Sabtu, 01 Juni 2013

Kritis atau Sinis?? episode 2



KRITIS ATAU SINIS?
By Naufal Ibnu Amzani

Dalam kehidupan siapapun pasti pernah “terjatuh” ke dalam sebuah masalah, entah itu dimaknai sebagai sebuah ujian ataupun musibah. Hal itu wajar saja terjadi sebagai sebuah proses perkembangan dan pendewasaan diri seseorang. Karena proses pendewasaan itu selalu hadir seiringan dengan masalah, pembelajaran dimulai dari bagaimana sikap dalam menghadapi masalah tersebut. Apalagi jika kita berbicara tentang sebuah jamaah dengan cita-cita besar bernama jamaah Tarbiyah, yang hari ini sedang mengalami “ujian”nya dalam proses transformasi dan perkembangan dirinya dari sebuah “jamaah” menjadi kekuatan yang sanggup memimpin dan menata ulang kembali “taman” bernama Indonesia.

            Dalam proses menghadapi masalah tersebut, tentunya banyak keputusan-keputusan yang diambil agar masalah tersebut dapat diselesaikan secara efektif. Dan tradisi pengambilan keputusan dalam jamaah ini selalu menggunakan system syuro’ atau musyawarah. Setiap pendapat dari masing-masing kepala dikeluarkan lalu dihimpun dan dicari mana pendapat terbaik yang mampu mengatasi masalah dengan efektif dan memiliki resiko terkecil. Namun dalam prosesnya, pasti akan tetap ada orang-orang yang merasa tidak sepakat dengan keputusan syuro’ tersebut, dan akhirnya mencoba untuk memberikan pendapat dan menawarkan pendapat tersebut ke pemegang keputusan dengan berasumsi bahwa pendapatnya itu benar.

            Disinilah kadang masalah baru terjadi, ketika ada orang yang merasa tidak sepakat keputusan jamaah, kemudian mencoba bersikap “kritis”, namun dalam aplikasinya menjadi berlebihan hingga menimbulkan sikap “sinis”. Padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritis adalah “bersifat tidak lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan dan kekeliruan, tajam di penganalisisan” sedangkan sinis adalah “bersifat mengejek atau memandang rendah, tidak melihat suatu kebaikan apapun dan meragukan sifat baik yang ada pada sesuatu”.

            Dalam menyikapi keputusan jamaah tersebut, disinlah kadang perbedaan dua hal tersebut menjadi kabur. Ketika merasa tidak sepakat kepada keputusan jamaah, banyak orang yang menjadi “kritis” padahal sejatinya dia “sinis”. Dan hal ini terkait dari sejauh mana dia memahami persoalan tersebut, dan seberapa luasnya sudut pandang yang diambil dalam memahami masalah. Mulai lumrah kritikan-kritikan pedas yang tak jarang menurut saya malah tampak sebagai sebuah hinaan atau caci-maki, dengan alasan “ini kritik kami terhadap jamaah karena kami cinta jamaah ini”, “kita ingin jamaah ini kembali sesuai dengan asholah dakwah” dan semacamnya, tanpa mempunyai analisis dan data yang kuat serta keengganan untuk mengklarifikasi lebih lanjut kepada jamaah ketika “bermasalah”. Apalagi disaat jamaah ini mulai menapaki fase mihwar daulah dimana tantangan-tantangan baru dan perubahan zaman menuntut keputusan-keputusan yang kadang sama sekali berbeda dengan fase-fase terdahulu. Sehingga yang keluar menjadi sebuah pendapat justru sebuah kesinisan yang berbentuk sebuah caci maki.

            Saya rasa semua orang pernah kecewa, terlebih lagi kepada “jamaah manusia” yang bernama Tarbiyah ini, baik secara personal kadernya maupun kepada keputusan jamaah. Dan itu adalah hal yang wajar terjadi. Namun yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana cara kita mengatasi kekecewaan tersebut? Disinilah titik yang akan membedakan sikap “kritis” dengan “sinis”.

            menurut saya, kritik yang dibentuk oleh sikap kritis adalah kritik yang dikeluarkan dengan analisis dan data yang kuat dengan memahami persoalan secara menyeluruh, paham medan “masalah” yang sedang dilalui, memahami dampak ke depannya baik dari kritiknya maupun solusi yang dia tawarkan, dan kritik yang dikeluarkan itu membangun bukan menjatuhkan. Sedangkan sikap sinis adalah kritik yang dilandasi sikap benci atau kecewa, mengabaikan analisis dan data, dan sikap yang dikeluarkan terkesan “asal kritik ga peduli dampak yang akan terjadi” dan pada akhirnya hanya akan menjatuhkan. Bahkan tak jarang sikap sinis tersebut keluar hanya dengan bermodal “katanya” tanpa mau mengklarifikasi dan menganalisis dengan lebih mendalam. Sikap ini muncul dikarenakan adanya “asumsi sebelum analisis”. Padahal obyektifitas sebenarnya bisa muncul ketika kita mampu mengambil sikap “analisis mendahului asumsi”. Terlebih lagi ketika kita tidak “kritis” juga terhadap media.

            Maka sikap-sikap sebenarnya bisa dipecahkan dengan beberapa hal. Pertama, penguatan poin arkanul bai’ah pertama yaitu al-fahmu. Ini berkaitan dengan tradisi intelektual di internal jamaah itu sendiri. Jika kita belajar pada kemenangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Tarbiyah hampir 90 tahun hingga meraih kemenangan itu ga berkutat hanya pada aktivitas politik, namun juga aktivitas ilmu. Alhasil Ikhwan berhasil menelurkan ulama-ulama yang diakui dunia semacam Yusuf Qardhawi, Sayyid Hawwa, Muhammad Al Ghazali, dan masih banyak lagi. Hal ini yang saya pandang perlu dibenahi di jamaah tarbiyah di Indonesia ini. Masih sedikit karya-karya yang dihasilkan (atau hanya sedikit yang tahu) terutama fiqih-fiqih yang berkaitan dengan kondisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Ini juga berkaitan dengan seberapa banyak buku yang kit abaca, dan seberapa banyak sudut pandang yang bisa kita gunakan. Dengan menyuburkan kembali tradisi keilmuan harapannya kader bisa menguatkan kembali poin al fahmu itu sendiri, sebab jamaah yang tidak membiasakan tradisi intelektual pada akhirnya hanya melahirkan kader yang taklid dan fanatik buta, dan pada akhirnya akan hancur atau “terpencil” karena tidak mampu menjawab tantangan zaman. Karena bagi saya pribadi, al fahmu itu ga cuma hanya mengerti dalil, tapi juga mengerti konteks dalil, dimana, kapan dalil itu bisa diterapkan, serta mampu menganalisis dan merencanakan secara jangka panjang.

            Kedua, ini terkait dengan model komunikasi dalam memahami keputusan jamaah. Mungkin banyak kader yang kadang tidak mengerti mengapa jamaah mengambil suatu keputusan. Dan ketika ada “serangan” datang, kader bingung untuk menjawab apa. Dengan adanya komunikasi yang jelas, dan rasionalisasi sebuah keputusan yang logis, hal ini juga akan mempersempit kemungkinan kader untuk kecewa. Saya melihat hal ini mulai diperbaiki ketika pemilukada Jakarta ketika qiyadah memberikan penjelasan atau rasionalisasi ketika mengapa memilih mendukung Foke dibanding Jokowi. Ditambah dengan hadirnya web resmi yang aktif seperti PKSPiyungan, membuat akhirnya kader sendiri mampu belajar menganalisis mana berita yang benar mana yang salah. Pola komunikasi yang hanya mengandalkan ketaatan dan ke-tsiqah-an saja tapi mengabaikan al fahmu hanya akan mematikan kemampuan berpikir dan menganalisis kader yang pada akhirnya akan berimbas buruk juga bagi jamaah tarbiyah ini.

            Ketiga, berani untuk mendengar kritik. Saya yakin jamaah ini bukan anti kritik. Tapi kita juga bisa memilah mana kritik yang membangun mana kritik yang cuma melampiaskan kekecewaan belaka. Saya pernah diceritakan oleh senior, salah satu kelebihan dari presiden kita ustadz Anis Matta, kritik yang ditujukan kepada jamaah ini selalu dipelajari oleh beliau, yang akhirnya digunakan untuk memperbaiki hal-hal yang kurang dalam jamaah ini (tapi ini saya gatau bener atau ngga hehe :p).

            Maka mulailah rajin untuk menganalisis segala hal dan segala kondisi secara menyeluruh, sehingga yang keluar dari pendapat kita bukan fanatik membela secara membabi buta ataupun sebaliknya, membenci secara berlebihan, yang pada akhirnya membuat sesuatu yang kita sebut “kritis” menjadi “sinis” belaka. Lagi-lagi saya mengutip sedikit pendapat kang @hafidz_ary : komparasikan saja, pilah-pilih, mana yang logis dan rasional.

            Terakhir, saya mau mengutip pendapat salah seorang senior “kalau antum gampang kecewa sama jamaah, justru harusnya jamaah yang kecewa karena punya kader gampang kecewa kayak antum!”, dan juga mengutip pendapat salah seorang ustadz “kalo antum mau keluar jamaah, emang yakin jamaah lain ga ada masalah? ga punya salah?”. Kita yakin jamaah ini sesuai namanya “Tarbiyah” adalah jamaah yang senantiasa belajar, karena cita-cita kita begitu besar, Ustadziyatul ‘Alam menuntut kita untuk terus menerus belajar dan memperbaiki diri. Sekian.

Senin, 22 April 2013

#JanganBikinIslamJadiRibet


Di belahan bumi bagian barat sana, banyak orang-orang non-muslim yang mulai tersentuh hidayah dan memeluk agama Islam. Dan pertumbuhan muslim di Negara-negara barat mulai menampakkan diri layaknya gelombang. Dalam beberapa berita-berita yang saya baca pun banyak pengamat memperkirakan pada tahun sekian (contoh 2050) Islam akan menjadi agama mayoritas di eropa.

Namun yang saya herankan adalah, di Negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam, rasanya berstatus sebagai muslim menjadi kian ribet. Yang satu teriak “kafirr!!”, yang satu lagi teriak “thagut!!”, yang satu teriak “bid’ah!!” yang satu lagi teriak “wahabi!!”, dan yang saya herankan orang-orang yang berteriak tersebut adalah orang-orang yang “mengaku” aktivis dakwah”. Saya kemudian berpikir, emang dakwah itu kayak gini yak?.

Yang saya pahami adalah, dakwah itu mengajak kepada Islam dan seluruh “keindahan”nya, bukan menghakimi seseorang, apalagi sampai mengkafirkan seorang muslim (ada apa ini?).

Kepada yang suka mengkafirkan kadang saya ingin bertanya, emang rasulullah mengajarkan seperti itu ya? Itu dalilnya darimana? Padahal sama-sama kita ketahui, menuduh seorang muslim kafir itu suatu tuduhan serius, apalagi jika kata-kata tersebut keluar hanya karena berbeda “jalan”, ini kan aneh.

Dakwah rasulullah itu mengislamkan orang kafir, bukan mengkafirkan orang Islam. Maka kadang saya berpikir pula, kadang dakwah ini menjadi sesuatu yang tidak menarik bahkan menakutkan, bukan cuma karena orang sekuler dan musuh-musuh dakwah terus-terus mempropagandakan yang salah tentang islam, tapi dari kita sendiri sebagai aktivis dakwah gagal mendakwahkan Islam dengan cara yang benar. Maksud hati menyampaikan kebenaran Islam, tapi tidak didukung dengan cara menyampaikan kebenaran dengan benar. Padahal jika kita kembali kedalam makna dakwah itu sendiri, dakwah itu mengajak kepada Islam, bukan main hakim sendiri.

Padahal sudah jelas dalam hadits “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah SWT hanyalah semata-mata untuk menyempurnakan akhlak manusia” (HR Sa’ad, Bukhari, Baihaqi dari Abu Hurairah). Di Al-Qur’an pun disebutkan “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS An Nahl :125). Nah sekarang saya tanya, mengkafirkan Islam yang “cuma” ga sepaham dalam metode itu cara yang baik?.

Yang saya lihat, fenomena ini dikarenakan banyak orang menafsirkan Islam sebagai sistem hidup yang kaku, padahal dalam islam ada hal-hal yang bersifat rigid (tsawabit) ada yang bersifat fleksibel (mutaghayyirat). Yang bersifat rigid itu ga boleh ditawar-tawar lagi, semisal syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, menutup aurat, menjauhi riba dan zina, dll. Tapi islam pun fleksibel dalam hal-hal yang sifatnya metode atau cara, dan sayangnya justru banyak kita meributkan sesuatu yang sifatnya fleksibel ini (atau malah sebaliknya, mempermaikan yang rigid, ini biasanya kerjaannya JIL).

Maka coba telisik kembali, kebanyakan orang-orang barat mengikrarkan keislamannya justru karena akhlaq muslim disana begitu baik, selain juga karena Islam itu agama yang rasional, banyak peneliti yang memeluk Islam karena Islam berhasil membuktikan dan menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi di hidup ini secara Ilmiah.

Maka saya cukup beruntung ada di jamaah yang mengajarkan toleransi dalam perbedaan “cabang”. Salah satu prinsip yang kita pegang adalah “kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan mendustakan secara terang-terangan Al Qur’an, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindkan kufur” (Ushul Isyrin no 20). Kecuali yang jelas menampakkan kekafirannya dan menyelewengkan ayat seperti JIL, syiah, ahmadiyah itu beda soal :3.

Saya malah kemudian penasaran sebagai mahasiswa statistika, coba di survey dan diamati lebih efektif mana dakwah dengan bahasa cinta, lewat kerja-kerja nyata dan berusaha sinergis antar gerakan dalam harmoni atau dakwah saling mengkafirkan? Dari situ bisa dilihat ko metode yang lebih efektif. Apalagi seperti kita ketahui masyarakat timur pada dasarnya cenderung kepada harmoni dan kedamaian, bukan pada perbedaan :) .
Maka bukankah lebih baik kita sama-sama saling menCINTAi dalam naungan yang sama yaitu ISLAM, sama-sama beKERJA demi kejayaan ISLAM, dan saling berHARMONI saling mengisi pos-pos umat yang tidak mungkin bisa kita kerjakan sendiri? Saling bahu membahu?.

 Bukankah mengatakan “kalo Salafi dizalimi kita bela! kalo HT dizalimi kita bela! kalo JT dizalimi kita bela! kalo NU dizalimi kita bela! kalo Muhammadiyah dizalimi kita bela! kalo Tarbiyah dizalimi kita bela!” lebih menenangkan hati daripada saling mengkafirkan sesama muslim? So #JanganBikinIslamJadiRibet :).

Selasa, 02 April 2013

Belajar Negosiasi Bareng (Mantan) Presma (Reportase Training HUMAS KAMMI Komisariat UGM)


Yogyakarta(30/3)- Departemen Humas KAMMI Komisariat UGM kembali mengadakan Training Kehumasan KAMMI bagi para kader-kader Humas KAMMI UGM. Jika pada training-training sebelumnya berbentuk seminar, maka edisi kali ini Training Kehumasan berbentuk diskusi kultural dengan pemateri dari Presiden Mahasiswa UGM tahun 2010, Aza El Munadiyan
Diskusi dibuka oleh Fathih Kaldani dengan menguraikan mengapa Humas KAMMI UGM harus mengadakan Training Kehumasan dengan tema negosiasi ini. Beliau menjabarkan setidaknya ada 4 alasan mengapa training ini diadakan, yaitu;
-          Berlatih untuk menjalankan fungsi humas KAMMI UGM yang terdapat dalam PKK KAMMI UGM yaitu negosiasi.
-          Karena humas KAMMI UGM juga mengampu humas aksi sehingga ilmu tentang negosiasi menjadi penting.
-          Belajar dari kisruh RUU PPSMB, dimana posisi tawar Partai Bunderan kurang baik, sehingga menjadi bulan-bulanan dan musuh bersama partai lain.
-          Sebagai pembelajaran bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan gerakan lain.
Aza membuka diskusi dengan beberapa pertanyaan sederhana, “mengapa kader KAMMI ketika bernegosiasi dengan gerakan lain sering berujung kegagalan?”, “Mengapa KAMMI/Bunderan seringkali menjadi musuh bersama gerakan lain?”, “Tidak bisa, tidak mampu, atau tidak mau?” Pertanyaan sederhana ini bermuara pada jawaban sederhana : belum mampunya kader KAMMI untuk berbaur atau ngobrol dengan gerakan lain, karena kader KAMMI seakan-akan membentuk barrier terhadap gerakan lain, sehingga menyulitkan baik kader KAMMI untuk bekerjasama dengan gerakan-gerakan lain.
Setidaknya ada 3 sistem/mekanisme dalam bernegosiasi atau lobi, yaitu :
-          Sistem Tradisional
Sistem ini adalah sistem lobi yang paling sering dipakai, yaitu kita sebagai pelobi melakukan negosiasi atau lobbying secara personal to personal atau pendekatan pribadi (mungkin dalam bahasa dakwah dikenal juga sebagai dakwah fardiyah). Sistem lobi ini umum dipakai karena memiliki metode paling sederhana. Kelemahannya, lingkupnya kecil dan sasaran terbatas hanya pada satu orang serta hasil lobi kurang maksimal karena bisa jadi pelobi tidak merepresentasikan pendapat kelompoknya.

-          Sistem Jaring
Sistem jaring adalah sistem yang menggunakan tim untuk melobi. Aza mengatakan setidaknya tim lobi terdiri dari 3 atau 4 orang, yaitu yang bertindak sebagai (1) frontliner (orang yang frontal, menggunakan teknik lobi yang keras, yang kukuh mempertahankan pendapat, yang jago debat), (2) netralis (yang bisa menetralkan suasana, jika orang yang keras gagal mendapatkan keputusan yang diinginkan maka orang ini menggunakan teknik lobi yang halus), (3) notulen (bisa saja ditambahkan satu orang lagi sebagai orang “terakhir” yang akan menutup lobi/closing statement). Sistem ini menurut Aza merupakan sistem paling efektif dalam negosiasi.

-          Sistem Perusahaan
Sistem ini adalah sistem yang langsung mengatasnamakan antar lembaga (jadi langsung lembaga yang bernegosiasi. Biasanya sistem ini digunakan untuk kerja sama dalam forum resmi
Selanjutnya Aza menyampaikan beberapa gaya dan pendekatan dalam bernegosiasi bergantung pada orientasi tujuan yang ingin dihasilkan dalam negosiasi tersebut. Setidaknya ada 4 macam orientasi dalam bernegosiasi, yaitu :
-          Orientasi Bargaining
Negosiasi dengan orientasi ini tidak memfokuskan pada penyelesaian masalah dan tercapainya kesepakatan diantara kedua pihak, tetapi dimaksudkan hanya untuk meningkatkan bargaining position (posisi tawar) dari masing-masing kubu.
Contoh : negosiasi antara Korea Utara dengan Korea Selatan, negosiasi antara Palestina di sidang PBB.
 
-          Orientasi Kalah-Kalah
Negosiasi dengan orientasi ini adalah negosiasi dengan hasil terlemah, karena bertujuan untuk tidak mendapatkan apa-apa atau tidak ada yang diuntungkan
Contoh : negosiasi dalam permasalahan Laut Cina Selatan.

-          Orientasi pada kompromi
Negosiasi dengan orientasi ini adalah negosiasi yang bertujuan agar tercapainya kompromi antara pihak-pihak yang bernegosiasi dengan kompromi yang ke depannya akan menguntungkan kepentingan masing-masing pihak atau salah satu pihak.
Contoh : Negosiasi dalam Piagam Jakarta, negosiasi tentang perebutan Papua Barat antara Indonesia, Belanda dan Amerika

-          Orientasi Menang-Menang (Win-Win Solution)
Negosiasi jenis ini adalah negosiasi paling ideal, karena menghasilkan kesepakatan yang sangat menguntungkan masing-masing pihak yang bernegosiasi.
Contoh : negosiasi mengenai Pulau Sulu antara Malaysia dan Filipina pada awalnya.

Dengan orientasi-orientasi diatas, Aza melanjutkan dengan memberi kiat-kiat agar sukses dalam bernegosiasi. Setidaknya ada 4 langkah yang harus kita siapkan sebelum bernegosiasi agar negosiasi berjalan efektif. Yaitu :

-          Pengumpulan data dan fakta, baik karakter dari lawan negosiasi kita maupun data dan fakta yang dibutuhkan untuk memuluskan proses negosiasi.
-           Membangun posisi tawar (bargaining position) sebagai penguat dalam negosiasi agar negosiasi dapat menghasilkan keputusan yang kita inginkan
-          Melemparkan isu yang strategis untuk menaikan posisi tawar.
-          Mendukung kegiatan yang mengangkat citra dan posisi tawar kita.
Setelah persiapan tersebut dilakukan, mas aza memberikan beberapa saran tentang hal-hal yang harus dilakukan ketika negosiasi berjalan, yaitu :
-          Menganalisis iklim, Melihat kondisi dan situasi perlobian, apa yg menjadi kelemahan “lawan”
-          Menentukan siapa kawan dan lawan dalam forum negosiasi tersebut.
-          Menentukan kelompok kecil yang akan mempengaruhi iklim opini.
-          Membentuk koalisi dengan kelompok yang memungkinkan.
-          Tentukan tujuan atau orientasi yang ingin kita capai.
-          Menganalisis dan mendefinisikan penyebab kasus.
-          Dapatkan Dukungan media (jika ada) untuk menaikan posisi tawar.
-          Perbanyak  kasus, Menggunakan isu lain untuk menghilangkan isu utama.
-          Menjaga fleksibilitas (tarik ulur keputusan) ke pihak lain (kondisi ini kalo kita ada diatas/berkuasa)

Diskusi ini ditutup dengan closing statement Aza mengutip kata-kata Utsman bin Affan “dengan kekuasaanlah, Allah menegakkan apa-apa yang tidak bisa ditegakkan hanya dengan Al Qur’an.”[nauval]


note : tulisan ini sudah dipublikasikan di facebook KAMMI Komisariat UGM

FAISAL A. KAMIL, DARI MEMPERSATUKAN FISIPOL UGM SAMPAI MEMPEREBUTKAN KURSI PRESMA BEM KM UGM


Masa pemira telah usai, dan pemenang yang nantinya akan memimpin BEM KM UGM 2013 pun telah terpilih. Lalu bagaimana dengan capresma yang tidak terpilih? Disini kami akan mengajak teman-teman lebih mengenal Faisal Kamil, salah seorang mantan capresma yang akrab dipanggil Ical, yang juga mantan Koordinator Senat Mahasiswa Fisipol UGM 2012.

-          Di Pemira kemarin mas menawarkan beberapa program-program baru untuk BEM KM UGM ke depannya, seperti Change FOR HOPE, Klinik Faisal, dll, boleh tau kenapa memilih gagasan tersebut? Dan dari mana datangnya ide-ide tersebut?

Beberapa program-program yang saya tawarkan seperti klinik Faisal, Change UGM, dll adalah salah satu bentuk model kampanye, jika Yanuar memiliki UGMsolidarity, lalu Vandy memiliki model GamaKita, maka salah satu model kampanye yang saya usung adalah Change BEM KM, Change UGM, Change Indonesia!. mengapa saya mengambil model kampanye seperti itu? Saya melihat dari dinamika BEM KM tahun ini (BEM KM UGM 2012). Jika pada tahun-tahun sebelumnya Presma selalu dari Bunderan, maka tahun ini BEM KM dipegang oleh mantan anggota partai Bunderan yang memilih diusung oleh partai FLP, yaitu Sinyo. Saya termasuk yang tidak setuju dengan gerakan  Sinyo tadi, karena menurut aya “rezim” ada karena bekerja, karena ada hasil karyanya, jadi kehadiran teman-teman Bunderan disana bukan karena ingin menguasai, tapi ingin berkarya untuk UGM. Saya tidak suka dengan metode Sinyo yang “menendang” semua orang Bunderan dari BEM KM kepengurusannya. Ini juga menjadi saran saya untuk Yanuar agar mampu merangkul teman-teman FLP juga ke depannya, jangan ada seperti “balas dendam”. Dalam menjalankan organisasi mahasiswa jangan lihat sisi politiknya saja tapi juga sisi lainnya. Seorang pemimpin itu harus mampu merangkul semua elemen, itu salah satu leadership, seperti Soekarno. Oleh karena itu saya mengusung ide-ide dan gagasan tersebut salah satunya adalah ingin merubah keadaan tersebut.

-          Setelah tidak terpilih menjadi Presiden Mahasiswa BEM KM UGM, kira-kira apa gagasan dan ide yang ingin mas ajukan ke Presma Terpilih untuk membangun BEM KM UGM lebih baik lagi? Dan menurut Ical bagaimana arah gerak dari BEM KM ke depannya?

Ada banyak gagasan yang ingin saya ajukan, terlebih dalam bidang lingkungan. Saya ingin mengajukan konsep UGM Green, yaitu sebuah konsep dimana Kampus UGM itu bisa bebas dari rokok, taman-tamannya bisa lebih asri, jalan-jalan pedestrian diurus, mewujudkan kampus educopolis dengan sepeda dan kendaraat hemat energi, mungkin bisa dibuat semacam Smart Card yang serta terintegrasi dengan bus TransJogja dan kendaraan umum lainnya. Saya juga mengusulkan untuk mengadakan banyak acara di bidang lingkungan hidup
.
Dan untuk arah gerak BEM KM UGM ke depannya, saya rasa Yanuar akan lebih menonjolkan sisi Keislaman dan Dakwah yang lebih kuat. Saya mendukung hal-hal tersebut dengan catatan mampu untuk inklusif dan merangkul semua golongan. Buktikan Islam Rahmatan lil ‘Alamin

-          Yanuar membuka Open Recruitment untuk Jabatan Menteri di BEM KM UGM 2013, kira-kira Mas berminat ga? Kalo berminat ingin menjadi Menteri apa?

Sebelumnya saya ingin mengkritik dan meralat harusnya namanya bukan Open Recruitment, tapi Open Tender, karena jabatan menteri tersebut adalah jabatan politik, saran saya juga untuk pos menteri koordinator dan Sekretaris Jendral juga di Open Tender kan. Kalo dari saya pribadi ingin menjadi Menteri Kastrat, karena saya punya pengalaman di Kastrat BEM KM UGM pada periode Luthfi Hamzah yang menjadi Presmanya. Juga saya ingin lebih meningkatkan kapasitas dalam ilmu politik dan berhubungan dengan banyak isu-isu politik ke depannya

-          Bagaimana pandangan mas tentang pemilu 2014, UU PT, dan BP Migas?

Untuk pemilu 2014 pasti ada peningkatan kualitas karena ini menjadi pemilu ke-3 yang diselenggarakan secara demokratis. Dan BEM KM UGM harus benar-benar mengawalnya dengan berbagai macam cara semisal aksi, advokasi, sminar, loka karya, dll. Akan banyak kontestan yang ikut, baik muka lama maupun baru, namun kebanyakan yang muncul adalah nama-nama tua. Mungkin akan lebih baik jika dikawal lewat media, dengan bekerja sama dengan beberapa lembaga survei.

Untuk UU PT harus dikawal terus karena menyangkut pendidikan, dan bersinggungan langsung dengan kita sebagai mahasiswa. Harus dipelajari secara mendalam kelebihan dan kelemahannya, keuntungan dan kerugiannya. Jika bisa kerja sama dengan rektorat, maka kerja sama, kalo tidak ya kritisi, intinya harus dikaji terlebih dahulu, karena jika mengkritik  pemerintah bersama rektorat akan lebih kuat. Pak Pratikno orang politik harapannya bisa lebih mengerti. Namun harus hati-hati jangan sampai kita malah “diperalat” rektorat

-          Pandangan Ical mengenai pergerakan mahasiswa saat ini? (yang ini ga aku hapus karna menurutku ini pertanyaan transisi dari pemira ke pergerakan mahasiswa)

Menurut saya semua pergerakan mahasiswa sedang menurun dalam tataran ideologi, karena zaman sekarang masyarakat kampus sudah jarang melihat suatu organisasi dari ideologinya, alasan lainnya juga efek post modernisme dan kemajuan ilmu dan teknologi, serta fenomena seperti dunia maya sudah dianggap sebagai realita. Sekarang berbagai pergerakan lebih melihat pada rasional choice, apa keuntungannya buat saya, buat UGM, buat Indonesia, jadi mulai kehilangan sisi ideologisnya

-          Bagaimana menurut mas Ical gerak BEM KM UGM sekarang sebagai organisasi pergerakan mahasiswa? Dan bagaimana sebaiknya sikap BEM KM terhadap organisasi ekstra kampus? Lalu dengan BEM-BEM Fakultas?

BEM KM UGM lebih mampu menangani isu-isu internal kampus, walaupun tanpa melupakan isu-isu regional maupun nasional, sementara gerakan ekstra kampus lebih menangani isu eksternal kampus. Hal ini lebih disebabkan karena BEM KM UGM lebih memiliki legitimasi untuk mengawasi berbagai agenda-agenda internal kampus, juga memiliki akses ke rektorat.BEM KM UGM juga harus lebih berpihak pada kaum tertindas.

Mengenai sikap kepada gerakan ekstra kampus, BEM KM bisa menjalin kerja sama dengan gerakan ekstra, terutama yang berhubungan dengan aksi dan diskusi pemikiran, namun sasaran kerjasama utama kita tetap BEM-BEM Fakultas, yang akan lebih kita rangkul dalam menangani berbagai macam isu.

-          Karena Ical juga kader KAMMI, menurut mas bagaimana pandangan mas terhadap KAMMI ke depannya?

KAMMI memiliki masa depan yang cerah, walaupun sedang banyak diterpa isu-isu yang tidak benar. Saya optimis 10-20 tahun ke depan adalah masanya kader-kader KAMMI untuk memimpin Indonesia, ini bisa dilihat dari banyaknya kader KAMMI yang sekarang memimpin di berbagai universitas-universitas ternama di Indonesia, terlebih lagi di UGM ini. Saran saya, KAMMI harus tetap ideologis ke depannya, sembari meningkatkan kapasitas intelektual, jangan sampai kalah dengan teman-teman HMI MPO. Disini ada 3 point penting yang harus lebih diperjelas dan dikembangkan, yaitu Asas yang membedakan dengan gerakan lain, strategi untuk memperkuat asas, dan taktis yang lebih luas lagi, komunikatif dengan siapapun

-          Menurut mas apa yang membedakan KAMMI dengan gerakan lain?

Pertama, banyak senior-senior yang layak dicontoh kebanyakan berasal dari KAMMI. Selain itu KAMMI tampak lebih islami dari pada dengan sesama gerakan Islam lain, walaupun KAMMI tetap moderat dalam sikap-sikap keislamannya. Yang lebih dekat dengan KAMMI dari segi keislamannya adlah HMI MPO, hanya saja HMI MPO lebih berani mendiskusikan hal-hal yang agak “tabu”. Perbedaan dengan organisasi Islam yang lain mungkin lebih kepada pisau analisa dalam memandang Islam, yang menghasilkan perbedaan cara gerak masing-masing gerakan. KAMMI lebih mengadopsi pemikiran Ikhwanul Muslimin. Sementara perbedaan dengan GMNI jelas perbedaan ideologi.

-          Kiat-kiat merangkul temen-temen yang berbeda warna ideologi gimana sih?

Komunikasi, open mind, terbuka terhadap hal-hal baru, saya melihat KAMMI agak ketakutan utk hal ini, terlebih GMNI. Melihat dan terbuka dengan pemikiran lain bukan berarti mengikutinya. Tapi tetap harus ada penjagaan nilai-nilai ideologi, jadi seimbang antara peningkatan kapasitas intelektual dengan asas ideologis KAMMI, yaitu Islam dan nilai-nilai keislamannya tetap dipertahankan.

-          Kemarin sempat ditantang oleh Vandy untuk menyanyi, Ical sendiri bisa nyanyi ga nih? Dan kapan nih kira-kira mas mau menikah?

Bisa, saya lebih suka aliran folk, kedua jazz, tapi jazz yang fun, tapi suka semua aliran jga sih. Untuk nikah, saya punya target paling lambat unur 26, tapi idealnya umur 25, kalo paling cepet besokpun oke hehe.


note : tulisan ini sudah dipublikasikan di Facebook KAMMI Komisariat UGM :)

Kamis, 28 Februari 2013

Jangan Lupakan Terget Dakwah Kita

Target akhir dakwah kita adalah nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk) dan li I’laai kalimatillah (meninggikan kalimah Allah), hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Jangan lupakan target akhir ini.

Amal khoiri yang pendekatannya kesejahteraan, jangan dianggap sebagai ghayah (target akhir), itu sasaran antara saja. Memang dia suatu anjuran dari Allah, tapi dia sasaran antara dari segi dakwah, diharapkan melalui ihsan kita menghasilkan penyikapan dan sambutan yang khoir. Hal jazaul ihsan illal ihsan, tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Tapi ihsan kita, operasi mewujudkan kesejahteraan itu jangan dianggap tujuan akhir. Negara-negara Eropa itu adalah Negara yang sejahtera hidupnya. Tapi 50% penduduknya atheis.

Bagi kita, jadi camat, bupati, walikota, gubernur atau presiden, itu sasaran antara. Akhirnya hatta laa takuuna fitnatun wayakuunaddiinu kulluhu li-Llah (supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah). Wa kalimatullah hiyal ulya (dan kalimat Allah itulah yang tinggi).

Jadi, amal tsaqafi, orang jadi bertsaqafah; amal khairi, orang jadi sejahtera; itu hanyalah sasaran-sasaran antara kita. Sebab kalau orientasi masyarakat madani itu hanya terdidik, dan sejahtera seperti di Eropa, banyak yang mulhid, atheis walaupun terdidik dan sejahtera. Walaupun bukan atheis terorganisir seperti komunis, style masyarakat sebagai individu itu atheis. Bahkan memandang keagamaan itu merupakan bagian dari budaya.

Di Jepang juga masyarakatnya sangat sejahtera. Tapi bagi mereka agama itu kultur yang terserah selera, boleh berganti kapan saja. Orang Jepang saat lahir umumnya disambut dengan upacara-upacara Budha. Ketika nanti menikah dirayakan dengan upacara Kristen dan ketika meninggal dengan upacara Sinto. Kata ikhwah yang pernah bermukim di Jepang, pernah ada sensus keagamaan, ternyata pemeluk agama di Jepang itu tiga kali lipat dari jumlah penduduk. Jadi mereka sebenarnya sejahtera dan terdidik. Secara fisik, materi, mereka terlihat bahagia. Tapi yabqa ala dhalalah (tetap dalam kesesatan).

Nah kita sebagai partai dakwah tidak begitu. Maksud saya, kalau kita sudah bisa mentau’iyah (menyadarkan), menjadi terbuka, bebas, demokratis, mentatsqif, menjadi terdidik, atau menyejahterakan sekalipun, perjalanan kita masih tetap jauh. Sebab sesudah itu, bagaimana mereka bisa kita konsolidasikan, bisa kita koordinasikan, kita mobilisasikan, litakuuna kalimatulladziina kafaru sulfa wa kalimatullahi hiyal ‘ulya. Ini penting untuk selalu diingatkan dan dicamkan. Apalagi di masa-masa musyarokah (partisipasi politik) ini.

Jangan merasa sukses menjadi pemimpin Pemda itu ukurannya sekedar telah membangun sekolah sekian, madrasah sekian, kesejahteraan, pertanian subur; sementara hidayah tercecer. Makanya keterpaduan langkah-langkah yang sifatnya tarfih (kesejahteraan), atau tatsqif (mencerdaskan bangsa) harus sejajar dengan upaya-upaya mendekatkan orang pada hidayah Allah. Harus begitu.

Ini saya ingatkan karena ketika kita di masyarakat dituntut di sektor kesejahteraan, di sektor kebijakan, di sektor pendidikan, di sektor kesehatan; maka harus secara menyatu terpadu dengan nasyrul hidayah (menyebarkan petunjuk Islam), nayrul fikrah (menyebarkan gagasan Islam), wa nasyrul harakah (penyebaran gerakan dakwah). Agar mereka akhirnya bergerak bersama-sama li I’lai kalimatillah.

KH. Hilmi Aminudin

sumber : http://pks-beni.blogspot.com/2013/02/jangan-lupakan-target-akhir-dakwah-kita.html

Sabtu, 23 Februari 2013

Kritis atau Sinis???

Bismillahirrahmaanirrahiim....

Assalamu'alaikum wr wb, sekedar tulisan iseng, butuh sangat kritik dan saran :)

KRITIS ATAU SINIS?

Terbukanya gerbang reformasi di negeri ini menandakan pula momen-momen kebebasan berpendapat. Jika pada masa orde baru kreativitas dan ide-ide baru seakan di pasung, di era reformasi semua arus informasi mengalir dengan deras, entah itu informasi positif maupun negatif.

Sayangnya momen-momen seperti ini tidak dibarengi dengan kedewasaan dalam berargumentasi, dan kurangnya wawasan dalam mendalami sebuah masalah. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya budaya membaca dan berdiskusi bahkan di lingkungan pelajar sekalipun. Entah karena efek represif dari masa orde baru yang membuat kecenderungan berpikir pasif atau memang ketidakpedulian kita terhadap ide-ide yang inovatif.

Ada dua kecenderungan dari masyarakat Indonesia dalam menyikapi ide baru. satu, langsung menolak dan memasang antibodi terhadap ide-ide baru (bisa dikatakan juga, fanatik dan taklid buta), dan kedua, menerima tanpa memfilterisasi mana ide dan informasi yang bermanfaat dan sesuai dengan budaya bangsa. memang ada orang-orang yang tidak menutup diri terhadap ide baru juga memfilterisasinya, tapi jumlahnya masi cukup sedikit. Kondisi ini justru diperparah oleh kurangnya budaya membaca tadi, apalagi membaca dengan berbagai sumber bacaan. mayoritas masyarakat Indonesia masi cenderung dalam zona kenyamanan berpikir, ketika sudah nyaman dalam suatu ideologi atau prinsip maka akan sulit menerima sesuatu yang terlihat 'berbeda' dari yang dia tahu.

Kondisi ini memunculkan kecenderungan baru, yaitu ketika diajak diskusi tentang suatu masalah atau ide-ide baru, mereka hanya melihat secara 'judul' atau 'cover', bukan secara substansial atau inti dari ide tersebut. masi banyak kecenderungan nasyarakat bahkan para pelajar, hanya melihat dari siapa yang berbicara, dan darimana ia berbicara, bukan apa yang dibicarakan, bukan ide-ide apa yang dia keluarkan.



Efek dari kecenderungan tersebut akan membentuk karakter 'merasa paling benar, yang tidak sependapat dengan dirinya salah'. karakter seperti ini, dalam berdiskusi dan menyampaikan argumentasi, kadang sepintas terlihat ilmiah, kritis, namun dalam kenyataannya dan penggunaan bahasanya lebih ke arah sinis. Jika kritis adalah mengkritik dengan maksud konstruktif, maka sinis adalah mengkritik dengan maksud destruktif. Jika dalam penyajian bahasa kritik yang di sampaikan cenderung menjatuhkan ide, mencela pencetus gagasan yang berseberangan dengan idealisme dia, dan pemakaian bahasa 'sindiran yang berlebihan' maka paslah bahwa itu disebut sinis, bukan kritis. kritis itu adalah ketika berhadapan dengan gagasan yang berseberangan dengan idealismenya, yang dia lakukan adalah memperbaiki gagasan tersebut tanpa memaksakan pendapatnya. karena dalam ruang diskusi publik semua pendapat bisa dikatakan benar asal mempunyai dasar argumentasi yang kokoh. pemahaman yang tinggi akan suatu permasalahan akan bisa didapat ketika wawasan dari kita luas.

oleh karena itu, dalam berdiskusi dan penyampaian gagasan, kita harus membuka diri kita tierhadap ilmu baru, bahkan dari referensi bacaan yang berseberangan dari idealisme kita.hal seperti itu perlu sebab agar kita tidak fanatik buta terhadap idealisme yanmg kita punya.terakhir, idealisme yang kuat itu perlu, tapi bukan berarti menutup diri terhadap pendapat orang lain, bahkan yang berseberangan. agar apa yang kita maksud kritis tidak menjadi hanya sekedar sinisme belaka.

sekian dari saya, mohon dnegan sangat kritik dan saran, bahkan saya pengennya diskusi hehe

p.s : ini ga lagi ngomongin perbedaan dalam hal aqidah atau 'inti' ya, cuma perbedaan pendapat dalam hal ide dan gagasan yang 'cabang'

wassalamu'alaikum wr wb