Di belahan bumi bagian barat sana,
banyak orang-orang non-muslim yang mulai tersentuh hidayah dan memeluk agama
Islam. Dan pertumbuhan muslim di Negara-negara barat mulai menampakkan diri
layaknya gelombang. Dalam beberapa berita-berita yang saya baca pun banyak
pengamat memperkirakan pada tahun sekian (contoh 2050) Islam akan menjadi agama
mayoritas di eropa.
Namun yang saya herankan adalah, di
Negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam, rasanya berstatus sebagai
muslim menjadi kian ribet. Yang satu teriak “kafirr!!”, yang satu lagi teriak
“thagut!!”, yang satu teriak “bid’ah!!” yang satu lagi teriak “wahabi!!”, dan
yang saya herankan orang-orang yang berteriak tersebut adalah orang-orang yang
“mengaku” aktivis dakwah”. Saya kemudian berpikir, emang dakwah itu kayak gini
yak?.
Yang saya pahami adalah, dakwah itu
mengajak kepada Islam dan seluruh “keindahan”nya, bukan menghakimi seseorang,
apalagi sampai mengkafirkan seorang muslim (ada apa ini?).
Kepada yang suka mengkafirkan kadang
saya ingin bertanya, emang rasulullah mengajarkan seperti itu ya? Itu dalilnya
darimana? Padahal sama-sama kita ketahui, menuduh seorang muslim kafir itu
suatu tuduhan serius, apalagi jika kata-kata tersebut keluar hanya karena
berbeda “jalan”, ini kan aneh.
Dakwah rasulullah itu mengislamkan
orang kafir, bukan mengkafirkan orang Islam. Maka kadang saya berpikir pula,
kadang dakwah ini menjadi sesuatu yang tidak menarik bahkan menakutkan, bukan
cuma karena orang sekuler dan musuh-musuh dakwah terus-terus mempropagandakan
yang salah tentang islam, tapi dari kita sendiri sebagai aktivis dakwah gagal
mendakwahkan Islam dengan cara yang benar. Maksud hati menyampaikan kebenaran
Islam, tapi tidak didukung dengan cara menyampaikan kebenaran dengan benar.
Padahal jika kita kembali kedalam makna dakwah itu sendiri, dakwah itu mengajak
kepada Islam, bukan main hakim sendiri.
Padahal sudah jelas dalam hadits
“Sesungguhnya aku diutus oleh Allah SWT hanyalah semata-mata untuk
menyempurnakan akhlak manusia” (HR Sa’ad, Bukhari, Baihaqi dari Abu Hurairah).
Di Al-Qur’an pun disebutkan “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS
An Nahl :125). Nah sekarang saya tanya, mengkafirkan Islam yang “cuma” ga
sepaham dalam metode itu cara yang baik?.
Yang saya lihat, fenomena ini
dikarenakan banyak orang menafsirkan Islam sebagai sistem hidup yang kaku,
padahal dalam islam ada hal-hal yang bersifat rigid (tsawabit) ada yang
bersifat fleksibel (mutaghayyirat). Yang bersifat rigid itu ga boleh
ditawar-tawar lagi, semisal syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, menutup
aurat, menjauhi riba dan zina, dll. Tapi islam pun fleksibel dalam hal-hal yang
sifatnya metode atau cara, dan sayangnya justru banyak kita meributkan sesuatu
yang sifatnya fleksibel ini (atau malah sebaliknya, mempermaikan yang rigid,
ini biasanya kerjaannya JIL).
Maka coba telisik kembali, kebanyakan
orang-orang barat mengikrarkan keislamannya justru karena akhlaq muslim disana
begitu baik, selain juga karena Islam itu agama yang rasional, banyak peneliti
yang memeluk Islam karena Islam berhasil membuktikan dan menjelaskan
fenomena-fenomena yang terjadi di hidup ini secara Ilmiah.
Maka saya cukup beruntung ada di
jamaah yang mengajarkan toleransi dalam perbedaan “cabang”. Salah satu prinsip
yang kita pegang adalah “kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah
mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan
kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena
kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu
yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan mendustakan
secara terang-terangan Al Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai
dengan kaidah bahasa arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin
diinterpretasikan kecuali dengan tindkan kufur” (Ushul Isyrin no 20). Kecuali
yang jelas menampakkan kekafirannya dan menyelewengkan ayat seperti JIL, syiah,
ahmadiyah itu beda soal :3.
Saya malah kemudian penasaran sebagai
mahasiswa statistika, coba di survey dan diamati lebih efektif mana dakwah
dengan bahasa cinta, lewat kerja-kerja nyata dan berusaha sinergis antar gerakan
dalam harmoni atau dakwah saling mengkafirkan? Dari situ bisa dilihat ko metode
yang lebih efektif. Apalagi seperti kita ketahui masyarakat timur pada dasarnya
cenderung kepada harmoni dan kedamaian, bukan pada perbedaan :) .
Maka bukankah lebih baik kita
sama-sama saling menCINTAi dalam naungan yang sama yaitu ISLAM, sama-sama
beKERJA demi kejayaan ISLAM, dan saling berHARMONI saling mengisi pos-pos umat
yang tidak mungkin bisa kita kerjakan sendiri? Saling bahu membahu?.
Bukankah mengatakan “kalo Salafi dizalimi kita
bela! kalo HT dizalimi kita bela! kalo JT dizalimi kita bela! kalo NU dizalimi
kita bela! kalo Muhammadiyah dizalimi kita bela! kalo Tarbiyah dizalimi kita
bela!” lebih menenangkan hati daripada saling mengkafirkan sesama muslim? So
#JanganBikinIslamJadiRibet :).
