Rabu, 03 September 2014

KENAPA HARUS ADA OSPEK?



“masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan menjadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi” –Soe Hok Gie-

            Beberapa hari yang lalu, ada sebuah diskusi sangat menarik di grup WhatsApp asrama. Berawal dari membahas berita tentang salah satu ospek di salah satu Universitas Islam di Surabaya yang “kurang ajar” dan “menantang” Tuhan, lalu tiba-tiba saja topik berubah menjadi “kenapa harus apa ospek?”,”penting ga sih ospek itu?”, *sayang saya udah tidur duluan habis nganter mba kesana kemari buat persiapan ke Batam besoknya hehe*

            Topik ini selalu ada dan selalu menjadi perdebatan setiap awal tahun ajaran baik di level mahasiswa baru, mahasiswa berlabel “aktivis”, kakak-kakak panitia ospek, dosen, dekanat, rektor, orang tua, dll. Yap, semuanya yang pernah merasakan ospek entah dia hidup di zaman apa dan di ospek di kampus mana. Pastinya selalu ada argumentasi pro dan kontra terkait hal tersebut, apalagi di beberapa kampus ospeknya menghasilkan berita-berita mengerikan seperti kasus ospek diatas, atau di satu-dua kampus di Malang dan Bandung yang ospeknya berujung pada meninggalnya mahasiswa baru yang sedang melakukan ospek tersebut. Atau kalau kata seorang teman yang memulai diskusi ini bagaimana sebuah kampus terkenal di Jakarta yang terkenal dan sangat mahal ada ospek yang mewajibkan mahasiswa baru untuk memakai topi pesulap dan memakai kaos kaki sepakbola yang satu oranye yang satu hitam (mbuh, saya juga gatau kampus mana dan ospeknya seperti apa).

            “Kenapa harus ada Ospek? Kalo tujuannya Cuma buat pengenalan kampus gausah ngikut ospek juga kenal sama kampus, bisa kenal sendiri. Buat kenal kampus? Kan ada buku panduan akademik, buku A,B, C, D bla bla bla yang menjelaskan hal tersebut” sebenarnya kalo kita refleksikan lebih jauh, pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa diubah dalam sub tema yang berbeda “kenapa harus ada sekolah? Kampus? Zaman dulu ga ada sistem pendidikan kayak gini banyak melahirkan cendekiawan-cendekiawan ilmu” atau “kenapa harus berdakwah? Toh hidayah ditangan Allah, belum tentu dengan dakwah kita seseorang langsung beriman dan jadi shalih” atau bisa juga “kenapa kita harus memilih presiden? Toh siapapun presidennya, kehidupan rakyat sama aja”. Sama aja kan? Sebab pertanyaan “kenapa” itu selalu membutuhkan jawaban dan melahirkan argumentasi hahah :D

            In My Hound Opinion, saya sepakat dengan pendapat salah seorang teman yang ikut diskusi tersebut, bahwa semua yang dilakukan dalam ospek tersebut merupakan salah satu SARANA, atau kalo bisa saya tambahkan hal tersebut merupakan ikhtiar sederhana dari kita-kita ini yang tak sempurna untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut (atau kalo di kampus saya UGM alasan paling pragmatis adalah supaya bisa lulus dari UGM, soalnya, ospek merupakan syarat supaya bisa yudisium dan lulus dari UGM). Apakah buat kenal kampus harus ikut ospek? Ya ga harus. Kita meluangkan waktu buat seharian keliling-keliling kampus juga insya Allah bisa tau ko bagaimana kampus tempat kita kuliah. Atau kalo supaya punya relasi, kenalan, atau apalah sebagai makhluk social (saya gamau bermain teori) dulu waktu MOS (ospek waktu SMA) ada temen saya (yang kemudian jadi sahabat saya waktu SMA) melakukan cara unik dengan menyalami dan berkenalan dengan setiap siswa yang baru datang waktu pagi hari pertama ospek. Tapi pertanyaannya, berapa banyak orang atau maba atau apalah sebutannya yang punya inisiatif yang sangat luar biasa seperti itu? Atau jika dia ada inisiatif berapa banyak (misal dia dari luar kota tempat dia kuliah) yang percaya diri buat ngelakuin itu? Atau jika dia punya inisiatif dan percaya diri berapa banyak yang tau cara untuk “benar-benar” mengenal kampus dan segala jenis adat, adab, lingkungan, budaya, dan sejenisnya?.

            Kalau dalam konteks yang lebih luas, kita bisa juga berkata seperti diatas, ngapain kita harus sekolah selama 12 tahun kemudian ditambah lagi kuliah (idealnya) 4 tahun? (kalo di MIPA sih susah, rata2 4,5-5 tahun hahah). Realitanya banyak yang masuk dalam mata kuliah atau pelajaran yang justru ga kepake di dunia nyata?. Atau seperti pertanyaan ngapain kita berdakwah? Toh hidayah yang ngasi Allah bukan kita. Mau kita berdakwah toh yang mengubah hati manusia agar beriman dan bertaqwa kan Allah?

            Yap, sekali lagi, bagi saya (atau juga beberapa orang yang sepakat) ospek merupakan salah satu sarana dan ikhtiar manusiawi kita untuk mengenalkan bagaimana kampus dengan segala keunikannya, sebab dunia kampus ga cuma sekedar apa yang ada dalam buku panduan akademik yang formal dan “kadang” terlalu ideal. Kalo sebatas sarana bisa make cara lain dong? Ga harus ospek? Ya bisa, silahkan saja. Tapi yakin ga bisa membuat semua adik-adik kita jadi mengenal kampus? Mengenal lingkungan, adab, dll? Bisa jadi kasusnya malah kayak seorang mahasiswi S2 di salah satu kampus terkenal di Yogya yang perkataannya di social media bikin berang satu Yogya (karena S2 ga ada ospek hahah). Sama seperti ikhtiar Menteri Pendidikan kita tercinta membuat berbagai jenjang pendidikan atau ikhtiar kita-kita atau mereka yang berlabel “aktivis dakwah” yang berbaik hati mengenalkan Islam tanpa lelah J. Pengalaman saya, kalo ga ada MOS dulu, saya mungkin ga kenal rohis dan kakak-kakak rohis yang dulu berbaik hati membimbing saya menjadi manusia yang lebih baik (walaupun sampe sekarang masih banyak bandelnya juga :D ).

Kedua, bagi saya pribadi, ospek juga merupakan tempat untuk menemukan keluarga baru (yah syukur-syukur sih bisa beneran jadi “keluarga” hahaha #bukankode #bukanmodus ). Bisa kenal Besties (sahabat waktu SMA, dulu sekelas di X1 SMAN 12), Rohis Ashabul Kahfi (nama rohis angkatan saya, dengan sahabat-sahabat keren macem Sauqi, Baim, Yudhi, Irfan, Apip, Alif, dll), Math Undip ’11, sahabat macem Risky Khaerul Imam (sekarang ketua BEM FSM Undip doi), Istajib S Hakim, Stand Up (Statistika 2012), Moeso Suryowinoto (kelompok Palapa waktu tahun 2013), dan yang terbaru rekan-rekan co-fas Medika (yang demen membully dan dibully) dan Sardjito 07 yang anak-anaknya kece dan rame banget dan demen ngebully cofasnya, serta bisa kenalan sama kamu, iya kamu (siapa aja boleh, saya ga bilang satu nama lho hahah :D ).


And in the last paragraph, saya piker segala pertanyaan “kenapa harus ada ospek?” bisa terjawab jika sistem ospeknya dibuat manusiawi dan bersahabat tapi tetap tegas dan mendidik (Alhamdulillah kalo menurut saya di UGM udah cukup seperti itu). Sebab segala pertanyaan seperti itu biasanya berawal dari masalah-masalah yang hadir pada saat ospek yang “berlebihan”. Dan yang namanya sarana dan ikhtiar, pastinya selalu ada penyempurnaan dan perbaikan. Banyak jalan menuju Roma, tapi tentunya kita ga akan tau jalannya sebelum mencoba untuk melangkah :D. sebab dari merasakan perjalanan itulah kita akan benar-benar tau bahwa Laut dan gunung itu indah, mentari itu hangat, hujan itu bisa bikin tenang, dan bersamamu bisa bikin aku bahagia, bukan sekedar apa yang nampak di foto :D. at the least, semua punya ruang argumentasi dan alasan untuk sepakat dan tidak sepakat. Lalu, bagaimana pendapatmu? :D    

Jumat, 23 Mei 2014

Membaca Peta Pilpres : Edisi Jokowi

menarik menganalisis tentang gabungnya Anies Baswedan ke kubu Jokowi. secara tidak langsung dukungan ini akan menguatkan Jokowi secara suara dan politik.
Pertama, artinya kemungkinan besar Jokowi berhasil mendapatkan suara dari kaum intelektual yang sebelumnya mendukung Anies Baswedan.
Kedua, dengan hadirnya JK sebagai Wapres itu cukup memecah jaringan Golkar yang solid hingga tingkat RT. artinya kekuatan silent majority yang dimiliki Golkar tidak mutlak menjadi kekuatan prabowo saja. bahkan bisa jadi justru kekuatan tersebut ada di tangan Jokowi bukan Prabowo.
Ketiga, Jokowi berhasil menggandeng media-media strategis yang selama ini mencitrakan diri sebagai media "netral" dan "independen" sehingga seakan-akan publisitas yang dicapainya memang hasil kerja atau pandangan dari orang ketiga. lihat mulai dari Tempo, Kompas, detik.com, dan media lain termasuk Metro TV yang dimiliki Surya Paloh selalu menyuarakan hal yang positif dari Jokowi. tapi patut dilihat siapa yang berhasil menarik dukungan Dahlan Iskan, karena media-media yang beliau miliki itu sanggup menembus daerah-daerah minim informasi. hal ini berhasil membuat Jokowi sukses dicitrakan sebagai orang bersih sementara lawan politiknya dihajar dengan masa lalu yang masih menjadi misteri.
Keempat, tidak bisa dipungkiri "Banteng Merah" punya basis massa yang kuat di Jawa. bahkan se anarkis dan tidak mendidiknya kampanye "Banteng Merah" tetep aja mereka jadi partai pemenang pemilu.
Terakhir, Jokowi banyak didukung oleh intelektual kiri dan liberal serta jendral dan intel yang cukup kuat sebagai kekuatan politiknya. misal AM Hendripriyono yang terkenal sebagai orang BIN dan punya track record dalam bidang intelijen.
dengan kondisi seperti itu, artinya kekuatan politik Prabowo cuma pada dukungan kaum Islamis. maka pilpres ini menarik untuk melihat apakah suara ulama masih didengar apa tidak di zaman sekarang

Kamis, 22 Mei 2014

Tentang Pemimpin (hasil kajian tadi malam dengan sedikit tambahan)



Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda: “ Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu: Pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah ta’alaa, seseorang yang senantiasa hatinya dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab: “sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadakah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata”. (HR.Bukhari dan Muslim).

pernahkah rekan-rekan berpikir atau bertanya-tanya, kenapa dari 7 kelompok manusia yang akan endapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya itu Allah menyebutkan pemimpin yang adil dalam urutan pertama?

Ibrahnya adalah, jika seorang pemimpin itu adil, profesional dalam tugas-tugasnya, dan setiap kebijakan yang dikeluarkannya ditujukan untuk mencegah rakyatnya dari kemaksiatan dan mendekatkan kepada ketaatan kepada-Nya, maka efek kebermanfaatannya akan jauh lebih besar daripada ulama-ulama yang berceramah dari masjid ke masjid

oleh sebab itu, dalam perspektif Islam, tepatlah jika dikatakan menjadi seorang pemimpin itu seperti menempatkan satu kakinya di Surga dan satu kakinya di Neraka. jika ia adil, dan mendekatkan rakyatnya kepada ketaatan kepada-Nya, maka insya Allah surga baginya. namun jika sebaliknya, insya Allah neraka baginya. dan bayangkan saja 240 juta lebih rakyat Indonesia akan menuntut akan pertanggung jawaban seorang pemimpin di kemudian hari.

oleh karena itu, menjelang pilpres ini, coba telaah lebh dalam masing-masing calon yang ada. dalami, pahami, pelajari, kritisi. jikalaupun tidak kau temukan mereka-mereka yang mencalonkan diri itu orang-orang dengan ke-Islaman yang baik, minimal carilah orang-orang yang keberpihakan terhadap Islamnya baik. siapapun itu. ini bukan bermaksud SARA atau sejenisnya, tapi bagaimanapun atau apapun agama kita, kita ingin pemimpin yang bisa mengayomi, melindungi, dan menghargai kebebasan beragama kita bukan? dalam toleransi yang tidak pilih kasih dan salah makna. bukankah Muslim berhak untuk itu? berhak mendapatkan pemimpin yang membuat Muslim nyaman dalam menjalankan agamanya termasuk menjalankan seluruh syariatNya yang memang syumul (menyeluruh)? yang mengatur segala hal dari kita bangun tidur hingga kita tidur kembali? dari hal privat, ibadah sampai yang sifatnya publik semacam tata ekonomi dan tata kenegaraan? so, jangan salah pilih! :D

Selasa, 08 April 2014

Pilih Partai Apa Enaknya??? :D


Teman (T) : Fal, besok tanggal 9 April nyoblos ga??
Gue (G) : nyoblos lah, sayang banget gitu kalo golput, kan pemerintah udah keluar uang banyak buat pemilu, dari duit kita2 juga, mubazir dong kalo disia-siakan? lagian menurut gue ini salah satu ikhtiar kita untuk memperbaiki negeri ini :D
T : ah yakin lu? menurut gue ga ada bedanya, toh yang kepilih sama aja, korup-korup juga
G : hehe gue sih yakin Allah ga mungkin ngasi negara isinya orang buruk semua. pasti ada orang-orang baik yang mau merubah negeri ini. nah tugas gue adalah mencoba mendorong orang-orang baik untuk mengelola negeri ini menjadi negara yang adil dan sejahtera dengan cara memilihnya :)
T : tapi kan kata beberapa orang demokrasi haram bro?
G : wkwkwk, yo monggo kalo nganggep demokrasi haram. gue selalu bilang, gue akan sangat setuju kalo ada sistem yang lebih baik dari demokrasi. saya selalu mengatakan, yuk kalian buat, nanti pasti ikut deh kalo bener2 ada dan teruji, tapi kalo belum ada dan kemampuan kita belum sanggup buat yg kayak gitu, minimal yang bisa kita lakukan adalah menjaga kebaikan tetap ada di dunia yang bergetah ini. "menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan"
T : wah iya juga ya, betewe emang lu milih partai apa fal?
G : gue... milih partainya "bunga" aja deh :D
T : he? bunga itu siapa? dia milih partai apa?
G : hehehehe... kepo beud deh :v
T : ah ga jelas lu mah, serius gue nih, gue bingung mau milih siapa dan partai apa. bantuin gue kek, daripada gue golput? :p
G : hehehe, bro, ini udah zaman socmed. bisalah kita2 nyari di gugel tentang track record partai en caleg. data nama caleg juga ada di kpu.or.id . kalo mau kritis, cek juga sekalian platform atau gagasan dia untuk Indonesia ke depannya, kinerja dalam pemerintahan selama ini seperti apa, kinerja di masyarakat kayak gimana, tingkat korupsinya berapa, prestasi orang-orangnya kayak gimana
T : wah ribet juga ya, kalo sederhananya gimana?
G : kalo gue sih punya beberapa kriteria
- Partai yang korupsinya paling dikit, pengen ga ada korupsi? suruh aja malaikat nyaleg :D, gue sih berpendapat mending pilih partai yang punya sistem pencegahan korupsi paling baik, dilihat dari berapa lama dia ada di pemerintahan, berapa total jumlah alegnya dan berapa jumlah aleg yang terkena korupsi. lebih bagus lagi jika partai tersebut punya sistem pendidikan moral bagi kadernya
- Partai yang punya kaderisasi baik. artinya kadernya nyata ada. bahkan bagusnya kalo kadernya itu bener-bener terdidik atau mayoritas dari generasi terpelajar.
- partai yang peduli ga cuma peduli kalo ada pemilu, partai yang selalu hadir dalam setiap suka dan duka masyarakat, partai yang selalu sigap ketika ada bencana
- Partai yang peduli sama masa depan bangsa, dilihat dari apakah sistem kaderisasi nya termasuk pendidikan moral keagamaan, ga cuma pendidikan politik aja
- Partai yang kadernya punya banyak prestasi positif, entah alegnya entah gubernurnya :)
intinya adalah partai yang tak lelah bekerja untuk Indonesia :D
T : wah banyak juga ya, tapi kalo itu cuma pencitraan aja gimana fal? misalnya bantuin bencana supaya orang2 pilih partai itu?
G : buat gue sih, yang namanya pencitraan itu wajar. lu juga kalo suka cewe pasti bakalan memperbaiki citra toh? hehe. tapi yang patut diingat adalah, apakah citra itu selaras dengan kerja-kerja nyatanya? apakah dibalik citra yang dibangun ada kebermanfaatan yang besar untuk Indonesia? :D
T : wah iya juga ya, tapi emang beneran ada partai kayak gitu?
G : menurut gue sih ada, ini bukan negeri dongeng ko.asal kita mau aktif mencari tau. dan kita cover both sides ga cuma tau dri media, kepo dong ah :D
T : kalo gue ga memilih partai itu gimana fal
G : ga masalah, asal lu tetep memilih yang benar-benar membawa kebaikan bagi bangsa ini. patut dilihat juga rekam jejak parpolnya karena dalam legislatif, dalam pengambilan keputusan itu berdasarkan parpol jug. intinya, jangan golput!! :D
T : eh kalo capres lu pilih siapa fal
G : gue sih sukanya #TurunTangan bersama #GenAMPM :D

#pagi #atdjak

Senin, 07 April 2014

#TentangKita :D

ini hari-hari yang tidak akan kita lupakan
ini hari-hari yang akan kita rindukan
ketika kita menari di bawah hujan
ketika dinginnya air tergantikan oleh kehangatan ukhuwah dan keceriaan
ketika orang lain memilih jalan mengancam
kami memilih berbagi senyum salam sapa
sebab hanya cinta yang kan membuka tautan hati dalam dada
maafkan jika kami ada salah yang membentuk titik noda
sebab kita tahu bahwa kita manusia
hanya saja kita kan selalu bertekad menjadi generasi yang selalu memperbaiki diri
ini ikhtiar duniawi kami, mungkin kan dilanjut di ikhtiar ruhiyah kami
maafkan kami yang tak sempurna, karena sejarah mengajarkan bahwa kita adalah generasi pembelajar, perbaikan adalah jalan cinta kami
ingatlah kembali apa yang menyatukan kita
apa yang menjadi nilai prjuangan kita
tak usah kau dengarkan orang-orang yang ribut tapi diam geraknya
sebab cinta hanya dibuktikan dengan kerja
sebab harmoni mustahil tercapai dengan berpangku tangan
mungkin diantara riuh rendah keceriaan di tengah rintik hujan lah
ada satu dua doa yang terkabulkan demi apa yang kita cita-citakan

Golput? Yakin?

perdebatan tentang kata itu terus saja berlangsung, baik yang memakai alasan kekecewaan terhadap pemerintah yang ada sekarang, bingung ga kenal dengan calon-calonnya ataupun alasan-alasan lain entah rasional entah tidak, bahkan ada yang dengan alasan ideologis keagamaan bahwa sistem demokrasi itu haram dan bertentangan dengan aqidah Islam (entah ini kesimpulan darimana, saya bolak-balik beberapa kitab aqidah dan dapet kajian wajib aqidah tiap senin pagi ga nemu bab sistem pemerintahan itu masuk aqidah)

entah dengan alasan apapun, itu pendapat masing-masing, itu pilihan masing-masing. dan UUD 1945 sudah jelas melindungi yang namanya kebebasan berpendapat bahkan ketika pendapatnya menentang kebebasan berpendapat sekalipun. hanya saja, yang saya ingin rekan-rekan ketahui, bahwa dengan angka golput berapapun hasil pemilu tetap sah. dan tahukah kawan? mungkin anda tidak merasakannya secara langsung, tapi setiap kebijakan publik lahir dari keputusan-keputusan politik yang lahir dari orang-orang yang kita pilih (atau tidak kita pilih kalo anda memutuskan golput). pendidikan bisa mahal/murah atau bahkan gratis, harga sembako bisa stabil murah, pelayanan masyarakat baik, dll itu semua lahir dari keputusan politik mereka yang terpilih. maka bagi saya pribadi, jika anda kecewa dengan pemerintahan yang sekarang, hukumlah orang-orang yang bikin kecewa dengan tidak memilihnya dan pilih orang yang merepresentasikan keinginan anda. bahkan kalo perlu buat kontrak sosial dengan dia tentang apa yang kalian ingin dia lakukan ketika sudah terpilih. ga kenal calonnya? kepo dong ah, sekarang kan jamannya socmed, udah banyak juga politisi yang punya FB/Twitter

tapi kalo kalian ga merasa terganggu dengan harga kuliah mahal, harga sembako melangit (yang berimbas ke harga burjo melangit juga ), pelayanan masyarakat yang bisa disuap dan main tipu2, dll karena iu ga mengganggu kepentingan pribadi anda atau anda lebih suka mengkritik dan mencaci tanpa keinginan berkontribusi lebih jauh merubah pemerintahan kita, monggo, silahkan, itu juga pilihan anda. dan ingat setiap pilihan kita punya pertanggung jawabannya

ah, terkait demokrasi yang dianggap sebagian orang kufur, haram, thagut dan kata2 lainnya, saya sangat senang sekali jika memang ada sistem pemerintahan yang bisa lebih baik dan lebih cepat mengantarkan masyarakat Indonesia dalam cita2 keadilan dan kesejahteraannya (salah satu fungsi kenapa kita membentuk sebuah negara). ya silahkan segera dirikan sistem pemerintahan baru itu entah dalam nama khilafah atau semacamnya dan dengan mekanisme pemilihan pemimpin yang ga haram, kufur, thagut, dll.

tapi buat saya, "lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". jika ide yang terlalu idealis itu memang kita belum sanggup melakukannya maka lebih baik mulai perbaikan dari hal yang kita anggap kecil, karena ga ada rumah yang langsung jadi tanpa kita menyusun bata-bata terlebih dahulu. karena sebuah peradaban besar itu disusun oleh kepingan sejarah-sejarah kecil-kecil tapi bermakna besar.

mengutip perkataan salah seorang yang menginspirasi saya dengan pemikirannya, Anis Matta Lc. "yang kita butuhkan itu bukan seorang satrio piningit. tapi yang kita butuhkan adalah orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan luar biasa dengan cara yang tidak biasa. yang kita butuhkan adalah tim untuk memajukan Indonesia!!"

ingat pemilu 9 April dan jangan Golput!!

Media? Netral? Independensi? Golput?


beberapa hari yang lalu, ada sebuah diskusi menarik terkait peran media dalam mempengaruhi partisipasi dan pilihan politik. misalkan ada orang jahat dan orang baik. keduanya berkontestasi dalam pemilu. karena orang jahat ini punya media atau di dukung oleh media, mudah baginya untuk membentuk citra baik untuk dirinya dan memburukkan citra lawan yang orang baik tersebut. orang jahat ini biasanya akan dicitrakan tidak ambisius mengejar jabatan, tapi sejatinya dialah yang paling mengejar jabatan itu. dengan cara apa? buat orang jahat ini, untuk meraih simpati orang awam pedesaan dengan tingkat pendidikan dan rasionalitas rendah, mudah saja menggunakan politik uang dan kekuasaan. toh media-media yang pro orang jahat tersebut tidak akan memberitakan keburukannya. dan orang-orng awam rata-rata percaya saja dengan framming media tersebut. untuk masyarakat perkotaan dengan tingkat rasionalitas tinggi, mereka digiring untuk tidak percaya pada pemerintah dan tidak percaya partisipasi pemilu dan politik dapat mengubah keadaan. massa kritis ini akan diarahkan untuk golput dan tidak percaya bahwa masih ada orang baik yang ingin mengubah pemerintahan. bahkan kalau perlu dihadirkan dalil-dalil keagamaan tentang sistem yang tidak baik, kafir, thagut dan sebagainya. untuk yang bisa dipengaruhi media biasanya akan diarahkan sama dengan kondisi awal untuk memilih orang jahat yang sudah dicitrakan baik oleh media ini.

lalu bagaimana dengan orang baik itu? sayangnya orang-orang baik ini bukan penguasa media, sehingga kebaikan yang dibawanya atau kerja-kerja kebaikan yang dicapainya tidak terekspos. bahkan salah sedikit saja akan langsung dihujat habis-habisan bagaikan kejahatan tingkat tinggi. orang baik ini, bisa sangat mudah menjadi sasaran citra buruk dari media-media yang sudah pro orang jahat tadi. kalo tidak ditemukan kelemahannya, maka dibuatlah fitnah-fitnah untuk melemahkan orang-orang baik ini. toh masyarakat rata-rata percaya-percaya saja dengan framming media. di basis pedesaan, orang-orang baik ini ga mungkin mengambil jalan politik uang dan kekuasaan, dan biasanya di adu domba dengan isu-isu sensitif keagamaan. di masyarakat perkotaan yang rasional, basis massa mereka diarahkan untuk golput dan tidak memilih mereka. dan seringkali mereka dituduh ambisius mengejar jabatan karena aktif mengajak orang-orang memilih, karena mereka sadar bahwa kehadiran mereka penting untuk mencegah banyaknya orang jahat memimpin negeri ini. bahkan seringkali pula diantara orang baik ini diadu domba agar bertengkar sesamanya atau dengan yang sudah terframming media untuk golput entah dengan alasan keagamaan atau alasan tidak percaya dengan orang-orang baik ini.

jadi, framming media itu bisa merubah orang jahat yang sangat ambisius menjadi tidak ambisius dengan bahasa-bahasa populis semacam "netralitas","independensi',"golput lebih baik", atau dalam bumbu-bumbu keagamaan seperti "demokrasi haram, kufur, thagut, dll" sedangkan dia mengkonsolidasi basis massa ideologisnya untuk wajib memilih

begitu juga sebaliknya, framming media bisa membuat orang-orang baik yang sebenarnya ikhlas berjuang untuk memperbaiki negeri ini dicitrakan sebagai orang-orang haus kekuasaan, ambisius, kalau perlu difitnah dengan isu-isu sensitif seperti korupsi, teroris, intoleran, dan dengan dalil-dalil keagamaan "ahlut thagut, ahlul bid'ah", dll. tidak percaya? well bukankah sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang baik yang mencoba memperbaiki negeri ini lewat jalur apapun terutama ekonomi dan politik diperlakukan??

dan yang paling penting adalah, anda hendak berdiri dimana?
itu pilihan anda masing-masing. tapi saya selalu yakin "menyalakan lilin lebih baik daripada mengutuk kegelapan", dan "sebuah peradaban besar itu dibangun oleh potongan sejarah-sejarah kecil namun bermakna"

so, bijaklah dengan pilihanmu, karena setiap pilihanmu punya pertanggung jawabannya nanti!!

Senin, 10 Februari 2014

#SaveOurDemocracy#SaveIndonesia (Sebuah Refleksi Kritis Menjelang Pemilu)



Kurang lebih 2 bulan lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi yang untuk kesekian kalinya akan memilih orang-orang yang akan memimpin negeri ini. Pesta yang hadir 5 tahun sekali selalu menarik perhatian banyak orang karena disinilah optimisme dan pesimisme bercampur menjadi satu; apakah nasib bangsa ini akan berubah menjadi lebih baik, samasaja, atau malah ebih buruk?. Di tengah perjalanan demokrasi kita yang sedang dalam proses pendewasaan di usianya yang menginjak 16 tahun semenjak reformasi digulirkan, transisi kepemimpinan di tahun 2014 ini menghadapi situasi yang sangat dilematis ;puncak dari apatisme masyarakat terhadap pemerintah, birokrasi, dan terhadap politik itu sendiri, namun disisi lain tidak bisa dinafikkan bahwa “Demokrasi 5 Menit” ini juga akan berpengaruh pada arah bangsa ini ke depannya.
            Kenapa dilematis? Sebenarnya jika kita mau sedikit membaca dan menganalisis, pemilu 2014 ini adalah momentum peralihan generasi. Jika kita melihat dari segi usia, pemilu 2014 inilah saatnya generasi pasca reformasi mulai menggeliat mengisi ruang-ruang publik. Artinya generasi dengan cara berpikir era Orde Baru yang menitikberatkan pada model kepemimpinan kharismatik (yang sayangnya di beberapa partai masih saja menggunakan pendekatan model ini) sudah saatnya turun gunung dan digantikan dengan semangat dan jiwa muda dari para pengusung reformasi yang lebih menitikberatkan pada kepemimpinan kolektif yang sesuai dengan karakter demokrasi itu sendiri. Hal ini juga didorong oleh karakter masyarakat yang oleh AnisMatta sebagai masyarakat gelombang ke-3dimana karakter masyarakatnya mayoritas adalah kaum nativedemocracy yang lahir setelah reformasi sehingga banyak yang tidak merasakan rezim totaliter dan cenderung menikmati hidup dalam suasana demokrasi dan cenderung wellinformed. Namun, transisi kepemimpinan ini akan sedikit terganggu dengan tingginya apatisme masyarakat terhadap pemerintah, partai politik, bahkan terhadap politik itu sendiri. Ini terkait dengan kinerja pemerintahan SBY selama 2 periode ini belum banyak memberikan dampak positif bahkan semakin maraknya kasus korupsi yang dilakukan baik oknum di pemerintahan, dewan perwakilan, maupun lembaga kehakiman.
            Nampak bahwa apatisme politik ini sengaja ditumbuh suburkan baik oleh media, pengamat politik, elit-elit partai politik, bahkan hingga di tataran obrolan warung kopi. Di kampus, wacana-wacana yang mengemuka adalah “independen” dan “netral” yang salah tafsir sehingga banyak mahasiswa yang notabene kaum intelek dan rasional justru menjauhkan dirinya dari sesuatu bernama politik. Media juga semakin memprovokasi dengan berita negatif terkait politisi tanpa mengedukasi tentang bagaimana pencerdasan politik itu sendiri. Hei pernahkah kita mendengar di berbagai media partai-partai mana saja yang termasuk juara korupsi ? atau pernahkah kita mendengar perbandingan jumlah korupsi masing-masing partai dengan pemberitaan yang adil? Atau menjelang pemilu ini adakah media yang mengadakan diskusi membedah blueprint rencana-rencana baik jangka pendek maupun jangka panjang tentang apa yang akan mereka (caleg partai) ingin lakukan ketika terpilih nanti? Dalam bentuk program yang rinci? atau pernahkan ada bedah prestasi asing-masing calon baik calon anggota legislatif maupun calon presiden? Prestasi apa saja yang sudah mereka berikan untuk bangsa bahkan sebelum mereka memimpin? atau adakah media yang adil memberitakan kinerja-kinerja partai selama ini baik di pemerintah maupun masyarakat? Atau partai mana saja yang kaderisasi politiknya aktif? Hal ini dikarenakan banyak partai yang hanya menjadi kendaraan politik semata tanpa penanaman etika, moral dan ideologisasi politik itu sendiri. Semua caleg dan partai bisa dengan lantang mengatakan bahwa mereka peduli, pro rakyat, partainya wong cilik, dan segala macam gombalan politik lainnya, tapi bagaimana cara kita menilainya? Saya mengambil kasus banjir yang melanda banyak daerah dan bencana di Sinabung. Kader partai mana saja yang aktif dalam membantu masyarakat ketika terjadi bencana tersebut? Atau dalam kerja mereka sebagai partai, partai mana saja yang aktif mengadvokasi (dalam hal ini fraksi di DPR/DPRD) bantuan banjir? Partai mana saja yang selama ini aktif melayani masyarakat bahkan ketika bukan musim pemilu?Partai mana saja yang sekretariatnya buka setiap hari? Pemimpin daerah dari partai mana saja yang aktif menganggulangi bencana? Maaf saja, saya punya keyakinan “bagaimana mungkin bisa dikatakan pro rakyat jika selama ini jarang hadir ditengah rakyat?”. Banyak hal-hal positif yang sengaja tidak ditampilkan oleh media dalam porsi yang adil justru membuat apatisme politik kian meninggi.
Fenomena ini justru mengangkat partai-partai yang terbiasa korupsi untuk cuci tangan dan membuat masyarakat menganggap mereka bersih.Kenapa? Karena masyarakat yang wellinformed dan welleducated ini akan memilih tindakan yang mereka anggap “idealis” yaitu Golput, sementara masyarakat yang masih “polos” dan tidak terlalu peduli biasanya akan digaet partai-partai korup ini dengan Money politic, terutama di daerah. Atau dengan “membayar” media mereka akan mengkampanyekan calon dari partai korup ini dengan citra yang dibuat-buat. Efeknya apa? Tentu masa depan bangsa inilah yang jadi taruhannya.
Hal ini menuntut kita untuk menjadi rakyat yang berpartisipasi aktif dalam menilai para calon-calon wakil kita dan pemimpin kita tersebut. Karena bagaimanapun juga, nasib bangsa ini akan ditentukan oleh mereka ke depannya, walaupun kita memutuskan untuk pasif dalam pesta demokrasi ini. Apakah kita hanya tipe rakyat yang “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”, hanya bisa menghujat, mengkritik tanpa memberi sumbangsih berarti dalam transisi kepemimpinan bangsa ini. Kenali mereka, analisis mereka, tanya prestasi dan program mereka, buatlah kontrak politik dengan mereka terkait janji-janji mereka. Hukum berat partai yang langganan korupsi. “Negeri ini bobrok bukan karena orang-orang brengsek dan bajingannya terlalu banyak, tapi karena orang-orang baik lebih memilih diam dan tenggelam dalam khayalan idealisnya dibanding terjun berjuang dalam realita”. Tentukan pilihanmu, selamat memilih dan selamat berdemokrasi!.