Yogyakarta(30/3)-
Departemen
Humas KAMMI Komisariat UGM kembali mengadakan Training Kehumasan KAMMI bagi
para kader-kader Humas KAMMI UGM. Jika pada training-training sebelumnya
berbentuk seminar, maka edisi kali ini Training Kehumasan berbentuk diskusi
kultural dengan pemateri dari Presiden Mahasiswa UGM tahun 2010, Aza El
Munadiyan
Diskusi dibuka oleh
Fathih Kaldani dengan menguraikan mengapa Humas KAMMI UGM harus mengadakan
Training Kehumasan dengan tema negosiasi ini. Beliau menjabarkan setidaknya ada
4 alasan mengapa training ini diadakan, yaitu;
-
Berlatih untuk menjalankan fungsi humas
KAMMI UGM yang terdapat dalam PKK KAMMI UGM yaitu negosiasi.
-
Karena humas KAMMI UGM juga mengampu
humas aksi sehingga ilmu tentang negosiasi menjadi penting.
-
Belajar dari kisruh RUU PPSMB, dimana
posisi tawar Partai Bunderan kurang baik, sehingga menjadi bulan-bulanan dan
musuh bersama partai lain.
-
Sebagai pembelajaran bagaimana kita bisa
berkomunikasi dengan gerakan lain.
Aza membuka diskusi
dengan beberapa pertanyaan sederhana,
“mengapa kader KAMMI ketika bernegosiasi dengan gerakan lain sering berujung
kegagalan?”, “Mengapa KAMMI/Bunderan seringkali menjadi musuh bersama gerakan
lain?”, “Tidak bisa, tidak mampu, atau tidak mau?” Pertanyaan sederhana ini bermuara pada
jawaban sederhana : belum mampunya kader KAMMI untuk berbaur atau ngobrol dengan gerakan lain, karena
kader KAMMI seakan-akan membentuk barrier
terhadap gerakan lain, sehingga menyulitkan baik kader KAMMI untuk bekerjasama
dengan gerakan-gerakan lain.
Setidaknya ada 3
sistem/mekanisme dalam bernegosiasi atau lobi, yaitu :
-
Sistem
Tradisional
Sistem
ini adalah sistem lobi yang paling sering dipakai, yaitu kita sebagai pelobi
melakukan negosiasi atau lobbying
secara personal to personal atau
pendekatan pribadi (mungkin dalam bahasa dakwah dikenal juga sebagai dakwah
fardiyah). Sistem lobi ini umum dipakai karena memiliki metode paling sederhana.
Kelemahannya, lingkupnya kecil dan sasaran terbatas hanya pada satu orang serta
hasil lobi kurang maksimal karena
bisa jadi pelobi tidak merepresentasikan pendapat kelompoknya.
-
Sistem
Jaring
Sistem jaring adalah sistem yang menggunakan
tim untuk melobi. Aza
mengatakan setidaknya tim lobi terdiri dari 3 atau 4 orang, yaitu yang
bertindak sebagai (1) frontliner
(orang yang frontal, menggunakan teknik lobi yang keras, yang kukuh
mempertahankan pendapat, yang jago debat), (2) netralis (yang bisa menetralkan
suasana, jika orang yang keras gagal mendapatkan keputusan yang diinginkan maka
orang ini menggunakan teknik lobi yang halus), (3) notulen (bisa saja ditambahkan satu
orang lagi sebagai orang “terakhir” yang akan menutup lobi/closing statement). Sistem ini menurut Aza merupakan sistem paling efektif dalam negosiasi.
-
Sistem
Perusahaan
Sistem
ini adalah sistem
yang langsung mengatasnamakan antar lembaga (jadi langsung lembaga yang
bernegosiasi. Biasanya sistem ini digunakan untuk kerja sama dalam forum resmi
Selanjutnya Aza menyampaikan beberapa gaya dan
pendekatan dalam bernegosiasi bergantung pada orientasi tujuan yang ingin
dihasilkan dalam negosiasi tersebut. Setidaknya ada 4 macam orientasi dalam
bernegosiasi, yaitu :
-
Orientasi
Bargaining
Negosiasi
dengan orientasi ini tidak memfokuskan pada penyelesaian masalah dan
tercapainya kesepakatan diantara kedua pihak, tetapi dimaksudkan hanya untuk
meningkatkan bargaining position
(posisi tawar) dari masing-masing kubu.
Contoh
: negosiasi antara Korea Utara dengan Korea Selatan, negosiasi antara Palestina
di sidang PBB.
-
Orientasi
Kalah-Kalah
Negosiasi
dengan orientasi ini adalah negosiasi dengan hasil terlemah, karena bertujuan
untuk tidak mendapatkan apa-apa atau tidak ada yang diuntungkan
Contoh
: negosiasi dalam permasalahan
Laut Cina Selatan.
-
Orientasi
pada kompromi
Negosiasi
dengan orientasi ini adalah negosiasi yang bertujuan agar tercapainya kompromi
antara pihak-pihak yang bernegosiasi dengan kompromi yang ke depannya akan menguntungkan
kepentingan masing-masing pihak atau salah satu pihak.
Contoh
: Negosiasi dalam
Piagam Jakarta, negosiasi tentang perebutan Papua Barat antara Indonesia,
Belanda dan Amerika
-
Orientasi
Menang-Menang (Win-Win Solution)
Negosiasi
jenis ini adalah
negosiasi paling ideal, karena menghasilkan kesepakatan yang sangat
menguntungkan masing-masing pihak yang bernegosiasi.
Contoh
: negosiasi mengenai Pulau Sulu antara Malaysia dan Filipina pada awalnya.
Dengan orientasi-orientasi diatas, Aza melanjutkan dengan memberi kiat-kiat
agar sukses dalam bernegosiasi. Setidaknya ada 4 langkah yang harus kita
siapkan sebelum bernegosiasi agar negosiasi berjalan efektif. Yaitu :
-
Pengumpulan data dan fakta, baik
karakter dari lawan negosiasi kita maupun data dan fakta yang dibutuhkan untuk
memuluskan proses negosiasi.
-
Membangun posisi tawar (bargaining position) sebagai penguat dalam negosiasi agar negosiasi
dapat menghasilkan keputusan yang kita inginkan
-
Melemparkan isu yang strategis untuk
menaikan posisi tawar.
-
Mendukung kegiatan yang mengangkat citra
dan posisi tawar
kita.
Setelah
persiapan tersebut dilakukan, mas aza memberikan beberapa saran tentang hal-hal
yang harus dilakukan ketika negosiasi berjalan, yaitu :
-
Menganalisis iklim, Melihat kondisi dan
situasi perlobian, apa yg menjadi kelemahan “lawan”
-
Menentukan siapa kawan dan lawan dalam
forum negosiasi tersebut.
-
Menentukan kelompok kecil yang akan
mempengaruhi iklim opini.
-
Membentuk koalisi dengan kelompok yang
memungkinkan.
-
Tentukan tujuan atau orientasi yang
ingin kita capai.
-
Menganalisis dan mendefinisikan penyebab
kasus.
-
Dapatkan Dukungan media (jika ada) untuk
menaikan posisi tawar.
-
Perbanyak kasus, Menggunakan isu lain untuk
menghilangkan isu utama.
-
Menjaga fleksibilitas (tarik ulur
keputusan) ke pihak lain (kondisi ini kalo kita ada diatas/berkuasa)
note : tulisan ini sudah dipublikasikan di facebook KAMMI Komisariat UGM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar