Saya lebih suka menggunakan kata “suka”,
“nyaman” atau “tertarik” kepada seseorang perempuan yang sedang dekat atau saya
pernah dekati, bahkan selama berpacaran dulu, cukup jarang saya menggunakan
kata “cinta” dan “sayang” selama menjalin hubungan dahulu (dear mantan, koreksi
jika saya salah). Karena menurut saya, definisi tentang cinta dan rasa sayang
tidak sesederhana itu. Bagi saya, cinta adalah sebuah perasaan yang sama sekali
tidak membutuhkan alasan, takkan hilang karena perubahan dari sesuatu yang kita
cintai, dan membuat kita siap mengorbankan apapun demi hal yang kita cintai. Ya,
apapun.
Saya menganalogikan definisi cinta tersebut
dari kewajiban setiap muslim untuk mecintai Allah sebagai Rabb kita, Muhammad
sebagai Rasul-Nya, dan Islam sebagai agama kita. Mencintai Allah, Rasul-Nya dan
Islam sebagai konsekuensi keimanan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya sama
sekali tidak membutuhkan alasan (ini bisa diperdebatkan, namun saya berpendapat
bahwa ini hidayah, dan hidayah mutlak dari Allah, meskipun setiap penyebab atau
jalan hidayah memiliki alasan), dan mencintai Allah, RasulNya dan Islam akan
membuat kita (seharusnya) siap mengorbankan apapun demi cinta kita kepada
Allah, RasulNya dan Islam.
Terlalu berat dan filosofis? Haha oke
akan saya berikan analogi yang lebih ringan. Saya ngefans dan sampai pada tahap
bahwa saya mencintai sebuah klub bola bernama Internazionale Milano FC atau
biasa disebut Inter Milan. Ya, untuk yang satu ini saya tidak ragu untuk
mengatakan hal tersebut. Sampai saat ini, saya tidak pernah tahu alasan mengapa
saya bisa jatuh cinta terhadap Inter Milan. Padahal, masih banyak klub bola
yang lebih terkenal dan lebih berprestasi dibandingkan Inter Milan. Bahkan saat
klub ini sedang dalam masa-masa medioker seperti sekarang, saya tidak pernah
terpikir untuk mengubah cinta saya. Tertarik dengan Real Madrid, Barcelona, Manchester
City, Manchester United dan Bayern Munich, mungkin. Namun, tetap saja kehebatan
klub sepak bola lain tidak akan mengubah jawaban saya ketika ditanya apa klub
sepak bola favorit saya.
Bagi saya, cinta adalah senyawa
misteri di dalam hati. Kita tidak bisa memaksa bahkan diri sendiri untuk
mencintai seseorang atau sesuatu, sama halnya dengan kita tidak bisa memaksa
siapapun untuk mencintai kita. Cinta bisa tiba-tiba hadir, tanpa peringatan
apapun, tanpa tanda-tanda fisik yang bisa kita sadari. Menurut saya, ketika
kita mempunyai alasan, artinya kita belum benar-benar mencintai, baru sebatas
tertarik atau suka. Begitu pula ketika kita berubah karena sesuatu tersebut
berubah, atau kita tidak cukup punya keyakinan untuk berjuang demi sesuatu
tersebut.
Mungkin banyak yang akan berkata,
saya terlalu skeptis, atau memang pada dasarnya kurang atau tidak peka, atau
bahkan terlalu idealis. Namun bagi saya, cinta itu suci dan bukan sesuatu yang
mudah diobral dalam kata-kata. Apakah suatu saat saya akan menemukan seseorang
perempuan yang saya cintai? Insya Allah, tentu saja. Sebab, menikah merupakan
Sunnah Rasulullah SAW yang wajib diikuti. Jikalau tidak menikahi perempuan yang
kita cintai, kita wajib (berusaha) mencintai perempuan yang kita nikahi. Perempuan
yang saya yakin bahwa saya mencintainya, dan diapun mencintai saya (atau
setidaknya, berusaha haha). Perempuan yang bisa membuat saya membuang semua
sikap skeptis saya. Perempuan yang bisa sabar dengan semua kekurangan saya dan
menerima saya apa adanya, dan begitu pula sebaliknya saya kepadanya. Sampai saat
dimana saya menemukan seseorang seperti itu, maka saya mencukupkan diri dengan mencintai
ibunda dan adik-adik saya.
