Minggu, 11 September 2016

EKSKLUSIF ITU PREMIUM!!

written by : Azka Hasyami

            Sering rasanya kita mendengar satu kata ketika kita diminta mendeskripsikan tentang Organisasi Islam, Rohis, Aktivis Dakwah, dan sejenisnya ; eksklusif. Sebuah cap jikalau tak ingin disebut tuduhan yang terlanjur melekat –atau sengaja dilekatkan mereka yang tak ingin Islam berkembang pesat- menjadi sebuah stigma terhadap identitas diatas. hal tersebut yang kemudian menyebabkan ada dua kutub ekstrim dalam menyikapi stigma diatas, yaitu yang pertama memilih untuk “benar-benar eksklusif” sampai level ekstrim dengan cara berpikir “toh udah dicap eksklusif juga, yaudah sekalian aja” dan yang kedua adalah berusaha mencairkan sampai kehilangan “identitas” dan abai terhadap hal-hal yang bersifat “pokok” yang seharusnya kita pegang teguh seperti idealism dan aqidah Islam (bagi yang muslim). Namun sebelumnya, ada sebuah pertanyaan menarik, apakah “eksklusif” itu salah?

            Dalam sebuah diskusi menarik ketika saya dan beberapa rekan dari BIMO (Biro Media dan Opini) Forsalamm UGM mengadakan silaturahim tokoh dengan Pak Yusuf Maulana kemarin, terlontar sebuah pertanyaan yang saya pribadi berpikir banyak menjadi pertanyaan umumnya lembaga—embaga yang terlanjur tercap eksklusif tersebut “bagaimana agar organisasi (Islam) yang kita ampu bisa terlepas dari cap eksklusif?”. Pak Yusuf Maulana menjawab dengan sebuah kalimat yang membekas untuk saya “justru eksklusif tu premium!!” (red : ini maksudnya bukan salah satu tipe bensin yak :v ). Lanjutnya, Pak Yusuf Maulana melempar sebuah analogi bagus, apakah yang berjenggot dan bercelana cingkrang, atau perempuan yang berjilbab lebar itu pasti eksklusif? Apakah yang tidak seperti itu, yang mengaku toleran, yang mendapuk diri inklusif dan merangkul semua kalangan itu pasti tidak eksklusif? atau dalam contoh ekstrim, apakah mereka yang berpakaian serba ketat dan terbuka itu lebih tidak eksklusif dibandingkan dengan mereka yang bercadar?

            “eksklusif itu soal cara berpikir, bukan soal identitas dan hal dzahir yang kita kenakan” lanjut beliau. Seorang perempuan bercadar yang menghargai perbedaan pandangan dan pendapat, dan terbuka dengan berbagai wawasan dan pengetahuan, justru lebih tidak eksklusif atau lebih inkulsif dibandingkan dengan perempua berpakaian terbuka yang keukeuh dengan satu cara berpikir bahwa yang bercadar itu pasti kolot, atau dalam level eksktrim dicap teroris. Seorang lelaki yang berjenggot dan bercelana cingkrang yang mudah bergaul dan ringan tangannya membantu orang lain bisa jadi lebih inklusif dibandingkan dengan seorang lelaki dengan tampilan stylish anak muda namun berjarak dengan lingkungan sekitarnya.

            Lagipula, sebenarnya jika kita mau objektif dan adil, setiap dari kita pasti memiliki tingkat eksklusivitas masing-masing. Terkadang mereka yang tercap eksklusif sebenarnya bukan tidak mau membaur, tapi dari kita yang terlanjur mengcap yang kemudian membuat jarak dengan mereka yang kita cap eksklusif. “ah gamau ah, saya mah apa belum sesholih-sesholihah mereka”, “hati-hati dengan mereka, mereka itu w***bi, teloris, ga toleran, blab la bla” dan pandangan sinis terkait identitas mereka terkadang justru menyulitkan mereka untuk berinteraksi secara normal dengan yang lain. Hal ini pun sering sekali dilakukan oleh mereka yang mengaku inklusif dan toleran. Padahal jika yang mengaku toleran dan inklusif tersebut bisa menerima perbedaan pandangan dalam hal pokok aqidah sekalipun dan berteman baik, kenapa juga tidak bisa toleran dengan mereka yang secara identitas berbeda namun sama dalam hal pokok aqidah? J. Jika beberapa dari kita mengkampanyekan untuk bertoleransi terhadap Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender, kenapa mereka yang mengkampanyekan hal tersebut tidak bisa bertoleran pula dengan mereka yang memutuskan bercadar dan berjilbab lebar, misalnya? Hal seperti inilah yang kemudian menjelaskan fenomena main klaim, saya toleran dan inklusif sementara yang itu tidak dan sejenisnya.

            Terakhir, beliau mengatakan bahwa sejatinya, “eksklusif” itu sebenarnya premium. Kita pasti akan hidup sebagai makhluk social yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita pasti “ekskusif” dalam artian setiap dari kita pasti memiliki hal unik yang berbeda baik dari karakter, cara hidup, pandangan hidup dan semacamnya. Hal inilah yang justru membuat kita berharga, selayaknya permata yang membedakan diri dengan bebatuan di pinggir jalan. Bukankah Alphard berbeda kelas dengan Avanza karena Alphard adalah mobil eksklusif? Bukankah Hotel Ambarukmo berbeda harga dengan hotel Talenta karena eksklusivitas tadi? Dalam konteks tertentu, kita perlu eksklusif soal hal-hal yang bersifat pokok, seperti aqidah dan idealisme. Namun kita juga harus terbuka secara pemikiran dan berwawasan luas. Karena ekslusif atau tidak itu soal cara berpikir, bukan soal identitas atau hal-hal dzahir yang kita kenakan. [azh]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar