Jumat, 12 Juni 2015

SHOUKOKU NO ALTAIR BELAJAR POLITIK DARI KOMIK

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata “politik”? mungkin mayoritas dari kalian akan berkata “ah ribet!”,”politik itu rumit”, “politik itu penuh tipu daya” dan semacamnya. Namun bagaimana jika kita bisa belajar tentang politik, mengelola sebuah Negara, menyusun siasat cerdas, sekaligus mempelajari model sejarah dan budaya kerajaan besar di masa lalu dalam sebuah ilustrasi sederhana bernama komik? Mungkin itulah yang mendasari karya seorang komikus bernama Kotono Kato.
            Shoukoku No Altair[1] bercerita tentang seorang Pasha[2] termuda dalam sejarah Turkiye[3]  bernama Tughril Mahmud. Tujuan awal Mahmud menjadi Pasha agar dapat menciptakan kedamaian dan kemakmuran di Turkiye. Tujuan terseut dilatarbelakangi oleh masa lalunya dimana seluruh penduduk desanya habis terbunuh dalam suatu perang. Namun ternyata di awal menjadi Pasha, Mahmud langsung dihadapkan dengan persoalan politik yang pelik, yaitu tuduhan pembunuhan  terhadap Menteri Balt-Rhain[4] dan Pemberontakan di Kota Hisar dimana salah seorang teman baik Mahmud, menjadi tersangka kasus ini. Dengan idealisme yang dimiliki, Mahmud berhasil menyelesaikan semua konflik tersebut. Setelah ditelusuri, semua kejadian tersebut ternyata didalangi oleh Perdana Menteri Balt-Rhain Virginia Louis, yang kemudian menjadi musuh utama dalam cerita ini dengan kecerdasannya. Kejadian itulah mengawali perang besar yang sedang menanti dunia dan Mahmud tentunya.
            Komik ini diterbitkan oleh Level Comic, yang memiliki segmen pembaca Dewasa (yang artinya agak tidak direkomendasi untuk anak kecil) Komik ini menarik untuk dibaca, terutama remaja yang ingin melihat sisi lain dari sebuah konflik politik dan kekuasaan. Meskipun mengambil latar sejarah Perang Salib, Kotono Kato dengan cerdas menghindari isu sensitif terkait agama dan kepercayaan. Beliau menggunakan cara dengan mengganti kepercayaan yang ada di komik ini dengan kepercayaan terhadap alam, Misal Turkiye yang memiliki latar belakang Islam diubah menjadi kepercayaan terhadap dewa Air. Selain itu, Kato juga menggambarkan sosok seorang Tughril Mahmud yang mempunyai idealisme berpolitik yang harus berbenturan dengan realitas dunia politik di Divan[5] yang penuh intrik. Usianya yang masih muda kadang menjadikan Mahmud seperti “kekanak-kanakan”,”terlalu idealis dan melangit”,”awam dan tidak realistis” dan semacamnya yang jamak terjadi di perpolitikan negeri kita.
            Dirangkai menjadi sebuah cerita dengan alur menarik, Shoukoku No Altair tidak hanya menjadi sebuah komik yang menghibur namun juga kita dapat belajar bagaimana membuat sebuah rekayasa politik, pengambilan keputusan seorang pemimpin, geopolitik internasional, kepercayaan dan sebagainya. Meskipun memiliki sedikit kekurangan seperti gambar yang masih cenderung kurang begitu baik dan jadwal terbit yang belum teratur, komik ini sangat direkomendasi untukmu yang lebih suka membaca komik daripada buku-buku politik yang “berat” namun juga mendapatkan pengetahuan yang penting. Jadi, kata siapa belajar politik itu berat? Yuk belajar politik melalui komik!

Azka Hasyami
Yogyakarta, 06 Maret 2015
11.31 AM

sudah dipublikasikan di https://melimove.wordpress.com/


[1] versi Indonesia berjudul Altair : Tale of The Great War
[2] semacam anggota dewan dalam struktur pemerintahan Khilafah Ottoman
[3] nama pemerintahan Kekhilafahan Turki Ottoman dalam cerita ini
[4] nama pemerintahan Byzantium dalam cerita ini, kerajaan yang berseteru dengan Turkiye dan berambisi menginvasi Turkiye dan seluruh daratan
[5] nama lain Dewan di Turkiye

Tidak ada komentar:

Posting Komentar