“hati-hati ikut pengajian ini, nanti kamu jadi
teroris, ekstrimis, fundamentalis…”
“jangan ikut kelompok itu, nanti kamu jadi Wahabi,
khawarij, dll…”
“jangan ikut-ikutan aliran itu, itu ahlul bid’ah,
ahlul thagut, bla bla bla..”
“jangan dekat-dekat sama dia, dia Syiah, liberal, blab
la bla…”
Sering
mendengar kalimat seperti diatas? Ya, kalimat tersebut umum terdengar di
telinga kita terutama setelah keran informasi terbuka begitu deras dengan
berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan tersebut
ditandai dengan munculnya smartphone yang mempermudah kita mengakses internet
dan maraknya penggunaan social media seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Line,
Path, dan semacamnya. Namun, perkembangan teknologi yang demikian cepat
tersebut nampaknya tidak diimbangi dengan kecepatan masyarakat dalam membangun
logika berpikir yang logis, ilmiah, runut dan terstruktur. Budaya membaca yang
lemah ditambah dengan kebiasaan alam bawah sadar untuk “bergosip ria” serta
lemahnya filter diri terhadap derasnya informasi, membuat banyak dari
masyarakat yang cepat percaya pada berita yang belum terbukti kebenarannya.
Fakta
ini kemudian tambah diperparah dengan media massa yang abai terhadap etika
jurnalistik, baik media massa besar maupun media kecil-kecilan yang tumbuh bak
jamur di musim hujan dengan mudahnya membuat website di internet. Informasi
yang seharusnya ditampilkan secara utuh dan jernih dipaksa untuk dipotong,
ditambahi, dikurangi, diberi bumbu, dan semacamnya hanya untuk kepentingan
pemilik media, entah pendanaan, alasan ideologis, atau hanay sekedar media
tersebut laris dibaca oleh masyarakat. Abainya media hari ini bisa dilihat dari
banyaknya berita yang antara judul dan isinya tidak sesuai, menggunakan
identitas anonym sekenanya tanpa bisa dipertanggungjawabkan, merekayasa sebuah
data, fakta bahkan sebuah kejadian baik secara halus maupun terang-terangan,
tidak cover both side atau berat sebelah, dan masih banyak lagi.
Dampak
dari hal-hal diatas sangat besar kaitannya dengan kedewasaan kita dalam
mengelola informasi yang kita terima. Secara tidak sadar, media massa menuntun
kita untuk membiasakan diri dengan tuduhan-tuduhan yang sifatnya subversif.
Dengan dalih memberantas ancaman terhadap Negara, secara serampangan banyak media
massa yang berhaluan sekuler memberi label “teroris” kepada Islam dan aktivis
muslim khusunya. Demikian pula sebaliknya, menghadapi perlakuan seperti itu,
banyak media “Islam” yang secara serampangan pula menggunakan pola subversif
kepada yang tidak sependapat dengan bahasa yang keras seperti
“kafir”,”thagut”,”bid’ah”, dan ungkapan lainnya yang sejatinya belum bisa
diterima publik yang awam pengetahuan agamanya. Sehingga muncul sebuah konflik
horizontal yang sebenarnya bisa dihindari antar media massa karena sensivitas
isu terhadap Islam itu sendiri.
Membangun Budaya Membaca dan Berpikir, Mencegah Pola Berpikir Subversif
Jika
kita mau untuk berpikir lebih jauh, tuduhan-tuduhan subversif seperti itu
sebenarnya bisa dicegah dengan membangun konstruksi berpikir yang logis dan
ilmiah. hal ini bisa dimulai dengan membangun kebiasaan membaca, berpikir,
berdiskusi dan menulis. Kita yang mempunyai nurani dan pikiran yang jernih akan
berpikir “apakah benar mereka seperti apa yang dituduhkan? Bagaimana sih sebenarnya
pola pikir mereka, benarkah seperti itu? Apa yang membangun pola berpikir
mereka?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan mengantarkan kita pada
pencarian asal atau dasar dari gagasan-gagasan dari mereka yang tertuduh secara
subversif tersebut. Benarkah kelompok A teroris? Bacalah buku-buku atau tulisan
yang menjadi kerangka berpikir mereka. apakah benar aliran B sesat? Baca,
kenali, pahami. Tidak hanya dari satu sumber, namun dari berbagai macam sumber.
Misal, untuk memahami pola berpikir kelompok A tentunya dimulai dengan
tulisan-tulisan dan bacaan yang menyusun konstruksi berpikir kelompok A sebagai
sumber primer. kemudian membaca pembandingnya. Tentunya kita juga harus
memiliki metode berpikir yang logis dan ilmiah serta konsisten untuk menilai mana
informasi yang benar.
Kebiasaan asal tuduh ini juga tumbuh
dari budaya yang secara tidak sadar menjadi budaya bangsa kita yaitu selalu
ingin sesuatu yang instan. Derasnya arus informasi membuat kita dengan mudah
menelan mentah-mentah setiap berita yang kita baca dan dengar. Padahal, jika
kita menelusuri fakta dan kenyataannya, tidak semua yang dituduhkan benar
adanya. Penggunaan social media yang tidak tepat juga memunculkan budaya baru
yang tidak baik yaitu fenomena Clicking
Monkey, yaitu asal meng-share berita secara serampangan tanpa meneliti atau
mengklarifikasi berita tersebut dan juga #GenerasiPembacaJudul yang hanya
membaca judulnya saja tanpa melihat isi dari berita.
Menuju Masyarakat Sadar dan Cerdas Informasi
Sejatinya,
kemudahan kita dalam mengakses informasi bisa menjadi keuntungan dan nilai
positif apabila kita bisa membangun konstruksi berpikir yang utuh, logis dan
konsisten ditandai dengan kritisnya kita terhadap informasi yang datang dan
kemampuan memfilter informasi dengan baik. Informasi menjadi pedang bermata
dua, bisa menjadi senjata ampuh kala kita bisa mengelolanya dengan baik, namun
bisa membunuh kita kala kita masih tersangkut dalam pola berpikir subversif dan
tidak membangun budaya membaca dan berpikir. “Terorisme” Media Massa bisa disembuhkan
dengan komitmen penuh media massa untuk mematuhi etika-etika jurnalistik, dan
kesadaran kita dan kecerdasan kita dalam memahami media dan informasi.
Kecerdasan mengelola informasi ini bisa juga kita jadikan sebagai ukuran
seberapa meratakah pengetahuan dan ilmu yang ada di masyarakat? Sebarapa
bermanfaatkah ilmu dan pengetahuan yang ada sehingga masyrakat menjadikan pola
berpikir logis dan ilmiah menjadi karakter diri? Inilah yang menjadi PR bangsa
kita, ditengah euphoria terbuka lebarnya akses informasi dan kebebasan
berpendapat. Jangan sampai, kebebasan berpendapat memunculkan pola berpikir
asal tuduh menuduh sehingga membuat kita sesama bangsa saling curiga. Tumbuhkan
budaya membaca, diskusi dan menulis agar kita memiliki filter informasi yang baik.
Terakhir, yang harus kita pahami adalah, kita bisa bersepakat atau tidak
bersepakat atas sebuah gagasan, namun lawanlah dengan gagasan juga, bukan
dengan tuduhan. Lawanlah ide dengan ide, bukan dengan adu fisik. Karena
peradaban yang besar, lahir dari penghargaan yang baik terhadap ilmu dan
gagasan. Tentunya kita ingin bangsa kita menjadi bangsa yang besar dan beradab
juga bukan?
Azka Hasyami, Yogyakarta, 12 April 2015.
sudah dipublikasikan di https://melimove.wordpress.com/