Written by
: Azka Hasyami
Sebuah
diskusi di grup Whatsapp yang baru
beberapa hari ini saya bergabung di dalamnya suatu malam menyajikan tema yang
menarik, “apakah Ahok memang sehebat itu sehingga banyak yang pro dengan
beliau? Apa alasannya?”. Diskusi yang sebenarnya bukan tema pokok minggu ini,
yang berasal dari sebuah pertanyaan iseng salah satu peserta grup cukup membuat
ramai grup di malam itu. Apalagi diskusi tersebut muncul setelah pengumuman
dukungan beberapa partai terhadap calon gubernur-wakil gubernur yang akan
berkompetisi di Pemilukada DKI pada tahun 2017 nanti.
Secara
sederhana, jawaban dari pertanyaan tersebut menurut saya adalah, karena Ahok
–tim media beliau lebih tepatnya, baik tim media secara resmi, akun-akun media
kreatif yang beraafiliasi atau sekeda mendukung beliau, maupun media mainstream
yang memiliki kecenderungan pro terhadap beliau- cukup sukses memframing Ahok
dalam bingkai realita yang cukup positif. Dalam cakupan yang lebih luas lagi,
tim media Ahok berhasil menjawab kebutuhan dari 3 generasi sekaligus, yaitu
generasi X, Y dan Z.
Bicara
tentang kinerja, Ahok memiliki kinerja yang bisa dikatakan baik. Hal yang
sering ditonjolkan oleh media pro Ahok adalah bagaimana Ahok berhasil melakukan
reformasi birokrasi di DKI Jakarta dimana proses birokrasi di Jakarta yang
sebelumnya berbelit-belit menjadi lebih cepat dan mudah. Kemudian yang cukup
membuat citra Ahok naik di kalangan internal pemerintahan adalah kebijakan
kenaikan gaji bagi para pegawai di lingkup pemerintahan dengan alasan bahwa
gaji yang rendahlah penyebab terjadinya korupsi yang merajalela selama ini.
Namun,
hal-hal positif tersebut juga dibarengi dengan beberapa perilaku dan perkataan
Ahok yang cukup kontroversial. Perkataan Ahok yang bisa dikatakan kasar dan
menggunakan bahasa yang tidak sopan –meskipun sebenarnya bagi keseharian
masyarakat Jakarta Bahasa seperti itu biasa, namun tidak etis dikatakn seorang
pejabat publik- dan juga beberapa pernyataan yang menjadi kebijakan yang cukup
menyinggung beberapa elemen masyarakat baik untuk alasan kedaerahan maupun
agama. Hal tersebut juga dibarengi dengan beberapa kasus kontroversial seperti
permasalahan Bus TransJakarta, Rumah Sakit Sumber Waras dan Reklamasi Teluk
Jakarta yang kemudian beralih fungsi menjadi apartemen dan hotel-hotel mahal.
Disinilah
kemudian kinerja tim media Ahokpatut dipuji. Bagaimana framing “positif” yang
dibentuk mampu diterima oleh kebanyakan public baik di Jakarta maupun secara
nasional. Seperti yang dijelaskan diatas, tim media Ahok mampu menjawab
kebutuhan dari masing-asing generasi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa
sekarang ini adalah zaman dimana semua serba digital dan arus informasi
mengalir begitu cepat. Namun dalam realitanya, proses penyerapan informasi dari
masing-masing generasi itu berbeda. Generasi X yang notabene adalah generasi di
umur-umur ideal (sekitar 30-45 tahun) memiliki kecenderungan mempercayai
informasi yang diproduksi oleh media mainstream. Disinilah media mainstream pro
Ahok berperan memproduksi dan mengkapitalisasi berita-berita Ahok yang bercitra
positif dan “melindungi” isu-isu atau kenyataan kinerja Ahok yang memiliki
citra negatif. Disinilah kemudian Ahok berhasil membentuk citra pemimpin muda
ideal dan anti korupsi. Hal ini tampak dari bagaimana media mainstream pro Ahok
menutupi berbagai kasus yang melanda Ahok dan banyak menggunakan sudut pandang
yang tidak berimbang (benar menyediakan dua sudut pandang, namun porsi yang pro
Ahok lebih banyak).
Generasi Y (umur 20-30) yang memiliki
karakter kritis, memiliki kecenderungan tinggi terhadap validitas opini dan
data, dan (sebenarnya) memiliki apatisme tinggi terhadap politik pun berhasil
dirangkul dengan baik oleh Ahok. Tim media Ahok berhasil membentuk citra bahwa
beliau independen dan bebas dari kepentingan partai politik, yang dibentuk
dengan cara keluar dari Partai Gerindra dan dengan cerdasnya mencalonkan
kembali via jalur independen dan didukung dengan tim kampanye kreatif yang
berasal dari masyarakat –meskipun pada akhirnya justru merapat dan maju melalui
jalur partai politik- serta berhasil memperkuat dukungan terhadap beliau dengan
memanfaatkan ketidaksukaan public terhadap partai politik dan DPR serta DPRD
yang dianggap sebagai sarang korupsi. Hal ini diperkuat dengan kegagalan media
dan kalangan anti Ahok (terutama dari kalangan Islamis) yang justru menggunakan
isu-isu yang siatnya rasial SARA yang justru membantu membentuk stigma
“terdzalimi” bagi Ahok.
Tim
media kreatif Ahok pun berhasil menarik Generasi Z yang memiliki karakter aktif
menggunakan social media (ini juga menjadi karakter generasi Y sebenarnya)
dimana tim media Ahok banyak menggunakan sarana-sarana social media seperti
Youtube, Instagram, Facebook, dll. Materi kampanye yang dikeluarkan pun banyak
yang bersifat creative campaign
dengan menggunakan konten video, gambar, komik, dan sebagaimna yang memang
sesuai dengan public need di generasi
ini. Bukan berarti calon lain tidak menggunakan hal yang sama, namun kualitas
konten yang dibuat tim media Ahok harus diakui masih lebih baik dibandingkan
dengan calon lain.
Pertarungan politik hari ini memang
berbicara tentang pertarungan framing. Siapa yang bisa membentuk citra positif
dan bisa menyembunyikan sisi negatifnya yang kemudian akan lebih banyak
diterima publik. Sebab kita memang harus menyadari, bahwa tidak ada yang
sempurna, apalagi jika kita berbicara di ranah politik. Harus kita akui hari
ini, Ahok masih menjadi pemenangnya. [azh]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar