Selasa, 02 April 2013

Belajar Negosiasi Bareng (Mantan) Presma (Reportase Training HUMAS KAMMI Komisariat UGM)


Yogyakarta(30/3)- Departemen Humas KAMMI Komisariat UGM kembali mengadakan Training Kehumasan KAMMI bagi para kader-kader Humas KAMMI UGM. Jika pada training-training sebelumnya berbentuk seminar, maka edisi kali ini Training Kehumasan berbentuk diskusi kultural dengan pemateri dari Presiden Mahasiswa UGM tahun 2010, Aza El Munadiyan
Diskusi dibuka oleh Fathih Kaldani dengan menguraikan mengapa Humas KAMMI UGM harus mengadakan Training Kehumasan dengan tema negosiasi ini. Beliau menjabarkan setidaknya ada 4 alasan mengapa training ini diadakan, yaitu;
-          Berlatih untuk menjalankan fungsi humas KAMMI UGM yang terdapat dalam PKK KAMMI UGM yaitu negosiasi.
-          Karena humas KAMMI UGM juga mengampu humas aksi sehingga ilmu tentang negosiasi menjadi penting.
-          Belajar dari kisruh RUU PPSMB, dimana posisi tawar Partai Bunderan kurang baik, sehingga menjadi bulan-bulanan dan musuh bersama partai lain.
-          Sebagai pembelajaran bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan gerakan lain.
Aza membuka diskusi dengan beberapa pertanyaan sederhana, “mengapa kader KAMMI ketika bernegosiasi dengan gerakan lain sering berujung kegagalan?”, “Mengapa KAMMI/Bunderan seringkali menjadi musuh bersama gerakan lain?”, “Tidak bisa, tidak mampu, atau tidak mau?” Pertanyaan sederhana ini bermuara pada jawaban sederhana : belum mampunya kader KAMMI untuk berbaur atau ngobrol dengan gerakan lain, karena kader KAMMI seakan-akan membentuk barrier terhadap gerakan lain, sehingga menyulitkan baik kader KAMMI untuk bekerjasama dengan gerakan-gerakan lain.
Setidaknya ada 3 sistem/mekanisme dalam bernegosiasi atau lobi, yaitu :
-          Sistem Tradisional
Sistem ini adalah sistem lobi yang paling sering dipakai, yaitu kita sebagai pelobi melakukan negosiasi atau lobbying secara personal to personal atau pendekatan pribadi (mungkin dalam bahasa dakwah dikenal juga sebagai dakwah fardiyah). Sistem lobi ini umum dipakai karena memiliki metode paling sederhana. Kelemahannya, lingkupnya kecil dan sasaran terbatas hanya pada satu orang serta hasil lobi kurang maksimal karena bisa jadi pelobi tidak merepresentasikan pendapat kelompoknya.

-          Sistem Jaring
Sistem jaring adalah sistem yang menggunakan tim untuk melobi. Aza mengatakan setidaknya tim lobi terdiri dari 3 atau 4 orang, yaitu yang bertindak sebagai (1) frontliner (orang yang frontal, menggunakan teknik lobi yang keras, yang kukuh mempertahankan pendapat, yang jago debat), (2) netralis (yang bisa menetralkan suasana, jika orang yang keras gagal mendapatkan keputusan yang diinginkan maka orang ini menggunakan teknik lobi yang halus), (3) notulen (bisa saja ditambahkan satu orang lagi sebagai orang “terakhir” yang akan menutup lobi/closing statement). Sistem ini menurut Aza merupakan sistem paling efektif dalam negosiasi.

-          Sistem Perusahaan
Sistem ini adalah sistem yang langsung mengatasnamakan antar lembaga (jadi langsung lembaga yang bernegosiasi. Biasanya sistem ini digunakan untuk kerja sama dalam forum resmi
Selanjutnya Aza menyampaikan beberapa gaya dan pendekatan dalam bernegosiasi bergantung pada orientasi tujuan yang ingin dihasilkan dalam negosiasi tersebut. Setidaknya ada 4 macam orientasi dalam bernegosiasi, yaitu :
-          Orientasi Bargaining
Negosiasi dengan orientasi ini tidak memfokuskan pada penyelesaian masalah dan tercapainya kesepakatan diantara kedua pihak, tetapi dimaksudkan hanya untuk meningkatkan bargaining position (posisi tawar) dari masing-masing kubu.
Contoh : negosiasi antara Korea Utara dengan Korea Selatan, negosiasi antara Palestina di sidang PBB.
 
-          Orientasi Kalah-Kalah
Negosiasi dengan orientasi ini adalah negosiasi dengan hasil terlemah, karena bertujuan untuk tidak mendapatkan apa-apa atau tidak ada yang diuntungkan
Contoh : negosiasi dalam permasalahan Laut Cina Selatan.

-          Orientasi pada kompromi
Negosiasi dengan orientasi ini adalah negosiasi yang bertujuan agar tercapainya kompromi antara pihak-pihak yang bernegosiasi dengan kompromi yang ke depannya akan menguntungkan kepentingan masing-masing pihak atau salah satu pihak.
Contoh : Negosiasi dalam Piagam Jakarta, negosiasi tentang perebutan Papua Barat antara Indonesia, Belanda dan Amerika

-          Orientasi Menang-Menang (Win-Win Solution)
Negosiasi jenis ini adalah negosiasi paling ideal, karena menghasilkan kesepakatan yang sangat menguntungkan masing-masing pihak yang bernegosiasi.
Contoh : negosiasi mengenai Pulau Sulu antara Malaysia dan Filipina pada awalnya.

Dengan orientasi-orientasi diatas, Aza melanjutkan dengan memberi kiat-kiat agar sukses dalam bernegosiasi. Setidaknya ada 4 langkah yang harus kita siapkan sebelum bernegosiasi agar negosiasi berjalan efektif. Yaitu :

-          Pengumpulan data dan fakta, baik karakter dari lawan negosiasi kita maupun data dan fakta yang dibutuhkan untuk memuluskan proses negosiasi.
-           Membangun posisi tawar (bargaining position) sebagai penguat dalam negosiasi agar negosiasi dapat menghasilkan keputusan yang kita inginkan
-          Melemparkan isu yang strategis untuk menaikan posisi tawar.
-          Mendukung kegiatan yang mengangkat citra dan posisi tawar kita.
Setelah persiapan tersebut dilakukan, mas aza memberikan beberapa saran tentang hal-hal yang harus dilakukan ketika negosiasi berjalan, yaitu :
-          Menganalisis iklim, Melihat kondisi dan situasi perlobian, apa yg menjadi kelemahan “lawan”
-          Menentukan siapa kawan dan lawan dalam forum negosiasi tersebut.
-          Menentukan kelompok kecil yang akan mempengaruhi iklim opini.
-          Membentuk koalisi dengan kelompok yang memungkinkan.
-          Tentukan tujuan atau orientasi yang ingin kita capai.
-          Menganalisis dan mendefinisikan penyebab kasus.
-          Dapatkan Dukungan media (jika ada) untuk menaikan posisi tawar.
-          Perbanyak  kasus, Menggunakan isu lain untuk menghilangkan isu utama.
-          Menjaga fleksibilitas (tarik ulur keputusan) ke pihak lain (kondisi ini kalo kita ada diatas/berkuasa)

Diskusi ini ditutup dengan closing statement Aza mengutip kata-kata Utsman bin Affan “dengan kekuasaanlah, Allah menegakkan apa-apa yang tidak bisa ditegakkan hanya dengan Al Qur’an.”[nauval]


note : tulisan ini sudah dipublikasikan di facebook KAMMI Komisariat UGM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar