KRITIS ATAU SINIS?
By Naufal Ibnu Amzani
Dalam kehidupan siapapun pasti pernah
“terjatuh” ke dalam sebuah masalah, entah itu dimaknai sebagai sebuah ujian
ataupun musibah. Hal itu wajar saja terjadi sebagai sebuah proses perkembangan
dan pendewasaan diri seseorang. Karena proses pendewasaan itu selalu hadir
seiringan dengan masalah, pembelajaran dimulai dari bagaimana sikap dalam
menghadapi masalah tersebut. Apalagi jika kita berbicara tentang sebuah jamaah
dengan cita-cita besar bernama jamaah Tarbiyah, yang hari ini sedang mengalami
“ujian”nya dalam proses transformasi dan perkembangan dirinya dari sebuah
“jamaah” menjadi kekuatan yang sanggup memimpin dan menata ulang kembali
“taman” bernama Indonesia.
Dalam proses
menghadapi masalah tersebut, tentunya banyak keputusan-keputusan yang diambil
agar masalah tersebut dapat diselesaikan secara efektif. Dan tradisi
pengambilan keputusan dalam jamaah ini selalu menggunakan system syuro’ atau
musyawarah. Setiap pendapat dari masing-masing kepala dikeluarkan lalu dihimpun
dan dicari mana pendapat terbaik yang mampu mengatasi masalah dengan efektif
dan memiliki resiko terkecil. Namun dalam prosesnya, pasti akan tetap ada
orang-orang yang merasa tidak sepakat dengan keputusan syuro’ tersebut, dan
akhirnya mencoba untuk memberikan pendapat dan menawarkan pendapat tersebut ke
pemegang keputusan dengan berasumsi bahwa pendapatnya itu benar.
Disinilah
kadang masalah baru terjadi, ketika ada orang yang merasa tidak sepakat
keputusan jamaah, kemudian mencoba bersikap “kritis”, namun dalam aplikasinya
menjadi berlebihan hingga menimbulkan sikap “sinis”. Padahal keduanya adalah
hal yang berbeda. Jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritis adalah
“bersifat tidak lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan dan
kekeliruan, tajam di penganalisisan” sedangkan sinis adalah “bersifat mengejek
atau memandang rendah, tidak melihat suatu kebaikan apapun dan meragukan sifat
baik yang ada pada sesuatu”.
Dalam
menyikapi keputusan jamaah tersebut, disinlah kadang perbedaan dua hal tersebut
menjadi kabur. Ketika merasa tidak sepakat kepada keputusan jamaah, banyak
orang yang menjadi “kritis” padahal sejatinya dia “sinis”. Dan hal ini terkait
dari sejauh mana dia memahami persoalan tersebut, dan seberapa luasnya sudut pandang
yang diambil dalam memahami masalah. Mulai lumrah kritikan-kritikan pedas yang
tak jarang menurut saya malah tampak sebagai sebuah hinaan atau caci-maki,
dengan alasan “ini kritik kami terhadap jamaah karena kami cinta jamaah ini”,
“kita ingin jamaah ini kembali sesuai dengan asholah dakwah” dan semacamnya,
tanpa mempunyai analisis dan data yang kuat serta keengganan untuk
mengklarifikasi lebih lanjut kepada jamaah ketika “bermasalah”. Apalagi disaat
jamaah ini mulai menapaki fase mihwar daulah dimana tantangan-tantangan baru
dan perubahan zaman menuntut keputusan-keputusan yang kadang sama sekali
berbeda dengan fase-fase terdahulu. Sehingga yang keluar menjadi sebuah
pendapat justru sebuah kesinisan yang berbentuk sebuah caci maki.
Saya rasa
semua orang pernah kecewa, terlebih lagi kepada “jamaah manusia” yang bernama
Tarbiyah ini, baik secara personal kadernya maupun kepada keputusan jamaah. Dan
itu adalah hal yang wajar terjadi. Namun yang menjadi permasalahan adalah,
bagaimana cara kita mengatasi kekecewaan tersebut? Disinilah titik yang akan
membedakan sikap “kritis” dengan “sinis”.
menurut
saya, kritik yang dibentuk oleh sikap kritis adalah kritik yang dikeluarkan
dengan analisis dan data yang kuat dengan memahami persoalan secara menyeluruh,
paham medan “masalah” yang sedang dilalui, memahami dampak ke depannya baik
dari kritiknya maupun solusi yang dia tawarkan, dan kritik yang dikeluarkan itu
membangun bukan menjatuhkan. Sedangkan sikap sinis adalah kritik yang dilandasi
sikap benci atau kecewa, mengabaikan analisis dan data, dan sikap yang
dikeluarkan terkesan “asal kritik ga peduli dampak yang akan terjadi” dan pada
akhirnya hanya akan menjatuhkan. Bahkan tak jarang sikap sinis tersebut keluar
hanya dengan bermodal “katanya” tanpa mau mengklarifikasi dan menganalisis
dengan lebih mendalam. Sikap ini muncul dikarenakan adanya “asumsi sebelum
analisis”. Padahal obyektifitas sebenarnya bisa muncul ketika kita mampu
mengambil sikap “analisis mendahului asumsi”. Terlebih lagi ketika kita tidak
“kritis” juga terhadap media.
Maka
sikap-sikap sebenarnya bisa dipecahkan dengan beberapa hal. Pertama, penguatan
poin arkanul bai’ah pertama yaitu al-fahmu. Ini berkaitan dengan tradisi
intelektual di internal jamaah itu sendiri. Jika kita belajar pada kemenangan
Ikhwanul Muslimin di Mesir, Tarbiyah hampir 90 tahun hingga meraih kemenangan
itu ga berkutat hanya pada aktivitas politik, namun juga aktivitas ilmu.
Alhasil Ikhwan berhasil menelurkan ulama-ulama yang diakui dunia semacam Yusuf
Qardhawi, Sayyid Hawwa, Muhammad Al Ghazali, dan masih banyak lagi. Hal ini
yang saya pandang perlu dibenahi di jamaah tarbiyah di Indonesia ini. Masih
sedikit karya-karya yang dihasilkan (atau hanya sedikit yang tahu) terutama
fiqih-fiqih yang berkaitan dengan kondisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Ini
juga berkaitan dengan seberapa banyak buku yang kit abaca, dan seberapa banyak
sudut pandang yang bisa kita gunakan. Dengan menyuburkan kembali tradisi
keilmuan harapannya kader bisa menguatkan kembali poin al fahmu itu sendiri,
sebab jamaah yang tidak membiasakan tradisi intelektual pada akhirnya hanya
melahirkan kader yang taklid dan fanatik buta, dan pada akhirnya akan hancur
atau “terpencil” karena tidak mampu menjawab tantangan zaman. Karena bagi saya
pribadi, al fahmu itu ga cuma hanya mengerti dalil, tapi juga mengerti konteks
dalil, dimana, kapan dalil itu bisa diterapkan, serta mampu menganalisis dan
merencanakan secara jangka panjang.
Kedua, ini
terkait dengan model komunikasi dalam memahami keputusan jamaah. Mungkin banyak
kader yang kadang tidak mengerti mengapa jamaah mengambil suatu keputusan. Dan
ketika ada “serangan” datang, kader bingung untuk menjawab apa. Dengan adanya
komunikasi yang jelas, dan rasionalisasi sebuah keputusan yang logis, hal ini
juga akan mempersempit kemungkinan kader untuk kecewa. Saya melihat hal ini
mulai diperbaiki ketika pemilukada Jakarta ketika qiyadah memberikan penjelasan
atau rasionalisasi ketika mengapa memilih mendukung Foke dibanding Jokowi.
Ditambah dengan hadirnya web resmi yang aktif seperti PKSPiyungan, membuat
akhirnya kader sendiri mampu belajar menganalisis mana berita yang benar mana
yang salah. Pola komunikasi yang hanya mengandalkan ketaatan dan ke-tsiqah-an
saja tapi mengabaikan al fahmu hanya akan mematikan kemampuan berpikir dan
menganalisis kader yang pada akhirnya akan berimbas buruk juga bagi jamaah
tarbiyah ini.
Ketiga,
berani untuk mendengar kritik. Saya yakin jamaah ini bukan anti kritik. Tapi
kita juga bisa memilah mana kritik yang membangun mana kritik yang cuma
melampiaskan kekecewaan belaka. Saya pernah diceritakan oleh senior, salah satu
kelebihan dari presiden kita ustadz Anis Matta, kritik yang ditujukan kepada
jamaah ini selalu dipelajari oleh beliau, yang akhirnya digunakan untuk
memperbaiki hal-hal yang kurang dalam jamaah ini (tapi ini saya gatau bener
atau ngga hehe :p).
Maka
mulailah rajin untuk menganalisis segala hal dan segala kondisi secara
menyeluruh, sehingga yang keluar dari pendapat kita bukan fanatik membela
secara membabi buta ataupun sebaliknya, membenci secara berlebihan, yang pada
akhirnya membuat sesuatu yang kita sebut “kritis” menjadi “sinis” belaka.
Lagi-lagi saya mengutip sedikit pendapat kang @hafidz_ary : komparasikan saja,
pilah-pilih, mana yang logis dan rasional.
Terakhir, saya
mau mengutip pendapat salah seorang senior “kalau antum gampang kecewa sama
jamaah, justru harusnya jamaah yang kecewa karena punya kader gampang kecewa
kayak antum!”, dan juga mengutip pendapat salah seorang ustadz “kalo antum mau
keluar jamaah, emang yakin jamaah lain ga ada masalah? ga punya salah?”. Kita
yakin jamaah ini sesuai namanya “Tarbiyah” adalah jamaah yang senantiasa
belajar, karena cita-cita kita begitu besar, Ustadziyatul ‘Alam menuntut kita
untuk terus menerus belajar dan memperbaiki diri. Sekian.