Minggu, 11 September 2016

FRAMING DAN AHOK

Written by : Azka Hasyami

            Sebuah diskusi di grup Whatsapp yang baru beberapa hari ini saya bergabung di dalamnya suatu malam menyajikan tema yang menarik, “apakah Ahok memang sehebat itu sehingga banyak yang pro dengan beliau? Apa alasannya?”. Diskusi yang sebenarnya bukan tema pokok minggu ini, yang berasal dari sebuah pertanyaan iseng salah satu peserta grup cukup membuat ramai grup di malam itu. Apalagi diskusi tersebut muncul setelah pengumuman dukungan beberapa partai terhadap calon gubernur-wakil gubernur yang akan berkompetisi di Pemilukada DKI pada tahun 2017 nanti.

            Secara sederhana, jawaban dari pertanyaan tersebut menurut saya adalah, karena Ahok –tim media beliau lebih tepatnya, baik tim media secara resmi, akun-akun media kreatif yang beraafiliasi atau sekeda mendukung beliau, maupun media mainstream yang memiliki kecenderungan pro terhadap beliau- cukup sukses memframing Ahok dalam bingkai realita yang cukup positif. Dalam cakupan yang lebih luas lagi, tim media Ahok berhasil menjawab kebutuhan dari 3 generasi sekaligus, yaitu generasi X, Y dan Z.

            Bicara tentang kinerja, Ahok memiliki kinerja yang bisa dikatakan baik. Hal yang sering ditonjolkan oleh media pro Ahok adalah bagaimana Ahok berhasil melakukan reformasi birokrasi di DKI Jakarta dimana proses birokrasi di Jakarta yang sebelumnya berbelit-belit menjadi lebih cepat dan mudah. Kemudian yang cukup membuat citra Ahok naik di kalangan internal pemerintahan adalah kebijakan kenaikan gaji bagi para pegawai di lingkup pemerintahan dengan alasan bahwa gaji yang rendahlah penyebab terjadinya korupsi yang merajalela selama ini.

            Namun, hal-hal positif tersebut juga dibarengi dengan beberapa perilaku dan perkataan Ahok yang cukup kontroversial. Perkataan Ahok yang bisa dikatakan kasar dan menggunakan bahasa yang tidak sopan –meskipun sebenarnya bagi keseharian masyarakat Jakarta Bahasa seperti itu biasa, namun tidak etis dikatakn seorang pejabat publik- dan juga beberapa pernyataan yang menjadi kebijakan yang cukup menyinggung beberapa elemen masyarakat baik untuk alasan kedaerahan maupun agama. Hal tersebut juga dibarengi dengan beberapa kasus kontroversial seperti permasalahan Bus TransJakarta, Rumah Sakit Sumber Waras dan Reklamasi Teluk Jakarta yang kemudian beralih fungsi menjadi apartemen dan hotel-hotel mahal.

            Disinilah kemudian kinerja tim media Ahokpatut dipuji. Bagaimana framing “positif” yang dibentuk mampu diterima oleh kebanyakan public baik di Jakarta maupun secara nasional. Seperti yang dijelaskan diatas, tim media Ahok mampu menjawab kebutuhan dari masing-asing generasi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sekarang ini adalah zaman dimana semua serba digital dan arus informasi mengalir begitu cepat. Namun dalam realitanya, proses penyerapan informasi dari masing-masing generasi itu berbeda. Generasi X yang notabene adalah generasi di umur-umur ideal (sekitar 30-45 tahun) memiliki kecenderungan mempercayai informasi yang diproduksi oleh media mainstream. Disinilah media mainstream pro Ahok berperan memproduksi dan mengkapitalisasi berita-berita Ahok yang bercitra positif dan “melindungi” isu-isu atau kenyataan kinerja Ahok yang memiliki citra negatif. Disinilah kemudian Ahok berhasil membentuk citra pemimpin muda ideal dan anti korupsi. Hal ini tampak dari bagaimana media mainstream pro Ahok menutupi berbagai kasus yang melanda Ahok dan banyak menggunakan sudut pandang yang tidak berimbang (benar menyediakan dua sudut pandang, namun porsi yang pro Ahok lebih banyak).

              Generasi Y (umur 20-30) yang memiliki karakter kritis, memiliki kecenderungan tinggi terhadap validitas opini dan data, dan (sebenarnya) memiliki apatisme tinggi terhadap politik pun berhasil dirangkul dengan baik oleh Ahok. Tim media Ahok berhasil membentuk citra bahwa beliau independen dan bebas dari kepentingan partai politik, yang dibentuk dengan cara keluar dari Partai Gerindra dan dengan cerdasnya mencalonkan kembali via jalur independen dan didukung dengan tim kampanye kreatif yang berasal dari masyarakat –meskipun pada akhirnya justru merapat dan maju melalui jalur partai politik- serta berhasil memperkuat dukungan terhadap beliau dengan memanfaatkan ketidaksukaan public terhadap partai politik dan DPR serta DPRD yang dianggap sebagai sarang korupsi. Hal ini diperkuat dengan kegagalan media dan kalangan anti Ahok (terutama dari kalangan Islamis) yang justru menggunakan isu-isu yang siatnya rasial SARA yang justru membantu membentuk stigma “terdzalimi” bagi Ahok.

            Tim media kreatif Ahok pun berhasil menarik Generasi Z yang memiliki karakter aktif menggunakan social media (ini juga menjadi karakter generasi Y sebenarnya) dimana tim media Ahok banyak menggunakan sarana-sarana social media seperti Youtube, Instagram, Facebook, dll. Materi kampanye yang dikeluarkan pun banyak yang bersifat creative campaign dengan menggunakan konten video, gambar, komik, dan sebagaimna yang memang sesuai dengan public need di generasi ini. Bukan berarti calon lain tidak menggunakan hal yang sama, namun kualitas konten yang dibuat tim media Ahok harus diakui masih lebih baik dibandingkan dengan calon lain.

            Pertarungan politik hari ini memang berbicara tentang pertarungan framing. Siapa yang bisa membentuk citra positif dan bisa menyembunyikan sisi negatifnya yang kemudian akan lebih banyak diterima publik. Sebab kita memang harus menyadari, bahwa tidak ada yang sempurna, apalagi jika kita berbicara di ranah politik. Harus kita akui hari ini, Ahok masih menjadi pemenangnya. [azh]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar