Selasa, 08 April 2014
Pilih Partai Apa Enaknya??? :D
Teman (T) : Fal, besok tanggal 9 April nyoblos ga??
Gue (G) : nyoblos lah, sayang banget gitu kalo golput, kan pemerintah udah keluar uang banyak buat pemilu, dari duit kita2 juga, mubazir dong kalo disia-siakan? lagian menurut gue ini salah satu ikhtiar kita untuk memperbaiki negeri ini :D
T : ah yakin lu? menurut gue ga ada bedanya, toh yang kepilih sama aja, korup-korup juga
G : hehe gue sih yakin Allah ga mungkin ngasi negara isinya orang buruk semua. pasti ada orang-orang baik yang mau merubah negeri ini. nah tugas gue adalah mencoba mendorong orang-orang baik untuk mengelola negeri ini menjadi negara yang adil dan sejahtera dengan cara memilihnya :)
T : tapi kan kata beberapa orang demokrasi haram bro?
G : wkwkwk, yo monggo kalo nganggep demokrasi haram. gue selalu bilang, gue akan sangat setuju kalo ada sistem yang lebih baik dari demokrasi. saya selalu mengatakan, yuk kalian buat, nanti pasti ikut deh kalo bener2 ada dan teruji, tapi kalo belum ada dan kemampuan kita belum sanggup buat yg kayak gitu, minimal yang bisa kita lakukan adalah menjaga kebaikan tetap ada di dunia yang bergetah ini. "menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan"
T : wah iya juga ya, betewe emang lu milih partai apa fal?
G : gue... milih partainya "bunga" aja deh :D
T : he? bunga itu siapa? dia milih partai apa?
G : hehehehe... kepo beud deh :v
T : ah ga jelas lu mah, serius gue nih, gue bingung mau milih siapa dan partai apa. bantuin gue kek, daripada gue golput? :p
G : hehehe, bro, ini udah zaman socmed. bisalah kita2 nyari di gugel tentang track record partai en caleg. data nama caleg juga ada di kpu.or.id . kalo mau kritis, cek juga sekalian platform atau gagasan dia untuk Indonesia ke depannya, kinerja dalam pemerintahan selama ini seperti apa, kinerja di masyarakat kayak gimana, tingkat korupsinya berapa, prestasi orang-orangnya kayak gimana
T : wah ribet juga ya, kalo sederhananya gimana?
G : kalo gue sih punya beberapa kriteria
- Partai yang korupsinya paling dikit, pengen ga ada korupsi? suruh aja malaikat nyaleg :D, gue sih berpendapat mending pilih partai yang punya sistem pencegahan korupsi paling baik, dilihat dari berapa lama dia ada di pemerintahan, berapa total jumlah alegnya dan berapa jumlah aleg yang terkena korupsi. lebih bagus lagi jika partai tersebut punya sistem pendidikan moral bagi kadernya
- Partai yang punya kaderisasi baik. artinya kadernya nyata ada. bahkan bagusnya kalo kadernya itu bener-bener terdidik atau mayoritas dari generasi terpelajar.
- partai yang peduli ga cuma peduli kalo ada pemilu, partai yang selalu hadir dalam setiap suka dan duka masyarakat, partai yang selalu sigap ketika ada bencana
- Partai yang peduli sama masa depan bangsa, dilihat dari apakah sistem kaderisasi nya termasuk pendidikan moral keagamaan, ga cuma pendidikan politik aja
- Partai yang kadernya punya banyak prestasi positif, entah alegnya entah gubernurnya :)
intinya adalah partai yang tak lelah bekerja untuk Indonesia :D
T : wah banyak juga ya, tapi kalo itu cuma pencitraan aja gimana fal? misalnya bantuin bencana supaya orang2 pilih partai itu?
G : buat gue sih, yang namanya pencitraan itu wajar. lu juga kalo suka cewe pasti bakalan memperbaiki citra toh? hehe. tapi yang patut diingat adalah, apakah citra itu selaras dengan kerja-kerja nyatanya? apakah dibalik citra yang dibangun ada kebermanfaatan yang besar untuk Indonesia? :D
T : wah iya juga ya, tapi emang beneran ada partai kayak gitu?
G : menurut gue sih ada, ini bukan negeri dongeng ko.asal kita mau aktif mencari tau. dan kita cover both sides ga cuma tau dri media, kepo dong ah :D
T : kalo gue ga memilih partai itu gimana fal
G : ga masalah, asal lu tetep memilih yang benar-benar membawa kebaikan bagi bangsa ini. patut dilihat juga rekam jejak parpolnya karena dalam legislatif, dalam pengambilan keputusan itu berdasarkan parpol jug. intinya, jangan golput!! :D
T : eh kalo capres lu pilih siapa fal
G : gue sih sukanya #TurunTangan bersama #GenAMPM :D
#pagi #atdjak
Senin, 07 April 2014
#TentangKita :D
ini hari-hari yang tidak akan kita lupakan
ini hari-hari yang akan kita rindukan
ketika kita menari di bawah hujan
ketika dinginnya air tergantikan oleh kehangatan ukhuwah dan keceriaan
ketika orang lain memilih jalan mengancam
kami memilih berbagi senyum salam sapa
sebab hanya cinta yang kan membuka tautan hati dalam dada
maafkan jika kami ada salah yang membentuk titik noda
sebab kita tahu bahwa kita manusia
hanya saja kita kan selalu bertekad menjadi generasi yang selalu memperbaiki diri
ini ikhtiar duniawi kami, mungkin kan dilanjut di ikhtiar ruhiyah kami
maafkan kami yang tak sempurna, karena sejarah mengajarkan bahwa kita adalah generasi pembelajar, perbaikan adalah jalan cinta kami
ingatlah kembali apa yang menyatukan kita
apa yang menjadi nilai prjuangan kita
tak usah kau dengarkan orang-orang yang ribut tapi diam geraknya
sebab cinta hanya dibuktikan dengan kerja
sebab harmoni mustahil tercapai dengan berpangku tangan
mungkin diantara riuh rendah keceriaan di tengah rintik hujan lah
ada satu dua doa yang terkabulkan demi apa yang kita cita-citakan
ini hari-hari yang akan kita rindukan
ketika kita menari di bawah hujan
ketika dinginnya air tergantikan oleh kehangatan ukhuwah dan keceriaan
ketika orang lain memilih jalan mengancam
kami memilih berbagi senyum salam sapa
sebab hanya cinta yang kan membuka tautan hati dalam dada
maafkan jika kami ada salah yang membentuk titik noda
sebab kita tahu bahwa kita manusia
hanya saja kita kan selalu bertekad menjadi generasi yang selalu memperbaiki diri
ini ikhtiar duniawi kami, mungkin kan dilanjut di ikhtiar ruhiyah kami
maafkan kami yang tak sempurna, karena sejarah mengajarkan bahwa kita adalah generasi pembelajar, perbaikan adalah jalan cinta kami
ingatlah kembali apa yang menyatukan kita
apa yang menjadi nilai prjuangan kita
tak usah kau dengarkan orang-orang yang ribut tapi diam geraknya
sebab cinta hanya dibuktikan dengan kerja
sebab harmoni mustahil tercapai dengan berpangku tangan
mungkin diantara riuh rendah keceriaan di tengah rintik hujan lah
ada satu dua doa yang terkabulkan demi apa yang kita cita-citakan
Golput? Yakin?
perdebatan
tentang kata itu terus saja berlangsung, baik yang memakai alasan
kekecewaan terhadap pemerintah yang ada sekarang, bingung ga kenal
dengan calon-calonnya ataupun alasan-alasan lain entah rasional entah
tidak, bahkan ada yang dengan alasan ideologis keagamaan bahwa sistem
demokrasi itu haram dan bertentangan dengan aqidah Islam (entah ini
kesimpulan darimana, saya bolak-balik beberapa kitab aqidah dan dapet kajian wajib aqidah tiap senin pagi ga nemu bab sistem pemerintahan itu masuk aqidah)
entah dengan alasan apapun, itu pendapat masing-masing, itu pilihan masing-masing. dan UUD 1945 sudah jelas melindungi yang namanya kebebasan berpendapat bahkan ketika pendapatnya menentang kebebasan berpendapat sekalipun. hanya saja, yang saya ingin rekan-rekan ketahui, bahwa dengan angka golput berapapun hasil pemilu tetap sah. dan tahukah kawan? mungkin anda tidak merasakannya secara langsung, tapi setiap kebijakan publik lahir dari keputusan-keputusan politik yang lahir dari orang-orang yang kita pilih (atau tidak kita pilih kalo anda memutuskan golput). pendidikan bisa mahal/murah atau bahkan gratis, harga sembako bisa stabil murah, pelayanan masyarakat baik, dll itu semua lahir dari keputusan politik mereka yang terpilih. maka bagi saya pribadi, jika anda kecewa dengan pemerintahan yang sekarang, hukumlah orang-orang yang bikin kecewa dengan tidak memilihnya dan pilih orang yang merepresentasikan keinginan anda. bahkan kalo perlu buat kontrak sosial dengan dia tentang apa yang kalian ingin dia lakukan ketika sudah terpilih. ga kenal calonnya? kepo dong ah, sekarang kan jamannya socmed, udah banyak juga politisi yang punya FB/Twitter
tapi kalo kalian ga merasa terganggu dengan harga kuliah mahal, harga sembako melangit (yang berimbas ke harga burjo melangit juga ), pelayanan masyarakat yang bisa disuap dan main tipu2, dll karena iu ga mengganggu kepentingan pribadi anda atau anda lebih suka mengkritik dan mencaci tanpa keinginan berkontribusi lebih jauh merubah pemerintahan kita, monggo, silahkan, itu juga pilihan anda. dan ingat setiap pilihan kita punya pertanggung jawabannya
ah, terkait demokrasi yang dianggap sebagian orang kufur, haram, thagut dan kata2 lainnya, saya sangat senang sekali jika memang ada sistem pemerintahan yang bisa lebih baik dan lebih cepat mengantarkan masyarakat Indonesia dalam cita2 keadilan dan kesejahteraannya (salah satu fungsi kenapa kita membentuk sebuah negara). ya silahkan segera dirikan sistem pemerintahan baru itu entah dalam nama khilafah atau semacamnya dan dengan mekanisme pemilihan pemimpin yang ga haram, kufur, thagut, dll.
tapi buat saya, "lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". jika ide yang terlalu idealis itu memang kita belum sanggup melakukannya maka lebih baik mulai perbaikan dari hal yang kita anggap kecil, karena ga ada rumah yang langsung jadi tanpa kita menyusun bata-bata terlebih dahulu. karena sebuah peradaban besar itu disusun oleh kepingan sejarah-sejarah kecil-kecil tapi bermakna besar.
mengutip perkataan salah seorang yang menginspirasi saya dengan pemikirannya, Anis Matta Lc. "yang kita butuhkan itu bukan seorang satrio piningit. tapi yang kita butuhkan adalah orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan luar biasa dengan cara yang tidak biasa. yang kita butuhkan adalah tim untuk memajukan Indonesia!!"
ingat pemilu 9 April dan jangan Golput!!
entah dengan alasan apapun, itu pendapat masing-masing, itu pilihan masing-masing. dan UUD 1945 sudah jelas melindungi yang namanya kebebasan berpendapat bahkan ketika pendapatnya menentang kebebasan berpendapat sekalipun. hanya saja, yang saya ingin rekan-rekan ketahui, bahwa dengan angka golput berapapun hasil pemilu tetap sah. dan tahukah kawan? mungkin anda tidak merasakannya secara langsung, tapi setiap kebijakan publik lahir dari keputusan-keputusan politik yang lahir dari orang-orang yang kita pilih (atau tidak kita pilih kalo anda memutuskan golput). pendidikan bisa mahal/murah atau bahkan gratis, harga sembako bisa stabil murah, pelayanan masyarakat baik, dll itu semua lahir dari keputusan politik mereka yang terpilih. maka bagi saya pribadi, jika anda kecewa dengan pemerintahan yang sekarang, hukumlah orang-orang yang bikin kecewa dengan tidak memilihnya dan pilih orang yang merepresentasikan keinginan anda. bahkan kalo perlu buat kontrak sosial dengan dia tentang apa yang kalian ingin dia lakukan ketika sudah terpilih. ga kenal calonnya? kepo dong ah, sekarang kan jamannya socmed, udah banyak juga politisi yang punya FB/Twitter
tapi kalo kalian ga merasa terganggu dengan harga kuliah mahal, harga sembako melangit (yang berimbas ke harga burjo melangit juga ), pelayanan masyarakat yang bisa disuap dan main tipu2, dll karena iu ga mengganggu kepentingan pribadi anda atau anda lebih suka mengkritik dan mencaci tanpa keinginan berkontribusi lebih jauh merubah pemerintahan kita, monggo, silahkan, itu juga pilihan anda. dan ingat setiap pilihan kita punya pertanggung jawabannya
ah, terkait demokrasi yang dianggap sebagian orang kufur, haram, thagut dan kata2 lainnya, saya sangat senang sekali jika memang ada sistem pemerintahan yang bisa lebih baik dan lebih cepat mengantarkan masyarakat Indonesia dalam cita2 keadilan dan kesejahteraannya (salah satu fungsi kenapa kita membentuk sebuah negara). ya silahkan segera dirikan sistem pemerintahan baru itu entah dalam nama khilafah atau semacamnya dan dengan mekanisme pemilihan pemimpin yang ga haram, kufur, thagut, dll.
tapi buat saya, "lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". jika ide yang terlalu idealis itu memang kita belum sanggup melakukannya maka lebih baik mulai perbaikan dari hal yang kita anggap kecil, karena ga ada rumah yang langsung jadi tanpa kita menyusun bata-bata terlebih dahulu. karena sebuah peradaban besar itu disusun oleh kepingan sejarah-sejarah kecil-kecil tapi bermakna besar.
mengutip perkataan salah seorang yang menginspirasi saya dengan pemikirannya, Anis Matta Lc. "yang kita butuhkan itu bukan seorang satrio piningit. tapi yang kita butuhkan adalah orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan luar biasa dengan cara yang tidak biasa. yang kita butuhkan adalah tim untuk memajukan Indonesia!!"
ingat pemilu 9 April dan jangan Golput!!
Media? Netral? Independensi? Golput?
beberapa hari yang lalu, ada sebuah diskusi menarik terkait peran media dalam mempengaruhi partisipasi dan pilihan politik. misalkan ada orang jahat dan orang baik. keduanya berkontestasi dalam pemilu. karena orang jahat ini punya media atau di dukung oleh media, mudah baginya untuk membentuk citra baik untuk dirinya dan memburukkan citra lawan yang orang baik tersebut. orang jahat ini biasanya akan dicitrakan tidak ambisius mengejar jabatan, tapi sejatinya dialah yang paling mengejar jabatan itu. dengan cara apa? buat orang jahat ini, untuk meraih simpati orang awam pedesaan dengan tingkat pendidikan dan rasionalitas rendah, mudah saja menggunakan politik uang dan kekuasaan. toh media-media yang pro orang jahat tersebut tidak akan memberitakan keburukannya. dan orang-orng awam rata-rata percaya saja dengan framming media tersebut. untuk masyarakat perkotaan dengan tingkat rasionalitas tinggi, mereka digiring untuk tidak percaya pada pemerintah dan tidak percaya partisipasi pemilu dan politik dapat mengubah keadaan. massa kritis ini akan diarahkan untuk golput dan tidak percaya bahwa masih ada orang baik yang ingin mengubah pemerintahan. bahkan kalau perlu dihadirkan dalil-dalil keagamaan tentang sistem yang tidak baik, kafir, thagut dan sebagainya. untuk yang bisa dipengaruhi media biasanya akan diarahkan sama dengan kondisi awal untuk memilih orang jahat yang sudah dicitrakan baik oleh media ini.
lalu bagaimana dengan orang baik itu? sayangnya orang-orang baik ini bukan penguasa media, sehingga kebaikan yang dibawanya atau kerja-kerja kebaikan yang dicapainya tidak terekspos. bahkan salah sedikit saja akan langsung dihujat habis-habisan bagaikan kejahatan tingkat tinggi. orang baik ini, bisa sangat mudah menjadi sasaran citra buruk dari media-media yang sudah pro orang jahat tadi. kalo tidak ditemukan kelemahannya, maka dibuatlah fitnah-fitnah untuk melemahkan orang-orang baik ini. toh masyarakat rata-rata percaya-percaya saja dengan framming media. di basis pedesaan, orang-orang baik ini ga mungkin mengambil jalan politik uang dan kekuasaan, dan biasanya di adu domba dengan isu-isu sensitif keagamaan. di masyarakat perkotaan yang rasional, basis massa mereka diarahkan untuk golput dan tidak memilih mereka. dan seringkali mereka dituduh ambisius mengejar jabatan karena aktif mengajak orang-orang memilih, karena mereka sadar bahwa kehadiran mereka penting untuk mencegah banyaknya orang jahat memimpin negeri ini. bahkan seringkali pula diantara orang baik ini diadu domba agar bertengkar sesamanya atau dengan yang sudah terframming media untuk golput entah dengan alasan keagamaan atau alasan tidak percaya dengan orang-orang baik ini.
jadi, framming media itu bisa merubah orang jahat yang sangat ambisius menjadi tidak ambisius dengan bahasa-bahasa populis semacam "netralitas","independensi',"g
begitu juga sebaliknya, framming media bisa membuat orang-orang baik yang sebenarnya ikhlas berjuang untuk memperbaiki negeri ini dicitrakan sebagai orang-orang haus kekuasaan, ambisius, kalau perlu difitnah dengan isu-isu sensitif seperti korupsi, teroris, intoleran, dan dengan dalil-dalil keagamaan "ahlut thagut, ahlul bid'ah", dll. tidak percaya? well bukankah sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang baik yang mencoba memperbaiki negeri ini lewat jalur apapun terutama ekonomi dan politik diperlakukan??
dan yang paling penting adalah, anda hendak berdiri dimana?
itu pilihan anda masing-masing. tapi saya selalu yakin "menyalakan lilin lebih baik daripada mengutuk kegelapan", dan "sebuah peradaban besar itu dibangun oleh potongan sejarah-sejarah kecil namun bermakna"
so, bijaklah dengan pilihanmu, karena setiap pilihanmu punya pertanggung jawabannya nanti!!
Langganan:
Postingan (Atom)



