Jumat, 23 Mei 2014

Membaca Peta Pilpres : Edisi Jokowi

menarik menganalisis tentang gabungnya Anies Baswedan ke kubu Jokowi. secara tidak langsung dukungan ini akan menguatkan Jokowi secara suara dan politik.
Pertama, artinya kemungkinan besar Jokowi berhasil mendapatkan suara dari kaum intelektual yang sebelumnya mendukung Anies Baswedan.
Kedua, dengan hadirnya JK sebagai Wapres itu cukup memecah jaringan Golkar yang solid hingga tingkat RT. artinya kekuatan silent majority yang dimiliki Golkar tidak mutlak menjadi kekuatan prabowo saja. bahkan bisa jadi justru kekuatan tersebut ada di tangan Jokowi bukan Prabowo.
Ketiga, Jokowi berhasil menggandeng media-media strategis yang selama ini mencitrakan diri sebagai media "netral" dan "independen" sehingga seakan-akan publisitas yang dicapainya memang hasil kerja atau pandangan dari orang ketiga. lihat mulai dari Tempo, Kompas, detik.com, dan media lain termasuk Metro TV yang dimiliki Surya Paloh selalu menyuarakan hal yang positif dari Jokowi. tapi patut dilihat siapa yang berhasil menarik dukungan Dahlan Iskan, karena media-media yang beliau miliki itu sanggup menembus daerah-daerah minim informasi. hal ini berhasil membuat Jokowi sukses dicitrakan sebagai orang bersih sementara lawan politiknya dihajar dengan masa lalu yang masih menjadi misteri.
Keempat, tidak bisa dipungkiri "Banteng Merah" punya basis massa yang kuat di Jawa. bahkan se anarkis dan tidak mendidiknya kampanye "Banteng Merah" tetep aja mereka jadi partai pemenang pemilu.
Terakhir, Jokowi banyak didukung oleh intelektual kiri dan liberal serta jendral dan intel yang cukup kuat sebagai kekuatan politiknya. misal AM Hendripriyono yang terkenal sebagai orang BIN dan punya track record dalam bidang intelijen.
dengan kondisi seperti itu, artinya kekuatan politik Prabowo cuma pada dukungan kaum Islamis. maka pilpres ini menarik untuk melihat apakah suara ulama masih didengar apa tidak di zaman sekarang

1 komentar: