Jumat, 12 Juni 2015

“TERORISME” MEDIA MASSA

“hati-hati ikut pengajian ini, nanti kamu jadi teroris, ekstrimis, fundamentalis…”
“jangan ikut kelompok itu, nanti kamu jadi Wahabi, khawarij, dll…”
“jangan ikut-ikutan aliran itu, itu ahlul bid’ah, ahlul thagut, bla bla bla..”
“jangan dekat-dekat sama dia, dia Syiah, liberal, blab la bla…”

            Sering mendengar kalimat seperti diatas? Ya, kalimat tersebut umum terdengar di telinga kita terutama setelah keran informasi terbuka begitu deras dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan tersebut ditandai dengan munculnya smartphone yang mempermudah kita mengakses internet dan maraknya penggunaan social media seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Line, Path, dan semacamnya. Namun, perkembangan teknologi yang demikian cepat tersebut nampaknya tidak diimbangi dengan kecepatan masyarakat dalam membangun logika berpikir yang logis, ilmiah, runut dan terstruktur. Budaya membaca yang lemah ditambah dengan kebiasaan alam bawah sadar untuk “bergosip ria” serta lemahnya filter diri terhadap derasnya informasi, membuat banyak dari masyarakat yang cepat percaya pada berita yang belum terbukti kebenarannya.
            Fakta ini kemudian tambah diperparah dengan media massa yang abai terhadap etika jurnalistik, baik media massa besar maupun media kecil-kecilan yang tumbuh bak jamur di musim hujan dengan mudahnya membuat website di internet. Informasi yang seharusnya ditampilkan secara utuh dan jernih dipaksa untuk dipotong, ditambahi, dikurangi, diberi bumbu, dan semacamnya hanya untuk kepentingan pemilik media, entah pendanaan, alasan ideologis, atau hanay sekedar media tersebut laris dibaca oleh masyarakat. Abainya media hari ini bisa dilihat dari banyaknya berita yang antara judul dan isinya tidak sesuai, menggunakan identitas anonym sekenanya tanpa bisa dipertanggungjawabkan, merekayasa sebuah data, fakta bahkan sebuah kejadian baik secara halus maupun terang-terangan, tidak cover both side atau berat sebelah, dan masih banyak lagi.
            Dampak dari hal-hal diatas sangat besar kaitannya dengan kedewasaan kita dalam mengelola informasi yang kita terima. Secara tidak sadar, media massa menuntun kita untuk membiasakan diri dengan tuduhan-tuduhan yang sifatnya subversif. Dengan dalih memberantas ancaman terhadap Negara, secara serampangan banyak media massa yang berhaluan sekuler memberi label “teroris” kepada Islam dan aktivis muslim khusunya. Demikian pula sebaliknya, menghadapi perlakuan seperti itu, banyak media “Islam” yang secara serampangan pula menggunakan pola subversif kepada yang tidak sependapat dengan bahasa yang keras seperti “kafir”,”thagut”,”bid’ah”, dan ungkapan lainnya yang sejatinya belum bisa diterima publik yang awam pengetahuan agamanya. Sehingga muncul sebuah konflik horizontal yang sebenarnya bisa dihindari antar media massa karena sensivitas isu terhadap Islam itu sendiri.
Membangun Budaya Membaca dan Berpikir, Mencegah Pola Berpikir Subversif
            Jika kita mau untuk berpikir lebih jauh, tuduhan-tuduhan subversif seperti itu sebenarnya bisa dicegah dengan membangun konstruksi berpikir yang logis dan ilmiah. hal ini bisa dimulai dengan membangun kebiasaan membaca, berpikir, berdiskusi dan menulis. Kita yang mempunyai nurani dan pikiran yang jernih akan berpikir “apakah benar mereka seperti apa yang dituduhkan? Bagaimana sih sebenarnya pola pikir mereka, benarkah seperti itu? Apa yang membangun pola berpikir mereka?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan mengantarkan kita pada pencarian asal atau dasar dari gagasan-gagasan dari mereka yang tertuduh secara subversif tersebut. Benarkah kelompok A teroris? Bacalah buku-buku atau tulisan yang menjadi kerangka berpikir mereka. apakah benar aliran B sesat? Baca, kenali, pahami. Tidak hanya dari satu sumber, namun dari berbagai macam sumber. Misal, untuk memahami pola berpikir kelompok A tentunya dimulai dengan tulisan-tulisan dan bacaan yang menyusun konstruksi berpikir kelompok A sebagai sumber primer. kemudian membaca pembandingnya. Tentunya kita juga harus memiliki metode berpikir yang logis dan ilmiah serta konsisten untuk menilai mana informasi yang benar.
Kebiasaan asal tuduh ini juga tumbuh dari budaya yang secara tidak sadar menjadi budaya bangsa kita yaitu selalu ingin sesuatu yang instan. Derasnya arus informasi membuat kita dengan mudah menelan mentah-mentah setiap berita yang kita baca dan dengar. Padahal, jika kita menelusuri fakta dan kenyataannya, tidak semua yang dituduhkan benar adanya. Penggunaan social media yang tidak tepat juga memunculkan budaya baru yang tidak baik yaitu fenomena Clicking Monkey, yaitu asal meng-share berita secara serampangan tanpa meneliti atau mengklarifikasi berita tersebut dan juga #GenerasiPembacaJudul yang hanya membaca judulnya saja tanpa melihat isi dari berita.
Menuju Masyarakat Sadar dan Cerdas Informasi

            Sejatinya, kemudahan kita dalam mengakses informasi bisa menjadi keuntungan dan nilai positif apabila kita bisa membangun konstruksi berpikir yang utuh, logis dan konsisten ditandai dengan kritisnya kita terhadap informasi yang datang dan kemampuan memfilter informasi dengan baik. Informasi menjadi pedang bermata dua, bisa menjadi senjata ampuh kala kita bisa mengelolanya dengan baik, namun bisa membunuh kita kala kita masih tersangkut dalam pola berpikir subversif dan tidak membangun budaya membaca dan berpikir. “Terorisme” Media Massa bisa disembuhkan dengan komitmen penuh media massa untuk mematuhi etika-etika jurnalistik, dan kesadaran kita dan kecerdasan kita dalam memahami media dan informasi. Kecerdasan mengelola informasi ini bisa juga kita jadikan sebagai ukuran seberapa meratakah pengetahuan dan ilmu yang ada di masyarakat? Sebarapa bermanfaatkah ilmu dan pengetahuan yang ada sehingga masyrakat menjadikan pola berpikir logis dan ilmiah menjadi karakter diri? Inilah yang menjadi PR bangsa kita, ditengah euphoria terbuka lebarnya akses informasi dan kebebasan berpendapat. Jangan sampai, kebebasan berpendapat memunculkan pola berpikir asal tuduh menuduh sehingga membuat kita sesama bangsa saling curiga. Tumbuhkan budaya membaca, diskusi dan menulis agar kita memiliki filter informasi yang baik. Terakhir, yang harus kita pahami adalah, kita bisa bersepakat atau tidak bersepakat atas sebuah gagasan, namun lawanlah dengan gagasan juga, bukan dengan tuduhan. Lawanlah ide dengan ide, bukan dengan adu fisik. Karena peradaban yang besar, lahir dari penghargaan yang baik terhadap ilmu dan gagasan. Tentunya kita ingin bangsa kita menjadi bangsa yang besar dan beradab juga bukan?

Azka Hasyami, Yogyakarta, 12 April 2015.

sudah dipublikasikan di https://melimove.wordpress.com/

SHOUKOKU NO ALTAIR BELAJAR POLITIK DARI KOMIK

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata “politik”? mungkin mayoritas dari kalian akan berkata “ah ribet!”,”politik itu rumit”, “politik itu penuh tipu daya” dan semacamnya. Namun bagaimana jika kita bisa belajar tentang politik, mengelola sebuah Negara, menyusun siasat cerdas, sekaligus mempelajari model sejarah dan budaya kerajaan besar di masa lalu dalam sebuah ilustrasi sederhana bernama komik? Mungkin itulah yang mendasari karya seorang komikus bernama Kotono Kato.
            Shoukoku No Altair[1] bercerita tentang seorang Pasha[2] termuda dalam sejarah Turkiye[3]  bernama Tughril Mahmud. Tujuan awal Mahmud menjadi Pasha agar dapat menciptakan kedamaian dan kemakmuran di Turkiye. Tujuan terseut dilatarbelakangi oleh masa lalunya dimana seluruh penduduk desanya habis terbunuh dalam suatu perang. Namun ternyata di awal menjadi Pasha, Mahmud langsung dihadapkan dengan persoalan politik yang pelik, yaitu tuduhan pembunuhan  terhadap Menteri Balt-Rhain[4] dan Pemberontakan di Kota Hisar dimana salah seorang teman baik Mahmud, menjadi tersangka kasus ini. Dengan idealisme yang dimiliki, Mahmud berhasil menyelesaikan semua konflik tersebut. Setelah ditelusuri, semua kejadian tersebut ternyata didalangi oleh Perdana Menteri Balt-Rhain Virginia Louis, yang kemudian menjadi musuh utama dalam cerita ini dengan kecerdasannya. Kejadian itulah mengawali perang besar yang sedang menanti dunia dan Mahmud tentunya.
            Komik ini diterbitkan oleh Level Comic, yang memiliki segmen pembaca Dewasa (yang artinya agak tidak direkomendasi untuk anak kecil) Komik ini menarik untuk dibaca, terutama remaja yang ingin melihat sisi lain dari sebuah konflik politik dan kekuasaan. Meskipun mengambil latar sejarah Perang Salib, Kotono Kato dengan cerdas menghindari isu sensitif terkait agama dan kepercayaan. Beliau menggunakan cara dengan mengganti kepercayaan yang ada di komik ini dengan kepercayaan terhadap alam, Misal Turkiye yang memiliki latar belakang Islam diubah menjadi kepercayaan terhadap dewa Air. Selain itu, Kato juga menggambarkan sosok seorang Tughril Mahmud yang mempunyai idealisme berpolitik yang harus berbenturan dengan realitas dunia politik di Divan[5] yang penuh intrik. Usianya yang masih muda kadang menjadikan Mahmud seperti “kekanak-kanakan”,”terlalu idealis dan melangit”,”awam dan tidak realistis” dan semacamnya yang jamak terjadi di perpolitikan negeri kita.
            Dirangkai menjadi sebuah cerita dengan alur menarik, Shoukoku No Altair tidak hanya menjadi sebuah komik yang menghibur namun juga kita dapat belajar bagaimana membuat sebuah rekayasa politik, pengambilan keputusan seorang pemimpin, geopolitik internasional, kepercayaan dan sebagainya. Meskipun memiliki sedikit kekurangan seperti gambar yang masih cenderung kurang begitu baik dan jadwal terbit yang belum teratur, komik ini sangat direkomendasi untukmu yang lebih suka membaca komik daripada buku-buku politik yang “berat” namun juga mendapatkan pengetahuan yang penting. Jadi, kata siapa belajar politik itu berat? Yuk belajar politik melalui komik!

Azka Hasyami
Yogyakarta, 06 Maret 2015
11.31 AM

sudah dipublikasikan di https://melimove.wordpress.com/


[1] versi Indonesia berjudul Altair : Tale of The Great War
[2] semacam anggota dewan dalam struktur pemerintahan Khilafah Ottoman
[3] nama pemerintahan Kekhilafahan Turki Ottoman dalam cerita ini
[4] nama pemerintahan Byzantium dalam cerita ini, kerajaan yang berseteru dengan Turkiye dan berambisi menginvasi Turkiye dan seluruh daratan
[5] nama lain Dewan di Turkiye

REFLEKSI KEBERAGAMAAN KITA HARI INI


          Menarik melihat timeline social media beberapa hari ini. Selain ghirah menyambut bulan suci Ramadhan, banyak dari kita diributkan dengan parade pernyataan-pernyataan multitafsir yang diucapkan oleh para pemimpin kita. Mulai dari masalah membaca Al Qur’an menggunakan langgam Jawa, buka-tutup tempat makan selama bulan Ramadhan, hingga masalah pemutaran bacaan tilawah Al Qur’an menggunakan kaset. Beberapa isu menjadi hal “baru” dan menjadi perdebatan ketika umat muslim di Indonesia sedang dalam momentum untuk bersatu ketika isu hari awal bulan Ramadhan akan sama antara dua pihak yang selama ini berbeda. Kenapa perdebatan ini membuat saya tertarik? Karena ada sebuah fenomena masyarakat Indonesia dalam menyikapi segala hal dalam urusan agama yang sering tidak disadari.

            Dulu, waktu awal menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas terkenal di Yogyakarta, saya  sering bertanya-tanya tentang sebuah fenomena keberagamaan di kampong halaman saya. Sudah menjadi sebuah hal yang jamak terlihat di sebuah wilayah yang kultur Nahdliyin (masyarakat yang menggunakan budaya Nahdlatul Ulama sebagai basis budaya dalam beragama) terutama yang ada di Jawa dalam setiap jeda antara adzan dan iqamah ada puji-pujian (biasanya tentang sifat-sifat Allah, asmaul husna, ajakan untuk sholat di masjid, sholawat, dll). Hal ini menjadi tidak biasa setiap pulang ke rumah karena saya yang besar di Jakarta dan kemudian pindah kuliah di Yogyakarta, dimana setiap jeda antara adzan dan iqamah selalu hening atau diisi dengan dzikir atau membaca Al Qur’an secara sihr (pelan suaranya), atau sholat sunnah qobliyah. Mungkin ini menjadi kultur yang ada di Yogyakarta yang lebih kuat budaya Muhammadiyahnya (atau Salafi di beberpa masjid dekat kampus). Karena ketidakbiasaan dan ketidakpahaman saya akan hal ini, terbersit pikiran bahwa ini adalah sesuatu yang salah (dulu memang masih awam dan belum tau ilmunya). Setelah saya menjadi santri di sebuah pesantren mahasiswa di daerah Seturan, saya kemudian mendapatkan penjelasan terkait hal tersebut. Bahwa budaya yang sudah terbentuk di masyarakat, selama itu tidak bertentangan dalam hal aqidah, walaupun tidak ada di zaman Rasulullah, sebenarnya bisa diterima sebagai budaya Islam dan bisa menjadi salah satu sarana dakwah kepada masyarakat awam. Bahkan diceritakan, bahwa ada salah satu Kiai di sebuah pesantren di Jawa Timur mengharamkan untuk puji-pujian di lingkungan pesantren kepada santri-santrinya, namun beliau sendiri melakukan puji-pujian ketika berdakwah ke kampung-kampung. Alasannya? Karena memang budaya dan tingkat pemahaman dari masyarakat memang masih membutuhkan hal tersebut. Dari hal tersebutlah saya mengambil kesimpulan, bahwa sejatinya Islam itu memberikan ruang yang sangat luas dan tidak saklek dalam hal budaya dan tradisi di masyarakat dalam tinjauan fiqh, dengan catatan tidak menyentuh hal-hal yang sifatnya aqidah dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an (contoh zina, khamr, dll).

            Menjadi menarik kemudian jika kita tarik dalam perdebatan beberapa hari ini. Misal terkait dengan pembacaan tilawah Al Qur’an dengan menggunakan kaset. Husnudzan saya, yang kemudian membudayakan ini punya niatan untuk membudayakan dan membiasakan orang untuk mendengarkan ayat-ayat suci Al Qur’an, ditengah sebuah fakta bahwa tidak semua masjid atau mushala punya qari atau pembaca Al Qur’an yang mumpuni. Artinya, ini sebuah produk budaya yang punya nilai kebaikan, dan hadir karena dianggap menjadi sebuah solusi dari permasalahan yang ada. Sebuah ikhtiar dakwah yang kemudian menjadi budaya di masyarakat sekitar kita. Sama halnya dengan puji-pujian diantara adzan dan iqamah. Namun kemudian menjadi pelik dan berujung pada perdebatan, ketika banyak yang kemudian mulai berbicara tanpa menempatkan permasalahan pada tempatnya. Hal ini kemudian menjadi fenomena yang tidak kita sadari menjadi refleksi keberagamaan kita.

Pertama, sangat sering kali kita berbicara tanpa mengetahui ilmunya. Perdebatan yang hadir sebenarnya bisa menjadi sebuah diskusi ilmu biasa jika kita mengetahui ilmu-ilmu agama untuk menelaah tentang hal tersebut. Ada Ushul Fiqh, Fiqh bermasyarakat, Fiqh Prioritas, dll. Hal ini bisa menjadi biasa jika sedari awal kita paham tentang kondisi dan situasi yang berbeda tentu akan punya perlakuan dan kebijakan yang berbeda pula. Penting juga untuk kita mengetahui hukum awal dari masing-masing masalah tersebut. Kita berdebat panjang tentang jumlah rakaat tarawih, padahal sedari awal hukum shalat tarawih itu Sunnah. Kita bertengkar untuk suatu urusan yang sebenarnya kita diperbolehkan berbeda untuk urusan tersebut. Yang cukup sering juga adalah perdebatan tentang toleransi beragama. Ketidakpahaan yang seringkali terjadi, Islam dan Muslim seringkali disalahkan tentang toleransi bahkan oleh sebagian umat muslim sendiri, padahal Islam sudah mempunyai batasan yang jelas terkait toleransi. Dan seringnya, ketidakpahaman dan ketidakmauan untuk mencari tahu menyebabkan kita mengambil kesimpulan sendiri yang kemudian menjadi kontroversi, yang sebenarnya sudah selesai dibahas dan tidak perlu menjadi masalah jika kita meluangkan sedikit waktu untuk mencari tahu. Sebab sejatinya, Islam sendiri punya metode konstruksi berpikir yang jelas yaitu ushul fiqh dan penjagaan periwayatan hadits.

            Kedua, sering kali kita mengambil sebuah keputusan atau pilihan dari sebuah permasalahan terutama terkait dengan agama bukan karena kita paham hukum dan permasalahannya, namun lebih karena egoisme atau kepentingan baik pribadi, kelompok maupun golongan. Contoh yang paling baru adalah, ketika adanya gerakan #AyoMondok. Gerakan ini sebenarnya baik dan bagus, yaitu mengajak masyarakat untuk kemudian kembali ke pesantren dalam menimba ilmu agama, namun kemudian menjadi kabur maknanya ketika sebagian oknum menggunakan kampanye tersebut untuk menjatuhkan gerakan atau kelompok lain yang tidak segolongan.

            Hal ini kemudian menjadi sebuah refleksi besar hari ini, terutama saat kita akan menyambut bulan Ramadhan. Sudahkah kita benar-benar “bersuci”? sudah benarkah niat kita dalam beribadah, beramal, dan berdakwah? Sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan apa yang digariskan? Sudah sejauh mana ilmu dan pemahaman kita terhadap agama yang kita anut sendiri? Jangan-jangan, selama ini kita sudah mengambil kesimpulan atas sebuah permasalahan tanpa mengetahui ilmunya?

Ilmu, sedemikian pentingnya hingga ayat pertama yang Allah turunkan bukanlah menyuruh kita untuk segera bertauhid, namun membaca, memahami, baru kemudian tunduk pada Allah dan aturan-aturanNya. Sedemikian pentingnya, sehingga dalam hadits dikatakan seorang yang berilmu lebih baik daripada seorang yang banyak ibadahnya namun tanpa ilmu. Sedemikian pentingnya sehingga perlu digariskan “al ilmu qobla amal”, berilmu sebelum beramal. Maka menjadi sebuah hal penting yang harus diprioritaskan terutama menyambut bulan suci Ramadhan ini, untuk kemudian mencari ilmu sebanyak-banyaknya terutama ilmu tentang Islam, agar kemudian kita tidak gagap dalam melihat, menganalisis dan mengambil pilihan atas fenomena-fenomena yang hadir di masyarakat. Agar kemudian kita tidak asal tolak dan asal terima pendapat yang berkeliaran. Mengutip pendapat ustadz di asrama “tempatkanlah ilmu diatas ilmu, bukan diatas kelompok” agar kita bisa objektif memandang sebuah permasalahan. Jadi, yuk jangan malas mencari ilmu tentang Islam!!

Azka Hasyami
Yogyakarta, 12 Juni 2015