan, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Tapi ihsan kita, operasi mewujudkan kesejahteraan itu jangan dianggap tujuan akhir. Negara-negara Eropa itu adalah Negara yang sejahtera hidupnya. Tapi 50% penduduknya atheis.

Bagi kita, jadi camat, bupati, walikota, gubernur atau presiden, itu sasaran antara. Akhirnya hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Wa kalimatullah hiyal ulya (dan kalimat Allah itulah yang tinggi).

Jadi, amal tsaqafi, orang jadi bertsaqafah; amal khairi, orang jadi sejahtera; itu hanyalah sasaran-sasaran antara kita. Sebab kalau orientasi masyarakat madani itu hanya terdidik, dan sejahtera seperti di Eropa, banyak yang mulhid, atheis walaupun terdidik dan sejahtera. Walaupun bukan atheis terorganisir seperti komunis, style masyarakat sebagai individu itu atheis. Bahkan memandang keagamaan itu merupakan bagian dari budaya.

Di Jepang juga masyarakatnya sangat sejahtera. Tapi bagi mereka agama itu kultur yang terserah selera, boleh berganti kapan saja. Orang Jepang saat lahir umumnya disambut dengan upacara-upacara Budha. Ketika nanti menikah dirayakan dengan upacara Kristen dan ketika meninggal dengan upacara Sinto. Kata ikhwah yang pernah bermukim di Jepang, pernah ada sensus keagamaan, ternyata pemeluk agama di Jepang itu tiga kali lipat dari jumlah penduduk. Jadi mereka sebenarnya sejahtera dan terdidik. Secara fisik, materi, mereka terlihat bahagia. Tapi yabqa ala dhalalah (tetap dalam kesesatan).

Nah kita sebagai partai dakwah tidak begitu. Maksud saya, kalau kita sudah bisa mentau’iyah (menyadarkan), menjadi terbuka, bebas, demokratis, mentatsqif, menjadi terdidik, atau menyejahterakan sekalipun, perjalanan kita masih tetap jauh. Sebab sesudah itu, bagaimana mereka bisa kita konsolidasikan, bisa kita koordinasikan, kita mobilisasikan, litakuuna kalimatulladziina kafaru sulfa wa kalimatullahi hiyal ‘ulya. Ini penting untuk selalu diingatkan dan dicamkan. Apalagi di masa-masa musyarokah (partisipasi politik) ini.

Jangan merasa sukses menjadi pemimpin Pemda itu ukurannya sekedar telah membangun sekolah sekian, madrasah sekian, kesejahteraan, pertanian subur; sementara hidayah tercecer. Makanya keterpaduan langkah-langkah yang sifatnya tarfih (kesejahteraan), atau tatsqif (mencerdaskan bangsa) harus sejajar dengan upaya-upaya mendekatkan orang pada hidayah Allah. Harus begitu.

Ini saya ingatkan karena ketika kita di masyarakat dituntut di sektor kesejahteraan, di sektor kebijakan, di sektor pendidikan, di sektor kesehatan; maka harus secara menyatu terpadu dengan nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk Islam), nayrul fikrah (menyebarkan gagasan Islam), wa nasyrul harakah (penyebaran gerakan dakwah). Agar mereka akhirnya bergerak bersama-sama li I’lai kalimatillah.

KH. Hilmi Aminudin

sumber : http://pks-beni.blogspot.com/2013/02/jangan-lupakan-target-akhir-dakwah-kita.html

Sabtu, 23 Februari 2013

Kritis atau Sinis???

Bismillahirrahmaanirrahiim....

Assalamu'alaikum wr wb, sekedar tulisan iseng, butuh sangat kritik dan saran :)

KRITIS ATAU SINIS?

Terbukanya gerbang reformasi di negeri ini menandakan pula momen-momen kebebasan berpendapat. Jika pada masa orde baru kreativitas dan ide-ide baru seakan di pasung, di era reformasi semua arus informasi mengalir dengan deras, entah itu informasi positif maupun negatif.

Sayangnya momen-momen seperti ini tidak dibarengi dengan kedewasaan dalam berargumentasi, dan kurangnya wawasan dalam mendalami sebuah masalah. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya budaya membaca dan berdiskusi bahkan di lingkungan pelajar sekalipun. Entah karena efek represif dari masa orde baru yang membuat kecenderungan berpikir pasif atau memang ketidakpedulian kita terhadap ide-ide yang inovatif.

Ada dua kecenderungan dari masyarakat Indonesia dalam menyikapi ide baru. satu, langsung menolak dan memasang antibodi terhadap ide-ide baru (bisa dikatakan juga, fanatik dan taklid buta), dan kedua, menerima tanpa memfilterisasi mana ide dan informasi yang bermanfaat dan sesuai dengan budaya bangsa. memang ada orang-orang yang tidak menutup diri terhadap ide baru juga memfilterisasinya, tapi jumlahnya masi cukup sedikit. Kondisi ini justru diperparah oleh kurangnya budaya membaca tadi, apalagi membaca dengan berbagai sumber bacaan. mayoritas masyarakat Indonesia masi cenderung dalam zona kenyamanan berpikir, ketika sudah nyaman dalam suatu ideologi atau prinsip maka akan sulit menerima sesuatu yang terlihat 'berbeda' dari yang dia tahu.

Kondisi ini memunculkan kecenderungan baru, yaitu ketika diajak diskusi tentang suatu masalah atau ide-ide baru, mereka hanya melihat secara 'judul' atau 'cover', bukan secara substansial atau inti dari ide tersebut. masi banyak kecenderungan nasyarakat bahkan para pelajar, hanya melihat dari siapa yang berbicara, dan darimana ia berbicara, bukan apa yang dibicarakan, bukan ide-ide apa yang dia keluarkan.



Efek dari kecenderungan tersebut akan membentuk karakter 'merasa paling benar, yang tidak sependapat dengan dirinya salah'. karakter seperti ini, dalam berdiskusi dan menyampaikan argumentasi, kadang sepintas terlihat ilmiah, kritis, namun dalam kenyataannya dan penggunaan bahasanya lebih ke arah sinis. Jika kritis adalah mengkritik dengan maksud konstruktif, maka sinis adalah mengkritik dengan maksud destruktif. Jika dalam penyajian bahasa kritik yang di sampaikan cenderung menjatuhkan ide, mencela pencetus gagasan yang berseberangan dengan idealisme dia, dan pemakaian bahasa 'sindiran yang berlebihan' maka paslah bahwa itu disebut sinis, bukan kritis. kritis itu adalah ketika berhadapan dengan gagasan yang berseberangan dengan idealismenya, yang dia lakukan adalah memperbaiki gagasan tersebut tanpa memaksakan pendapatnya. karena dalam ruang diskusi publik semua pendapat bisa dikatakan benar asal mempunyai dasar argumentasi yang kokoh. pemahaman yang tinggi akan suatu permasalahan akan bisa didapat ketika wawasan dari kita luas.

oleh karena itu, dalam berdiskusi dan penyampaian gagasan, kita harus membuka diri kita tierhadap ilmu baru, bahkan dari referensi bacaan yang berseberangan dari idealisme kita.hal seperti itu perlu sebab agar kita tidak fanatik buta terhadap idealisme yanmg kita punya.terakhir, idealisme yang kuat itu perlu, tapi bukan berarti menutup diri terhadap pendapat orang lain, bahkan yang berseberangan. agar apa yang kita maksud kritis tidak menjadi hanya sekedar sinisme belaka.

sekian dari saya, mohon dnegan sangat kritik dan saran, bahkan saya pengennya diskusi hehe

p.s : ini ga lagi ngomongin perbedaan dalam hal aqidah atau 'inti' ya, cuma perbedaan pendapat dalam hal ide dan gagasan yang 'cabang'

wassalamu'alaikum wr wb