Sabtu, 15 Juli 2017

TENTANG CINTA


Saya mulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan “saya tidak pernah merasa pernah atau sedang jatuh cinta atau mencintai seorang perempuan sepanjang saya hidup sampai saat ini”. Sebelum diprotes karena kewajiban mencintai orang tua, hal ini dalam konteks hubungan percintaan, tentu saja. Sebab durhaka namanya jika tidak mencintai ibunda sendiri. Aneh? Memang. Skeptis? Iya. Jelas. Tapi memang begitulah keadaannya. Ketika SD dan SMA dulu, saya memang pernah mengalami gejolak masa muda bernama pacaran dengan beberapa perempuan. Memang bukan untuk dibanggakan juga, namun saya bukan tipe orang yang mau membuang masa lalu hanya karena hal tersebut dipandang buruk. Oke fokus kembali ke topik. Saya memang pernah berpacaran, setelahnya juga mempunyai hubungan cukup dekat dengan satu atau beberapa perempuan, meskipun tidak sampai berstatus pacaran. Bahkan saya juga mengakui ada seseorang yang semenjak SMA sudah saya kagumi dan menarik hati sampai saat ini. Namun apakah saya jatuh cinta kepadanya? Saya cukup yakin untuk mengatakan tidak, atau mungkin, belum.

Saya lebih suka menggunakan kata “suka”, “nyaman” atau “tertarik” kepada seseorang perempuan yang sedang dekat atau saya pernah dekati, bahkan selama berpacaran dulu, cukup jarang saya menggunakan kata “cinta” dan “sayang” selama menjalin hubungan dahulu (dear mantan, koreksi jika saya salah). Karena menurut saya, definisi tentang cinta dan rasa sayang tidak sesederhana itu. Bagi saya, cinta adalah sebuah perasaan yang sama sekali tidak membutuhkan alasan, takkan hilang karena perubahan dari sesuatu yang kita cintai, dan membuat kita siap mengorbankan apapun demi hal yang kita cintai. Ya, apapun.

 Saya menganalogikan definisi cinta tersebut dari kewajiban setiap muslim untuk mecintai Allah sebagai Rabb kita, Muhammad sebagai Rasul-Nya, dan Islam sebagai agama kita. Mencintai Allah, Rasul-Nya dan Islam sebagai konsekuensi keimanan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya sama sekali tidak membutuhkan alasan (ini bisa diperdebatkan, namun saya berpendapat bahwa ini hidayah, dan hidayah mutlak dari Allah, meskipun setiap penyebab atau jalan hidayah memiliki alasan), dan mencintai Allah, RasulNya dan Islam akan membuat kita (seharusnya) siap mengorbankan apapun demi cinta kita kepada Allah, RasulNya dan Islam.

Terlalu berat dan filosofis? Haha oke akan saya berikan analogi yang lebih ringan. Saya ngefans dan sampai pada tahap bahwa saya mencintai sebuah klub bola bernama Internazionale Milano FC atau biasa disebut Inter Milan. Ya, untuk yang satu ini saya tidak ragu untuk mengatakan hal tersebut. Sampai saat ini, saya tidak pernah tahu alasan mengapa saya bisa jatuh cinta terhadap Inter Milan. Padahal, masih banyak klub bola yang lebih terkenal dan lebih berprestasi dibandingkan Inter Milan. Bahkan saat klub ini sedang dalam masa-masa medioker seperti sekarang, saya tidak pernah terpikir untuk mengubah cinta saya. Tertarik dengan Real Madrid, Barcelona, Manchester City, Manchester United dan Bayern Munich, mungkin. Namun, tetap saja kehebatan klub sepak bola lain tidak akan mengubah jawaban saya ketika ditanya apa klub sepak bola favorit saya.

Bagi saya, cinta adalah senyawa misteri di dalam hati. Kita tidak bisa memaksa bahkan diri sendiri untuk mencintai seseorang atau sesuatu, sama halnya dengan kita tidak bisa memaksa siapapun untuk mencintai kita. Cinta bisa tiba-tiba hadir, tanpa peringatan apapun, tanpa tanda-tanda fisik yang bisa kita sadari. Menurut saya, ketika kita mempunyai alasan, artinya kita belum benar-benar mencintai, baru sebatas tertarik atau suka. Begitu pula ketika kita berubah karena sesuatu tersebut berubah, atau kita tidak cukup punya keyakinan untuk berjuang demi sesuatu tersebut.

Mungkin banyak yang akan berkata, saya terlalu skeptis, atau memang pada dasarnya kurang atau tidak peka, atau bahkan terlalu idealis. Namun bagi saya, cinta itu suci dan bukan sesuatu yang mudah diobral dalam kata-kata. Apakah suatu saat saya akan menemukan seseorang perempuan yang saya cintai? Insya Allah, tentu saja. Sebab, menikah merupakan Sunnah Rasulullah SAW yang wajib diikuti. Jikalau tidak menikahi perempuan yang kita cintai, kita wajib (berusaha) mencintai perempuan yang kita nikahi. Perempuan yang saya yakin bahwa saya mencintainya, dan diapun mencintai saya (atau setidaknya, berusaha haha). Perempuan yang bisa membuat saya membuang semua sikap skeptis saya. Perempuan yang bisa sabar dengan semua kekurangan saya dan menerima saya apa adanya, dan begitu pula sebaliknya saya kepadanya. Sampai saat dimana saya menemukan seseorang seperti itu, maka saya mencukupkan diri dengan mencintai ibunda dan adik-adik saya.

Fauzi Nu’man Albani, Yogyakarta, 2017.