written by
: Azka Hasyami
Sering
rasanya kita mendengar satu kata ketika kita diminta mendeskripsikan tentang
Organisasi Islam, Rohis, Aktivis Dakwah, dan sejenisnya ; eksklusif. Sebuah cap jikalau tak ingin disebut tuduhan yang terlanjur
melekat –atau sengaja dilekatkan mereka yang tak ingin Islam berkembang pesat-
menjadi sebuah stigma terhadap identitas diatas. hal tersebut yang kemudian
menyebabkan ada dua kutub ekstrim dalam menyikapi stigma diatas, yaitu yang
pertama memilih untuk “benar-benar eksklusif” sampai level ekstrim dengan cara
berpikir “toh udah dicap eksklusif juga,
yaudah sekalian aja” dan yang kedua adalah berusaha mencairkan sampai
kehilangan “identitas” dan abai terhadap hal-hal yang bersifat “pokok” yang
seharusnya kita pegang teguh seperti idealism dan aqidah Islam (bagi yang
muslim). Namun sebelumnya, ada sebuah pertanyaan menarik, apakah “eksklusif”
itu salah?
Dalam
sebuah diskusi menarik ketika saya dan beberapa rekan dari BIMO (Biro Media dan
Opini) Forsalamm UGM mengadakan silaturahim tokoh dengan Pak Yusuf Maulana
kemarin, terlontar sebuah pertanyaan yang saya pribadi berpikir banyak menjadi
pertanyaan umumnya lembaga—embaga yang terlanjur tercap eksklusif tersebut
“bagaimana agar organisasi (Islam) yang kita ampu bisa terlepas dari cap
eksklusif?”. Pak Yusuf Maulana menjawab dengan sebuah kalimat yang membekas
untuk saya “justru eksklusif tu premium!!” (red : ini maksudnya bukan salah
satu tipe bensin yak :v ). Lanjutnya, Pak Yusuf Maulana melempar sebuah analogi
bagus, apakah yang berjenggot dan bercelana cingkrang, atau perempuan yang
berjilbab lebar itu pasti eksklusif? Apakah yang tidak seperti itu, yang
mengaku toleran, yang mendapuk diri inklusif dan merangkul semua kalangan itu
pasti tidak eksklusif? atau dalam contoh ekstrim, apakah mereka yang berpakaian
serba ketat dan terbuka itu lebih tidak eksklusif dibandingkan dengan mereka
yang bercadar?
“eksklusif itu soal cara berpikir, bukan
soal identitas dan hal dzahir yang kita kenakan” lanjut beliau. Seorang
perempuan bercadar yang menghargai perbedaan pandangan dan pendapat, dan
terbuka dengan berbagai wawasan dan pengetahuan, justru lebih tidak eksklusif
atau lebih inkulsif dibandingkan dengan perempua berpakaian terbuka yang keukeuh dengan satu cara berpikir bahwa
yang bercadar itu pasti kolot, atau dalam level eksktrim dicap teroris. Seorang
lelaki yang berjenggot dan bercelana cingkrang yang mudah bergaul dan ringan
tangannya membantu orang lain bisa jadi lebih inklusif dibandingkan dengan seorang
lelaki dengan tampilan stylish anak muda namun berjarak dengan lingkungan
sekitarnya.
Lagipula,
sebenarnya jika kita mau objektif dan adil, setiap dari kita pasti memiliki
tingkat eksklusivitas masing-masing. Terkadang mereka yang tercap eksklusif
sebenarnya bukan tidak mau membaur, tapi dari kita yang terlanjur mengcap yang
kemudian membuat jarak dengan mereka yang kita cap eksklusif. “ah gamau ah,
saya mah apa belum sesholih-sesholihah mereka”, “hati-hati dengan mereka,
mereka itu w***bi, teloris, ga toleran, blab la bla” dan pandangan sinis
terkait identitas mereka terkadang justru menyulitkan mereka untuk berinteraksi
secara normal dengan yang lain. Hal ini pun sering sekali dilakukan oleh mereka
yang mengaku inklusif dan toleran. Padahal jika yang mengaku toleran dan
inklusif tersebut bisa menerima perbedaan pandangan dalam hal pokok aqidah
sekalipun dan berteman baik, kenapa juga tidak bisa toleran dengan mereka yang
secara identitas berbeda namun sama dalam hal pokok aqidah? J. Jika beberapa dari kita
mengkampanyekan untuk bertoleransi terhadap Lesbian, Gay, Bisexual dan
Transgender, kenapa mereka yang mengkampanyekan hal tersebut tidak bisa
bertoleran pula dengan mereka yang memutuskan bercadar dan berjilbab lebar,
misalnya? Hal seperti inilah yang kemudian menjelaskan fenomena main klaim,
saya toleran dan inklusif sementara yang itu tidak dan sejenisnya.
Terakhir,
beliau mengatakan bahwa sejatinya, “eksklusif” itu sebenarnya premium. Kita
pasti akan hidup sebagai makhluk social yang pasti berbeda antara satu dengan
yang lainnya. Kita pasti “ekskusif” dalam artian setiap dari kita pasti
memiliki hal unik yang berbeda baik dari karakter, cara hidup, pandangan hidup
dan semacamnya. Hal inilah yang justru membuat kita berharga, selayaknya
permata yang membedakan diri dengan bebatuan di pinggir jalan. Bukankah Alphard
berbeda kelas dengan Avanza karena Alphard adalah mobil eksklusif? Bukankah
Hotel Ambarukmo berbeda harga dengan hotel Talenta karena eksklusivitas tadi?
Dalam konteks tertentu, kita perlu eksklusif soal hal-hal yang bersifat pokok,
seperti aqidah dan idealisme. Namun kita juga harus terbuka secara pemikiran
dan berwawasan luas. Karena ekslusif atau tidak itu soal cara berpikir, bukan
soal identitas atau hal-hal dzahir yang kita kenakan. [azh]