Rabu, 29 Juli 2015

#CurhatSantai #TapiGaje #KaloGaSukaAbaikanAja

Sebelum anda membaca, saya sampaikan bahwa kata-kata saya selanjutnya mungkin akan "kasar", jadi, kalo ga suka, saya minta maaf

Akhir-akhir ini, seiring dengan bertambah umurnya saya (dan juga bertambah umur akademik di kampus, ehm), saya sedikit banyak mulai bersentuhan dengan "realita". Saya benar-benar sampai pada titik refleksi kehidupan dimana kesimpulan yang saya dapat adalah, dunia tidak se"hitam-putih" yang saya pikirkan.

Dari semenjak SMA, saya udah banyak ikut berbagai macam organisasi yang tentunya selalu menanamkan nilai-nilai idealisme, terutama masalah yang berkaitan dengan keimanan dan moral. Tapi rasanya akhir-akhir ini saya ingin menertawakan diri sendiri.

Perjalanan hidup saya mengantarkan saya pada pertemuan berbagai macam warna manusia. Dulu, pemikiran saya sederhana, kamu jahat, atau ya kamu baik. Tapi semakin kesini hidup ini semakin unik. Saya bertemu dengan orang yang benar-benar baik tanpa pamrih, orang baik, orang "baik", orang baik yang terpaksa berbuat sesuatu yang jahat, orang jahat yang "terpaksa" berbuat baik, orang baik yang karena dijahatin akhirnya berbalik menjahati, orang baik yang dituduh jahat, orang jahat yang berkamuflase sebagai orang baik, orang jahat yang baik ke saya karena dekat dengan saya atau anggota keluarga saya, dan macam-macam lainnya.

Saya benar-benar menertawai diri saya sendiri. Beberapa kali saya ditolong oleh orang yang secara moral layak dianggap bajingan atau masuk kategori orang jahat. Betapa sering saya harus mendiamkan perbuatan yang sangat bertentangan dengan idealisme saya karena realita kehidupan "memaksa" saya untuk diam.

Ya saya tau itu salah, dan saya ga akan berkelit tentang itu, tapi semakin kesini saya seperti disadarkan tentang realita kehidupan pasca kampus dimana hidup itu seperti "pilihannya cuma apakah kamu dibunuh atau kamu membunuh, apakah kamu yang dicurangi atau kamu yang mencurangi". Memang tidak semua seperti itu. Yg benar-benar baik dan tulus juga ada. Namun banyak yang karena kebaikan dan ketulusannya (atau polos?) menjadi korban dari perbuatan orang licik dan jahat. Seakan-akan idealisme saya ditampar oleh sebuah kata "sudahkah kamu benar-benar mengenalku? (Baca : realita)"

Saya pernah berbincang dengan petugas Lapas di sebuah kota, dia berkata "ga semua yang ditahan disini benar-benar salah, ada yang cuma korban yang tidak tahu apa-apa, dan belum tentu yang bebas diluar sana itu benar dan baik".

Bahkan saya sampai pada sebuah kesimpulan, kadang kita butuh berteman dengan orang "jahat" untuk melindungi diri kita dari orang jahat yang lain, meskipun itu bertentangan dengan idealisme.

Kau bisa bilang saya terkena penyakit "post idealism syndrome" yang sering dituduh menghinggapi mantan aktivis kampus oleh junior-juniornya. Tak masalah. Ini hanya caraku membaca realita kehidupan hari ini.

Azka Hasyami
Tegal, diatas Bis tujuan Tegal-Margasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar