Rabu, 03 September 2014

KENAPA HARUS ADA OSPEK?



“masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa, merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan menjadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi” –Soe Hok Gie-

            Beberapa hari yang lalu, ada sebuah diskusi sangat menarik di grup WhatsApp asrama. Berawal dari membahas berita tentang salah satu ospek di salah satu Universitas Islam di Surabaya yang “kurang ajar” dan “menantang” Tuhan, lalu tiba-tiba saja topik berubah menjadi “kenapa harus apa ospek?”,”penting ga sih ospek itu?”, *sayang saya udah tidur duluan habis nganter mba kesana kemari buat persiapan ke Batam besoknya hehe*

            Topik ini selalu ada dan selalu menjadi perdebatan setiap awal tahun ajaran baik di level mahasiswa baru, mahasiswa berlabel “aktivis”, kakak-kakak panitia ospek, dosen, dekanat, rektor, orang tua, dll. Yap, semuanya yang pernah merasakan ospek entah dia hidup di zaman apa dan di ospek di kampus mana. Pastinya selalu ada argumentasi pro dan kontra terkait hal tersebut, apalagi di beberapa kampus ospeknya menghasilkan berita-berita mengerikan seperti kasus ospek diatas, atau di satu-dua kampus di Malang dan Bandung yang ospeknya berujung pada meninggalnya mahasiswa baru yang sedang melakukan ospek tersebut. Atau kalau kata seorang teman yang memulai diskusi ini bagaimana sebuah kampus terkenal di Jakarta yang terkenal dan sangat mahal ada ospek yang mewajibkan mahasiswa baru untuk memakai topi pesulap dan memakai kaos kaki sepakbola yang satu oranye yang satu hitam (mbuh, saya juga gatau kampus mana dan ospeknya seperti apa).

            “Kenapa harus ada Ospek? Kalo tujuannya Cuma buat pengenalan kampus gausah ngikut ospek juga kenal sama kampus, bisa kenal sendiri. Buat kenal kampus? Kan ada buku panduan akademik, buku A,B, C, D bla bla bla yang menjelaskan hal tersebut” sebenarnya kalo kita refleksikan lebih jauh, pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa diubah dalam sub tema yang berbeda “kenapa harus ada sekolah? Kampus? Zaman dulu ga ada sistem pendidikan kayak gini banyak melahirkan cendekiawan-cendekiawan ilmu” atau “kenapa harus berdakwah? Toh hidayah ditangan Allah, belum tentu dengan dakwah kita seseorang langsung beriman dan jadi shalih” atau bisa juga “kenapa kita harus memilih presiden? Toh siapapun presidennya, kehidupan rakyat sama aja”. Sama aja kan? Sebab pertanyaan “kenapa” itu selalu membutuhkan jawaban dan melahirkan argumentasi hahah :D

            In My Hound Opinion, saya sepakat dengan pendapat salah seorang teman yang ikut diskusi tersebut, bahwa semua yang dilakukan dalam ospek tersebut merupakan salah satu SARANA, atau kalo bisa saya tambahkan hal tersebut merupakan ikhtiar sederhana dari kita-kita ini yang tak sempurna untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut (atau kalo di kampus saya UGM alasan paling pragmatis adalah supaya bisa lulus dari UGM, soalnya, ospek merupakan syarat supaya bisa yudisium dan lulus dari UGM). Apakah buat kenal kampus harus ikut ospek? Ya ga harus. Kita meluangkan waktu buat seharian keliling-keliling kampus juga insya Allah bisa tau ko bagaimana kampus tempat kita kuliah. Atau kalo supaya punya relasi, kenalan, atau apalah sebagai makhluk social (saya gamau bermain teori) dulu waktu MOS (ospek waktu SMA) ada temen saya (yang kemudian jadi sahabat saya waktu SMA) melakukan cara unik dengan menyalami dan berkenalan dengan setiap siswa yang baru datang waktu pagi hari pertama ospek. Tapi pertanyaannya, berapa banyak orang atau maba atau apalah sebutannya yang punya inisiatif yang sangat luar biasa seperti itu? Atau jika dia ada inisiatif berapa banyak (misal dia dari luar kota tempat dia kuliah) yang percaya diri buat ngelakuin itu? Atau jika dia punya inisiatif dan percaya diri berapa banyak yang tau cara untuk “benar-benar” mengenal kampus dan segala jenis adat, adab, lingkungan, budaya, dan sejenisnya?.

            Kalau dalam konteks yang lebih luas, kita bisa juga berkata seperti diatas, ngapain kita harus sekolah selama 12 tahun kemudian ditambah lagi kuliah (idealnya) 4 tahun? (kalo di MIPA sih susah, rata2 4,5-5 tahun hahah). Realitanya banyak yang masuk dalam mata kuliah atau pelajaran yang justru ga kepake di dunia nyata?. Atau seperti pertanyaan ngapain kita berdakwah? Toh hidayah yang ngasi Allah bukan kita. Mau kita berdakwah toh yang mengubah hati manusia agar beriman dan bertaqwa kan Allah?

            Yap, sekali lagi, bagi saya (atau juga beberapa orang yang sepakat) ospek merupakan salah satu sarana dan ikhtiar manusiawi kita untuk mengenalkan bagaimana kampus dengan segala keunikannya, sebab dunia kampus ga cuma sekedar apa yang ada dalam buku panduan akademik yang formal dan “kadang” terlalu ideal. Kalo sebatas sarana bisa make cara lain dong? Ga harus ospek? Ya bisa, silahkan saja. Tapi yakin ga bisa membuat semua adik-adik kita jadi mengenal kampus? Mengenal lingkungan, adab, dll? Bisa jadi kasusnya malah kayak seorang mahasiswi S2 di salah satu kampus terkenal di Yogya yang perkataannya di social media bikin berang satu Yogya (karena S2 ga ada ospek hahah). Sama seperti ikhtiar Menteri Pendidikan kita tercinta membuat berbagai jenjang pendidikan atau ikhtiar kita-kita atau mereka yang berlabel “aktivis dakwah” yang berbaik hati mengenalkan Islam tanpa lelah J. Pengalaman saya, kalo ga ada MOS dulu, saya mungkin ga kenal rohis dan kakak-kakak rohis yang dulu berbaik hati membimbing saya menjadi manusia yang lebih baik (walaupun sampe sekarang masih banyak bandelnya juga :D ).

Kedua, bagi saya pribadi, ospek juga merupakan tempat untuk menemukan keluarga baru (yah syukur-syukur sih bisa beneran jadi “keluarga” hahaha #bukankode #bukanmodus ). Bisa kenal Besties (sahabat waktu SMA, dulu sekelas di X1 SMAN 12), Rohis Ashabul Kahfi (nama rohis angkatan saya, dengan sahabat-sahabat keren macem Sauqi, Baim, Yudhi, Irfan, Apip, Alif, dll), Math Undip ’11, sahabat macem Risky Khaerul Imam (sekarang ketua BEM FSM Undip doi), Istajib S Hakim, Stand Up (Statistika 2012), Moeso Suryowinoto (kelompok Palapa waktu tahun 2013), dan yang terbaru rekan-rekan co-fas Medika (yang demen membully dan dibully) dan Sardjito 07 yang anak-anaknya kece dan rame banget dan demen ngebully cofasnya, serta bisa kenalan sama kamu, iya kamu (siapa aja boleh, saya ga bilang satu nama lho hahah :D ).


And in the last paragraph, saya piker segala pertanyaan “kenapa harus ada ospek?” bisa terjawab jika sistem ospeknya dibuat manusiawi dan bersahabat tapi tetap tegas dan mendidik (Alhamdulillah kalo menurut saya di UGM udah cukup seperti itu). Sebab segala pertanyaan seperti itu biasanya berawal dari masalah-masalah yang hadir pada saat ospek yang “berlebihan”. Dan yang namanya sarana dan ikhtiar, pastinya selalu ada penyempurnaan dan perbaikan. Banyak jalan menuju Roma, tapi tentunya kita ga akan tau jalannya sebelum mencoba untuk melangkah :D. sebab dari merasakan perjalanan itulah kita akan benar-benar tau bahwa Laut dan gunung itu indah, mentari itu hangat, hujan itu bisa bikin tenang, dan bersamamu bisa bikin aku bahagia, bukan sekedar apa yang nampak di foto :D. at the least, semua punya ruang argumentasi dan alasan untuk sepakat dan tidak sepakat. Lalu, bagaimana pendapatmu? :D    

1 komentar: