“masih terlalu banyak
mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan, tetapi menindas
kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain.
Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan menjadi
korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi” –Soe
Hok Gie-
Beberapa hari
yang lalu, ada sebuah diskusi sangat menarik di grup WhatsApp asrama. Berawal
dari membahas berita tentang salah satu ospek di salah satu Universitas Islam
di Surabaya yang “kurang ajar” dan “menantang” Tuhan, lalu tiba-tiba saja topik
berubah menjadi “kenapa harus apa ospek?”,”penting ga sih ospek itu?”, *sayang
saya udah tidur duluan habis nganter mba kesana kemari buat persiapan ke Batam
besoknya hehe*
Topik ini
selalu ada dan selalu menjadi perdebatan setiap awal tahun ajaran baik di level
mahasiswa baru, mahasiswa berlabel “aktivis”, kakak-kakak panitia ospek, dosen,
dekanat, rektor, orang tua, dll. Yap, semuanya yang pernah merasakan ospek
entah dia hidup di zaman apa dan di ospek di kampus mana. Pastinya selalu ada
argumentasi pro dan kontra terkait hal tersebut, apalagi di beberapa kampus
ospeknya menghasilkan berita-berita mengerikan seperti kasus ospek diatas, atau
di satu-dua kampus di Malang dan Bandung yang ospeknya berujung pada
meninggalnya mahasiswa baru yang sedang melakukan ospek tersebut. Atau kalau
kata seorang teman yang memulai diskusi ini bagaimana sebuah kampus terkenal di
Jakarta yang terkenal dan sangat mahal ada ospek yang mewajibkan mahasiswa baru
untuk memakai topi pesulap dan memakai kaos kaki sepakbola yang satu oranye
yang satu hitam (mbuh, saya juga gatau kampus mana dan ospeknya seperti apa).
“Kenapa
harus ada Ospek? Kalo tujuannya Cuma buat pengenalan kampus gausah ngikut ospek
juga kenal sama kampus, bisa kenal sendiri. Buat kenal kampus? Kan ada buku
panduan akademik, buku A,B, C, D bla bla bla yang menjelaskan hal tersebut”
sebenarnya kalo kita refleksikan lebih jauh, pertanyaan-pertanyaan seperti ini
bisa diubah dalam sub tema yang berbeda “kenapa harus ada sekolah? Kampus?
Zaman dulu ga ada sistem pendidikan kayak gini banyak melahirkan
cendekiawan-cendekiawan ilmu” atau “kenapa harus berdakwah? Toh hidayah
ditangan Allah, belum tentu dengan dakwah kita seseorang langsung beriman dan
jadi shalih” atau bisa juga “kenapa kita harus memilih presiden? Toh siapapun
presidennya, kehidupan rakyat sama aja”. Sama aja kan? Sebab pertanyaan
“kenapa” itu selalu membutuhkan jawaban dan melahirkan argumentasi hahah :D
In My Hound
Opinion, saya sepakat dengan pendapat salah seorang teman yang ikut diskusi
tersebut, bahwa semua yang dilakukan dalam ospek tersebut merupakan salah satu
SARANA, atau kalo bisa saya tambahkan hal tersebut merupakan ikhtiar sederhana
dari kita-kita ini yang tak sempurna untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut
(atau kalo di kampus saya UGM alasan paling pragmatis adalah supaya bisa lulus
dari UGM, soalnya, ospek merupakan syarat supaya bisa yudisium dan lulus dari
UGM). Apakah buat kenal kampus harus ikut ospek? Ya ga harus. Kita meluangkan
waktu buat seharian keliling-keliling kampus juga insya Allah bisa tau ko
bagaimana kampus tempat kita kuliah. Atau kalo supaya punya relasi, kenalan,
atau apalah sebagai makhluk social (saya gamau bermain teori) dulu waktu MOS
(ospek waktu SMA) ada temen saya (yang kemudian jadi sahabat saya waktu SMA)
melakukan cara unik dengan menyalami dan berkenalan dengan setiap siswa yang
baru datang waktu pagi hari pertama ospek. Tapi pertanyaannya, berapa banyak
orang atau maba atau apalah sebutannya yang punya inisiatif yang sangat luar
biasa seperti itu? Atau jika dia ada inisiatif berapa banyak (misal dia dari
luar kota tempat dia kuliah) yang percaya diri buat ngelakuin itu? Atau jika
dia punya inisiatif dan percaya diri berapa banyak yang tau cara untuk
“benar-benar” mengenal kampus dan segala jenis adat, adab, lingkungan, budaya,
dan sejenisnya?.
Kalau dalam
konteks yang lebih luas, kita bisa juga berkata seperti diatas, ngapain kita
harus sekolah selama 12 tahun kemudian ditambah lagi kuliah (idealnya) 4 tahun?
(kalo di MIPA sih susah, rata2 4,5-5 tahun hahah). Realitanya banyak yang masuk
dalam mata kuliah atau pelajaran yang justru ga kepake di dunia nyata?. Atau
seperti pertanyaan ngapain kita berdakwah? Toh hidayah yang ngasi Allah bukan
kita. Mau kita berdakwah toh yang mengubah hati manusia agar beriman dan
bertaqwa kan Allah?
Yap, sekali
lagi, bagi saya (atau juga beberapa orang yang sepakat) ospek merupakan salah
satu sarana dan ikhtiar manusiawi kita untuk mengenalkan bagaimana kampus
dengan segala keunikannya, sebab dunia kampus ga cuma sekedar apa yang ada
dalam buku panduan akademik yang formal dan “kadang” terlalu ideal. Kalo
sebatas sarana bisa make cara lain dong? Ga harus ospek? Ya bisa, silahkan saja.
Tapi yakin ga bisa membuat semua adik-adik kita jadi mengenal kampus? Mengenal
lingkungan, adab, dll? Bisa jadi kasusnya malah kayak seorang mahasiswi S2 di
salah satu kampus terkenal di Yogya yang perkataannya di social media bikin
berang satu Yogya (karena S2 ga ada ospek hahah). Sama seperti ikhtiar Menteri
Pendidikan kita tercinta membuat berbagai jenjang pendidikan atau ikhtiar
kita-kita atau mereka yang berlabel “aktivis dakwah” yang berbaik hati
mengenalkan Islam tanpa lelah J. Pengalaman saya, kalo ga ada MOS dulu, saya mungkin
ga kenal rohis dan kakak-kakak rohis yang dulu berbaik hati membimbing saya
menjadi manusia yang lebih baik (walaupun sampe sekarang masih banyak bandelnya
juga :D ).
Kedua, bagi saya pribadi, ospek juga
merupakan tempat untuk menemukan keluarga baru (yah syukur-syukur sih bisa
beneran jadi “keluarga” hahaha #bukankode #bukanmodus ). Bisa kenal Besties
(sahabat waktu SMA, dulu sekelas di X1 SMAN 12), Rohis Ashabul Kahfi (nama
rohis angkatan saya, dengan sahabat-sahabat keren macem Sauqi, Baim, Yudhi,
Irfan, Apip, Alif, dll), Math Undip ’11, sahabat macem Risky Khaerul Imam
(sekarang ketua BEM FSM Undip doi), Istajib S Hakim, Stand Up (Statistika
2012), Moeso Suryowinoto (kelompok Palapa waktu tahun 2013), dan yang terbaru rekan-rekan
co-fas Medika (yang demen membully dan dibully) dan Sardjito 07 yang
anak-anaknya kece dan rame banget dan demen ngebully cofasnya, serta bisa
kenalan sama kamu, iya kamu (siapa aja boleh, saya ga bilang satu nama lho
hahah :D ).
And in the last paragraph, saya piker
segala pertanyaan “kenapa harus ada ospek?” bisa terjawab jika sistem ospeknya
dibuat manusiawi dan bersahabat tapi tetap tegas dan mendidik (Alhamdulillah
kalo menurut saya di UGM udah cukup seperti itu). Sebab segala pertanyaan seperti
itu biasanya berawal dari masalah-masalah yang hadir pada saat ospek yang
“berlebihan”. Dan yang namanya sarana dan ikhtiar, pastinya selalu ada
penyempurnaan dan perbaikan. Banyak jalan menuju Roma, tapi tentunya kita ga
akan tau jalannya sebelum mencoba untuk melangkah :D. sebab dari merasakan
perjalanan itulah kita akan benar-benar tau bahwa Laut dan gunung itu indah,
mentari itu hangat, hujan itu bisa bikin tenang, dan bersamamu bisa bikin aku
bahagia, bukan sekedar apa yang nampak di foto :D. at the least, semua punya
ruang argumentasi dan alasan untuk sepakat dan tidak sepakat. Lalu, bagaimana
pendapatmu? :D







